Memperbaiki Pola Makan Anak

Ada beberapa hal yang masih saya ingat saat pertama kali mengantar Bumi ke sekolah bulan Juli lalu. Selain masih terbayang-bayang bagaimana harus menghadapi sedikit drama ketika Bumi nggak mau masuk ke kelas, waktu itu saya juga ingat ada salah satu orangtua temannya Bumi yang bercerita kalau anaknya sedang dalam proses diet. Jujur saja, waktu dengar saya cukup kaget. Nggak habis pikir kalau anak usia 3 tahun harus melakukan diet mati-matian untuk mengurangi  berat badannya.

Duh, saya saja yang sudah setua ini kalau diet merasa cukup merana, bagaimana dengan temannya Bumi yang usianya baru 3 tahun? Ketika teman-temannya asik makan, sementara dia hanya jadi penonton :(  Apa diet tersebut nggak memberikan efek buruk ke depannya? Bagaimana dengan masa pertumbuhan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akhirnya bisa saya temukan jawabannya lewat buku Solusi Tanpa Stres Untuk Anak Gemuk.  Buku ini nggak cuma sekedar berisi teori dan kiat yang mengajarkan orangtua bagaimana mengatasi anaknya yang mengalami obesitas. Sang penulis, dr. Grace Judio juga melangkapi dengan grafik, simulasi, berbagai resep sehat, serta buku cerita yang menggambarkan betapa orangtua memegang peran penting dalam pola makan anak.

Buku ini diawali dengan tanya jawab yang sering muncul seputar masalah yang sering ditemui orangtua. Seperti camilan apa sih bisa diberikan saat anak nonton tv selain keripik, apakah cemilan anak bisa digantikan dengan buah? Bagaimana cara menghentikan anak ngemil atau yang senang makan junkfood? Bahkan ada juga, loh, pertanyaan soal perlukah orangtua khawatir melihat kondisi anaknya yang berusia 5 tahun, tapi justru sering mengingatkan ibunya untuk nggak ngemil. Bahkan, si anak kalau baru makan donat, akan memutuskan untuk main sepeda karena takut berat tubuhnya bertambah. Weew… anak 5 tahun sudah kepikiran untuk workout demi mendapatkan berat badan yang ideal? Nah, pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang bisa dijadikan gambaran bagaimana kondisi anak-anak saat ini terhadap makanan.

Lewat buku ini sang penulis menegaskan, untuk awalnya kita sebagai orangtua harus memastikan dulu apa benar anak kita kegemukan? Soalnya menghitung berat badan anak memang berbeda dengan menghitung berat badan orang dewasa. Anak masih dalam masa pertumbuhan, bisa bertambah tinggi setiap bulannya. Nah, dalam buku ini benar-benar dijelaskan bagaimana cara yang tepat untuk menghitung berat badan anak. Adanya simulasi serta grafik semakin memudahkan kita menemukan target yang tepat. Soalnya, nih, kalau orangtua salah pasang target, ke depannya bisa menyebabkan gangguan makan atau eating disorder, berat badan yoyo, atau anak mengalami masalah dengan rasa percaya diri

Dr. Grace sendiri menganalogikan tubuh kita ini sebagai mobil. Jadi, kalau mobil hanya butuh bensin saat memang sudah habis, begitupun dengan perut kita. Makan, ya, saat lapar. Ketika sinyal tubuh mengatakan kalau butuh diisi. Kalau memang nggak butuh, ya jangan diisi, kalau dipaksa justru bisa luber, seperti mobil yang dipaksa diisi bensin. Dengan begitu anak anak tau konsep lapar perut dan “lapar hati”.

O, ya, jika selama ini masih banyak orang tua yang membiarkan anak-anaknya makan sambil main lari-larian, atau makan sambil nonton TV (seperti yang suka saya lakukan), sebenarnya hal ini salah besar. Makan, ya, wajib di meja makan, seperti halnya isi bensin yang hanya bisa dilakukan di pombensin, tidak di garasi mobil ataupun taman. Cara ini bisa mengajarkan anak disiplin dan membantunya untuk paham kalau rasa lapar tidak boleh dihubungkan dengan perasaan lainnya. Misalnya, iseng ngemil atau bahkan untuk meluapkan emosinya yang sedang sedih atau stres.

Yup, tanpa disadari banyak juga lho anak-anak, khususnya yang remaja akan memilih nyemil untuk menyalurkan emosinya. Makanya, selain harus mengenalkan konsep lapar, kita juga wajib mendengarkan perasaan anak-anak kita. Jangan sampai mereka memilih “curhat” lewat makanan.

