Baju Lama Untuk Cerita Baru

Baju.
Berapa banyak dari kita yang susah lepas dari satu baju karena telanjur enak, nyaman, potongannya pas, atau yaaa, pokoknya sudah pewe, posisi wenak, katanya :D. Padahal baju itu mungkin sudah buluk, mulai lepas jahitannya, atau malah berlubang kecil-kecil saking seringnya cuci-pakai cuci-pakai. Apalagi anak-anak, ya, yang sekali ketemu satu lembar atau satu set baju favorit, dijamin bisa nggak sempat disetrika. Nggak jarang, kan, kita dengar anak yang keukeuh minta ke mal-nya pakai piyama Princess atau Thomas-nya yang sudah dipakai tidur semalaman. Atau ini kejadian sehari-hari di rumah?

Tapi selain baju kesayangan tersebut, tentu ada beberapa baju yang kita beli tapi ternyata kita, atau anak, nggak suka. Entah dipakainya nggak enak, bahannya ternyata nggak nyaman, nggak pernah menemukan momen yang pas untuk mengenakan pakaian tersebut, atau somehow refleksi kita mengenakan baju tersebut terlihat nggak pas. Akhirnya baju teronggok begitu saja di tumpukan terbawah. Padahal…di tempat lain banyak yang berharap saat lebaran bisa punya baju baru… Walau bukan beli baru :).

*gambar dari sini

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2013 kemarin, Rinso menginisiasi Gerakan Baju Lama untuk Cerita Baru. Gerakan ini secara aktif mengumpulkan pakaian dari masyarakat di beberapa tempat seperti: perkantoran, perumahan, sekolah, tempat ibadah, dan tempat-tempat potensial lain di Jakarta. Hingga berakhir, 10.000 pakaian telah berhasil dikumpulkan, yang kemudian dicuci bersih dan dikemas satu per satu dengan rapi layaknya baju baru.

Pakaian ini selanjutnya diserahkan kepada 10 panti asuhan terpilih dan beberapa pihak lain yang membutuhkan di daerah Jakarta dan sekitarnya, agar dapat menemani cerita mereka di Hari Raya Idul Fitri. Gerakan Baju Lama untuk Cerita Baru ini diharapkan dapat menjadi jembatan bagi pihak pemberi untuk dapat menyalurkan keinginannya melakukan kebaikan, juga memberi akses kepada pihak yang membutuhkan.
Gerakan seperti ini diharapkan tidak hanya berjalan pada waktu-waktu tertentu saja, tapi bisa berlanjut tanpa harus ada momen khusus.

Saya sendiri sejak mempunyai pembantu yang pulang hari, merasa diuntungkan karena bisa titip ‘mengoper’ baju, sepatu, dan barang bekas lain untuk diberikan pada yang masih bisa memanfaatkan. Kalau si Mbak atau suaminya mau, monggo disisihkan lebih dahulu. Kalau tidak, silakan dioper kepada orang lain. Beberapa kali si Mbak cerita di sekitar tempat kosnya ada beberapa keluarga yang mungkin bisa memerlukan barang-barang tersebut. Lega rasanya melihat lemari jadi lebih longgar.

Dulu sewaktu di Semarang suka bingung mau oper ke mana. Bahkan tukang barang bekas juga nggak ada yang lewat. Tanya ke tetangga juga seakan-akan penduduk sekitar situ tidak ada yang kekurangan. Jadi barang-barang yang sudah kumal atau agak melar-melar tapi sudah enggan dipakai, cuma dibungkus saja dalam kantong plastik. Mau dibuang sayang karena sebenarnya masih layak pakai, mau diberikan juga nggak tahu kemana pada siapa. Akhirnya terpikir untuk menyerahkan saja pada badan amil zakat terdekat yang mungkin lebih tahu harus menyalurkan kemana. Kebetulan pada salah satu kesempatan, baru saja dua minggu menyerahkan, terjadi bencana Merapi 2010. Alhamdulilah bisa langsung bermanfaat.

Mommies, biasanya menyisihkan barang bekas kemana atau via apa? Mungkin garage sale? Atau ke tukang loak? Atau mungkin punya sudah punya ‘langganan’ tempat menyalurkan?

Boleh berbagi infonya?

 


2 Comments - Write a Comment

Post Comment