Anak Kecil Mainnya Bom Bom Car

I am not here to judge anyone.

Yang pasti, tidak ada orang tua yang mau anaknya celaka, apalagi pasti semua orang tua berdoa saat anaknya lahir ke dunia semoga kelak anak kita menjadi bermanfaat bagi orang lain.

Siapa yang setuju dengan saya?

Ternyata dalam perjalanannya untuk membimbing anak kita jalan tidak semulus yang kita duga. Buat Ahmad Dani dan Maia, sebagai sesama orang tua saya bersimpati atas musibah yang dialami Dul, saya terbayang beratnya cobaan ini dan tidak ada yang menginginkan terjadinya suatu musibah yang menelan banyak korban.

Sayangnya fakta di luar sana sudah banyak anak-anak yang mungkin umurnya lebih muda dari Dul berkeliaran dengan kendaraan bermotor roda dua atau roda empat di jalanan. Dari yang sekedar keliling sekitar perumahan sampai yang dibawa ke jalan raya. Hanya suatu kebetulan saja Dul adalah anak pasangan tersohor di negeri ini, pas usianya di bawah umur untuk membawa kendaraan roda empat, pas membawa kendaraan ke jalan raya, pas menelan korban jiwa yang tidak sedikit dan langsung menjadi berita yang sensasional di tayangan setiap hari di semua media. Semua orang tidak berhenti memberikan pendapatnya.

Fakta yang nyata bahwa saat ini banyak anak-anak yang di bawah umur berkeliaran dengan kendaraan bermotor atau roda empat. Saya perhatikan bahkan di tingkat SMP sudah berjejer motor yang di parkiran, meski memang aturan untuk mendapat SIM C adalah 15 tahun. Saya lebih menyayangkan bahwa anak-anak tersebut mengendarai motor bagai mengayuh sepeda. Tanpa helm, berboncengan bisa bertiga atau berempat jika muat, bahkan jika keluar dari tikungan lupa menengok kanan kiri.  Suami saya sebagai pengemudi handal kadang lebih grogi kalau di sebelah mobil kami ada motor dengan pengendara di bawah umur.

Di daerah tempat kami tinggal, sering terlihat seorang ibu ke pasar naik motor yang dikendarai oleh anaknya yang kakinya saja baru bisa menjejak di tanah dari atas dudukan motor. Sopir angkutan umum di Bogor yang pernah saya tumpangi ada sebagian anak-anak di bawah umur, yang tingginya mungkin baru sekuping saya.

Kalau saya tidak salah mengingat beberapa tahun yang lalu ada kasus artis yang meninggal karena tabrakan motor dengan pengendara yang juga masih di bawah umur. Salah satu teman saya pernah bercerita bumper mobilnya penyok ketika sedang parkir di jalan perumahan yang sepi karena ditabrak motor yang dikendarai anak kecil. Alasannya si anak belum lihai mengerem motor tersebut. Itu saja mobilnya sedang dalam posisi parkir, boleh dibayangkan jika di posisi mobil tersebut diganti dengan kita?

Seketat apapun kita sebagai orang tua melarang anak-anak untuk tidak mengendarai kendaraan, fenomena anak membawa kendaraan sudah hampir menjamur saat ini. Yang saya takutkan bukan hanya Shazia atau Maghali, kedua anak saya, yang berada di balik kemudi, tapi bagaimana jika mereka berada dalam kendaraan yang dikemudikan oleh teman mereka yang masih di bawah umur.  Karena saya pernah dalam posisi yang sama seperti mereka, ikut menumpang mobil teman saya yang saat itu umur saya masih SMP, karena saya hanya percaya teman saya bisa menyetir mobil. Padahal sekarang baru saya sadari bahwa menyetir bukan hanya sekedar menyalakan mesin mobil, ya nggak? Ditambah lagi fenomena membawa kendaraan ke sekolah seolah-olah sebagai upaya anak-anak menunjukkan bahwa dia adalah yang paling keren. Mungkin juga akhirnya disebabkan peer pressure untuk menjadi terkeren di antara teman-temannya.

