Pelajaran Baru Dari Menyusui

Masih bulan menyusui kan ya :)

Ini cerita tentang menyusui anak ke-4 saya tahun lalu..

Saat itu, saya baru saja melahirkan anak ke-4. Melahirkan di usia 33 minggu kehamilan, membuat anak saya lahir prematur dengan BB 1,805 kg. Sesaat setelah lahir, bayi saya langsung dimasukkan ke NICU (Neonatal ICU) tanpa saya dapat melihatnya untuk pertama kali di ruang operasi. No IMD, No touching, No seeing :’(

Setelah 12 jam dari operasi, saya diperbolehkan untuk ‘belajar’ jalan. Saat itu, yang ada di pikiran saya adalah saya harus bisa cepat ‘belajar’ jalan, karena saya ingin segera melihat bayi saya di ruangan NICU (letaknya di lt.4, sedangkan kamar saya di lt.3). Saya harus recovery lebih cepat, agar bayi saya juga recovery cepat.

Sayang, saat itu bayi saya tidak dibolehkan untuk minum ASI. Istilah dari petugas medis adalah bayinya puasa. Dari tiga pengalaman menyusui kakak dan abang-abangnya, saya bisa langsung menyusui mereka tanpa halangan apapun. Jadi ketika hal ini terjadi saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Dokter dan suster yang merawat bayi saya menyarankan untuk memompa ASI saya, agar payudara tidak bengkak yang bisa menyebabkan berbagai macam keluhan. 1 hari saya coba tahan ASI yang semakin bengkak ini, saat itu yang saya pikirkan..

“Duh, kolostrumnya gimana kalo di pompa..? Anakku tetep bisa minum kolostrumnya ga ya..?” Soalnya kolostrum itu hanya ada di awal ASI saja kan.

Hari ke dua, Bismillah, saya pompa juga ASI yang mengandung kolostrum, dan saya titip di kulkas ruangan NICU. Semakin saya pompa, produksi ASI makin bertambah, 20ml, 60ml, 80ml, 100,ml, 200ml, 250ml, hingga 300ml tiap kali pompa.

Hari ke tiga, Alhamdulillah, saya diperbolehkan pulang oleh dokter kandungan, tetapi tidak dengan bayi saya yang masih puasa. Sepulang dari rumah sakit, saya paksakan suami saya untuk membeli segala perlengkapan untuk ASIP (ASI Perah) juga apa yang harus dilakukan dengan ASIP, yang sebelumnya saya baca di MD tentang manajemen ASIP . Manapun saya habis operasi, keliling mal untuk mencari perlengkapan tersebut, meski sudah saya sodorkan gambar-gambarnya ke suami, tapi kok khawatir akan salah beli, jadilah saat itu saya kuatkan untuk berjalan demi ASI anakku.

Saat itu saya sadar, saya dan suami memulai pelajaran baru yaitu tentang ASIP. Meski bisikkan-bisikkan #emakirit selalu ada, karena anak saya ini adalah anak terakhir saya. Dokter kandungan memutuskan untuk mensterilkan (tubektomi) saya karena risiko kehamilan yang makin tinggi. Tapi ya namanya ibu, saya buang jauh-jauh bisikkan-bisikkan #emakirit itu.

Saya pikir, perlengkapan ASIP yang sudah lengkap, jika kurang, suami sudah bisa diandalkan untuk membeli barang-barang yang saya maksud. Dari mulai plastik ASI yang BPA Free, botol plastic yang BPA Free, juga botol kaca ASIP. Membuat saya tenang sedikit, dan tidak hanya itu, suami juga yang senantiasa membersihkan alat pompa juga botol-botol yang ada dan mensterilkannya juga. Kami saling bekerja sama di tengah kesedihan yang melanda karena bayi kami masih di NICU. Saya berusaha untuk menjaga emosi agar ASI tetap lancar keluarnya.

Namun, permasalahan lain muncul, yaitu sisa-sisa ASI yang tidak keluar semua menyebabkan payudara saya bengkak. Saya raba, di dekat ketiak saya muncul benjolan yang jika ditekan sakit sekali. Suster menyarankan untuk pijat laktasi atau datang ke klinik laktasi. Lagi-lagi Mommies Daily menjadi andalan saya, Alhamdulillah ada artikel yang membahas tentang pijat laktasi. Saya praktikkan, suami juga tak segan membantu untuk memijat punggung ataupun payudara saya untuk mengurangi rasa sakit yang melanda. Dua kali sebelum mandi pagi dan sore saya melakukan pijat tersebut, Alhamdulillah benjolan sudah hilang, dan ASI memancar semakin deras.

Alhamdulillah, di hari ke-9, bayi kami diperbolehkan untuk minum ASI melalui selang. Mulai dari 5cc/6 jam hingga 25cc/3 jam di hari ke-16 melalui dot. Stok ASIP di freezer semakin banyak, beberapa ada yang saya titipkan di rumah kakak suami, apalagi kemarin sempat ada pemadaman bergilir selama 6 jam, Alhamdulillah ada pemberitahuan sebelumnya, jadi sudah bisa diantisipasi.

Anak kami yang BB lahir 1,8kg sempat turun di 1,5kg karena puasa selama 8 hari, setelah diberi ASI BB-nya beranjak naik, tentu ini adalah salah satu hasil dari pelajaran baru yang kami lalui.

Sekarang, ‘bayi’ nya sudah 1 tahun, meski umur koreksi masih 10,5 bulan, masih menyusui daaan mulai menggigit :p

Para ibu boleh beda suara tentang ‘rasa’ bagaimana cara mereka melahirkan anaknya (normal atau operasi) tapi bagi saya, para ibu punya satu suara tentang ‘rasa’ bagaimana mereka menyusui anaknya, mulai payudara bengkak, puting lecet, dsb tapiiii semua menjadi indah saat kita saling bertatap :’)

Happy Breastfeeding, moms :)


Post Comment