LDR, Siapa Takut?

Dari dulu, saya paling ogah kalau diajak long distance relationship. Pacaran saja rasanya sudah berat banget, apalagi kalau menikah? Beruntung, sampai detik ini saya dan suami nggak harus menjalani hubungan pernikahan jarak jauh. Sejauh  ini, saya pun baru pernah mengalami ditinggal pasangan dengan jarak yang cukup jauh selama sebulan saat suami saya harus meliput piala dunia di Afrika Selatan beberapa tahun lalu. Selain itu, paling hanya ditinggal 3 hari hingga satu minggu.

Terus terang, saya tipe perempuan yang nggak kuat jauh-jauh dari pasangan. Bukannya ketergantungan, sih, tapi kalau pasangan nggak ada, rasanya nggak enak. Nggak ada teman diskusi, bercanda, adu argumen, dan tentunya nggak ada teman tidur, hihihi.

Saya jadi sempat berpikir, bagaimana, yah, pasangan yang dihadapkan dengan kondisi harus berhubungan jarak jauh. Pasti godaan dan tantangannya cukup berat.

Biar bagaimana, perkawinan jarak jauh ini tentu bukan tanpa risiko. Pasangan yang biasanya bertemu dan komunikasi langsung setiap hari, kini harus terpisahkan oleh jarak. Padahal komunikasi merupakan salah satu faktor yang penting dalam perkawinan, termasuk di dalamnya komunikasi seks.

Selain itu, pasangan suami istri yang menjalankan hubungan jarak jauh, konon lebih rentan terhadap perselingkuhan. Bukan nggak mungkin, lho, akhirnya rasa kesepian menjadikan penyelewengan sebuah hal yang halalkan. Ih, jangan sampai, deh!

Memang, sih, mengingat sekarang ini sudah masa era globalisasi dan teknologi yang kian pesat, rasanya urusan komunikasi sangat mudah. Hal ini pun diamini oleh seksolog dr. Mulyadi Tedjapranata yang mengatakan, “Sebenarnya untuk komunikasi masih tetap bisa berjalan dengan baik, bisa lewat email, telepon bahkan dengan teknologi Skype bisa langsung bertatap muka. Dalam berkomunikasi yang penting adalah kualitasnya, bukan berapa lama dan berapa sering. Selain itu, yang terpenting juga harus ada kesediaan pasangan suami istri untuk mendengarkan dan memahami dari sudut pandang yang berbeda.”

Tapi, meskipun  kita memang hidup di zaman era globalisasi yang membuat teknologi komunikasi sudah sangat memadai, buat saya pribadi perkawinan jarak jauh sangat sulit. Umh, mungkin, jika suatu saat saya dihadapkan pada situasi yang mengharuskan kami menjalani hubungan pernikahan jarak jauh, saya akan membuat daftar plus minusnya terlebih dahulu. Kalau memang lebih banyak mendatangkan kebaikan untuk keluarga, saya pun nggak akan takut untuk LDR-an. Ya, mungkin salah satunya seperti yang diungkapkan Mommies Donakamal dalam artikel ‘Keluarga Long Distance’.

Mungkin yang paling penting, modal utama saat menjalani hubungan jarah jauh, saya dan suami harus punya kedewasaan sikap, seperti memumpuk rasa saling percaya yang lebih, nggak boleh egois, berwawasan sempit, dan membuang jauh-jauh bebagai kecemasan yang nggak berdasar. Harus (lebih) berpikir positiflah!

Tapi, namanya sudah menikah, masalah kebutuhan seksual pasti harus tetap dipenuhi. Paling nggak, bisa jadi pelepas kangen untuk sementara waktu. Untung saja kemajuan teknologi seperti sekarang juga sangat memudahkan kita, ya! Seperti yang disarankan Dr. Mulyadi, pasangan yang menjalani LDR bisa melakukan  phone sex sebagai salah satu pelepas rindu bagi pasangan suami istri yang menjalani perkawinan jarak jauh. Ooow, jadi penasaran! Saya pun sempat meminta beberapa kiat untuk melakukan phone sex yang aman, nanti akan saya share dalam artikel yang berbeda, ya!

*gambar dari sini dan sini

 


6 Comments - Write a Comment

    1. ahahahhahaaa…. Lita….. kebayang, deh, tuh, gimana rasanya. Untungnya selama ini Doni liputan bukan di daerah pelosok2 gitu, jadi masih terjangkau sama sinyal :D
      Gue pribadi, sih,salut bgt buat pasangan pasutri yang bisa ngejalanin LDR. Tapi cuma buat pasangan yg lurus, ya…. soalnya, ada nih, yg ngaku bisa LDR-an, tp ternyata punya selingkuhan. Percuma kan…

Post Comment