Saya berharap dengan kejadian musibah kemarin, selain semoga banyak orang tua yang akan memperketat pemberian fasilitas kendaraan kepada anaknya, pihak sekolah, masyarakat dan pemerintah, terutama aparat kepolisian, juga melakukan hal serupa. Sekolah dapat melarang anak didiknya membawa kendaraan bermotor atau roda empat jika diketahui anak didiknya belum cukup umur. Pemerintah dan kepolisian dapat memberantas upaya melakukan SIM tembak, maupun sosialisasi berkendaraan secara bertanggung jawab ke masyarakat. Jika seperti yang saya tonton di TV kemarin ada razia anak naik motor dengan alasan tidak ada angkutan umum ke sekolah, maka saya mohon pemerintah bisa memfasilitasi pengadaan transportasi umum yang lebih baik dan aman untuk anak-anak kami sekolah.

Mengutip pepatah it takes a village to raise a child, maka saya mengajak para mommies and daddies untuk bersama-sama memfasilitasi anak-anak kita, keponakan kita maupun anak tetangga atau kenalan kita untuk kelak menjadi pengemudi yang bertanggung jawab pada saatnya. Tegurlah jika memang belum saatnya, saling mengingatkan teman atau kerabat kita, dan terutama dampingi anak-anak kita ketika mereka mulai belajar. Karena seperti pepatah di atas, masa depan generasi anak kita adalah tanggung jawab kita semua bersama. Mari bersama mencari solusinya sehingga jalan raya kelak menjadi tempat yang aman bagi keluarga.

*gambar dari sini


5 Comments - Write a Comment

  1. Aduuh, jleb banget judul artikelnya!

    Anak gue juga pernah jadi korban dari ABG yang bawa motor, bo. Dia lagi naik becak sama mbaknya, si motor nabrak becak, becaknya teguling :( Alhamdulillah anak gue gpp tapi si mbaknya sampe sobek dahinya :(

    Gue yakin hal ini bisa terjadi sama siapa aja. Kita udah hati-hati banget jagain anak kita, tapi malah jadi korban kelakuan anak orang :(

    Bagus banget artikelnya!

  2. Jujur, gue sangat prihatin dengan anak2 yang sudah bawa motor ke sekolah, mulai dari kelas 7 malah! sedihnya lagi, perilaku itu didukung oleh orang tua. mulai dari alasan ortu sibuk jaga adik ga ada yang nganter, biar bisa disuruh ke mana2, sampai ke alasan kan cuma dalam komplek aja. Pernah dua anak kecelakaan yang mengakibatkan salah satu anak tangannya digips berbulan2. sejak saat itu, motor siswa sekolah itu hanya boleh diparkir di lokasi parkir dalam komplek, jadi nggak ke jalan raya. artinya secara nggak langsung, sekolah juga mengiyakan anak2 bawa motor :(

    bener lho, it takes a village to raise a child. namun, keyakinan segelintir orang tua yang berprinsip motor itu baru boleh dibawa anak saat minimal sudah SMA pun bisa kalah ketika orang tua lain, sekolah, dan masyarakat malah ‘menyepakati’ perilaku ini. sekalipun polres setempat sudah melakukan penyuluhan tertib lalu lintas, tetap saja arus utama alias mainstream itu lebih kuat. apalagi di daerah yang notabene kota kecil dan nggak banyak angkutan umum (meski untuk siswa ada bus juga sebenarnya).

    artinya, itu semua kembali pada orang tua. saya dan suami berprinsip Rasya nggak boleh bawa motor sampai nanti dia minimal SMA. Itu prinsip, nggak boleh ditawar. biarlah teman2nya naik motor (yang mesti udah diingatkan ya tetep aja dilakuin, mana pake ngebut lagii).

    Sekarang ada lho gerakan yang mengajak anak2 untuk tidak berkendara motor: CAMOT, https://www.facebook.com/KampanyeCamot . coba sama2 kita sebarkan dan tumbuhkan kesadaran itu, supaya semua orang tersadar lagi bahwa untuk mengendarai motor/punya SIM itu memang ada masanya, ada umurnya!

    1. *tadi ada yang kelewat*
      biarlah teman2nya naik motor, Rasya nggak perlu ikut2an yaa. sebenarnya ya ingin mengingatkan orang tua lain, tapi malah lebih galak orang tua itu (padahal ya tau itu salah). yang salah jadi benar, yang benar jadi salah :(

Post Comment