Sementara itu, menurut  dr. Grace, banyak juga, nih, orangtua yang salah kaprah mengartikan makanan adalah tanda sayang, cara bersosialisai atau bahkan “membeli” anak dengan makanan. Umh, kalau mau jujur, saya juga sesekali suka melakukan hal di atas. Karena merasa berdosa pulang kerja terlalu larut, satu dua kali saya suka membayarnya dengan cara membelikan makanan kegemaran Bumi. Untungnya, sih, ini belum jadi habit. Tapi kalau sudah jadi kebiasaan, kan, repot juga, yah!

Buat saya, sih, buku ini mampu “menyentil” dan mengingatkan orangtua supaya lebih hati-hati dalam menerapkan pola makan Bumi. Biar bagaimanapun orangtua merupakan kunci yang menentukan pola makan anak. Kalau kita sendiri punya gangguan, sudah tentu anak berpeluang besar mengikutinya. Kalau kita pun cemas, anak bisa lebih cemas lagi. Setuju, nggak Mommies?

Buku ini juga dilengkapi dengan buku dongeng yang bisa dibacakan untuk si kecil. Judulnya Cerita Semut Tentang Hati dan Perut. Bagus deh!

Nah, kami punya 3 buku ini untuk dibagikan buat Mommies yang merasa butuh buku ini. Silakan tinggalkan alasannya di boks komentar di bawah ini, ya.


7 Comments - Write a Comment

  1. Keluarga saya punya gen tidak bisa gemuk walau makan banyak tapi seram juga karena kadang pilihan makannya jadi kurang sehat. Para sepupu,kisaran sd smp tiap kali bertemu pasti bertanya cara biar tidak gemuk. Kalau dengar cerita mereka tentang tidak berani makan malam,tiap hari harus nimbang badan, pikiran saya kok masalah remaja sekarang seputar berat badan saja ya. Mudah-mudahan kalau dapat,bukunya bisa jadi jawaban untuk pertanyaan mereka dan pegangan untuk orang tuanya biar bisa membimbing para sepupu saya ini.

  2. thx mbak info isi bukunya, saya pribadi merasa benar2 tertohok karena membiarkan anak makan sambil main, nonton tv. bukunya bagus sekali karena isinya ga cuma teori dan kiat yang mengajarkan orangtua bagaimana mengatasi anaknya yang mengalami obesitas tapi juga berisi grafik, simulasi, berbagai resep sehat, serta buku cerita yang menggambarkan betapa orangtua memegang peran penting dalam pola makan anak. Mau dong dibagiin bukunya. soalnya di daerah susah bisa dapat buku2 bagus. mau beli pun ga ada. smoga buku ini bisa membantu saya dalam mengatur kembali pola makan yang salah yang terlanjur saya terapkan pada anak saya dan juga bisa membantu teman2 saya yang mayoritas anaknya memiliki obesitas dan harus diet. thanks before

  3. Wah, bagus sekali bukunya.. Ledi (15M) tergolong lebih ‘besar’ dari anak seusianya. sering sekali Ledi disangka berusia 2 tahun. Memang Ledi makannya gampang banget… Lewat buku ini saya jadi bisa introspeksi pola makan Ledi selama ini dan ada tambahan resep untuk variasi menu makannya. Must Have Item ni.. :)

  4. Anakku Langit usianya baru 6 bulan hari ini, terakhir timbang awal bulan lalu bobotnya udah 10 Kg..ups, hehehehe…campuran antara bahagia saat ketemu orang dibilang, ihhh lucunya montok lagi, dan sedikit cemas, jangan-jangan dia kelebihan BB..duhh..buku ini bisa menjawab kebingungan saya nih kayaknya :D

  5. Wah bukunya pas banget nih, anakku mau mulai makan minggu depan. mamanya suka makan kalau lagi iseng atau emosi, papanya suka makan sambil nonton tv, hahaha… mudah2an kl dapet bisa buat panduan cara mengajari anak (dan papa mamanya) makan dengan benar

  6. Halooo….. haloooo….

    Seperti yang saya bilang di dalam artikel, buat Mommies yg meninggalkan komentar terbaik bisa mendapatkan buku yang saya baca ini. Terima kasih banyak, ya, buat Mommies Agatha, VirIngNes, rindangi, LoveLangit dan kleine atas komentarnya :)

    Untuk hadiah 3 bukunya, Mommies Daily mau kasih utk Mommies Agatha, VirIngNes, dan Kleine. Selamat, yah! Mudah2an buku ini bisa berguna untuk Mommies! Kami tunggu data lengkapnya, ya, email ke info@mommiesdaily.com

Post Comment