Manajemen ASI Perah

Setelah cuti melahirkan selesai, pemberian ASI eksklusif pada bayi biasanya dilanjutkan dengan ASI perah (ASIP). Pemberian ASIP dilakukan selama bayi tidak bersama ibunya dengan menggunakan botol, cup feeder atau gelas serta sendok. Karena pemberiannya melalui media lain, maka kebersihan peralatan ini juga harus dijaga. Karena bukan tidak mungkin jika peralatan untuk memberikan ASIP ini tidak bersih, bisa tercemar bakteri atau lainnya.

Waktu ramai pemberitaan E. Sakazakii, sempat ada yang bertanya-tanya, mungkin nggak, sih, ASIP bisa kena E. Sakazakii? Bisa! Penggunaan botol dan alat yang tidak steril membuat risiko kontaminasi E. Sakazakii sangat besar, sama saja seperti susu formula.

Ketika ASI diperah, ASI bersentuhan dengan berbagai obyek, mulai dari tangan manusia, alat pemerah, botol susu, yang semuanya mungkin tidak steril. Walaupun ASI sendiri steril, bersentuhan dengan benda-benda tadi menyebabkan pencemaran bakteri.

Berdasarkan catatan, dilaporkan dua kasus kematian bayi akibat meminum ASI yang diduga tercemar E. sakazakii. Satu kasus dilaporkan di Brazil pada tahun 2003 dan satu lagi dilaporkan di Amerika pada tahun 2004. Untuk kasus di Brazil, si bayi mengidap meningitis akibat infeksi bakteri E. sakazakii dari ASI yang diduga tercemar. Sementara kasus di Amerika terjadi kepada seorang bayi yang mengonsumsi campuran susu formula steril dan ASI.

Dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2007 dalam International Journal of Food Microbiology (vol. 122 hal. 171-179), Raquel Lenati dan timnya dari Kanada menemukan bukti bahwa bakteri E. sakazakii mampu bertahan hidup dalam ASI yang diperah dan disimpan dalam botol.

Secara alami ASI mengandung zat antibakteri. Tetapi penelitian Raquel Lenati dan rekan-rekan menunjukkan zat antibakteri itu tidak cukup ampuh untuk membunuh bakteri E. sakazakii. Dalam penelitian tersebut bakteri E. sakazakii dapat tumbuh dengan baik dalam susu formula maupun ASI yang disimpan pada suhu kamar (23 dan 37 derajat Celcius), yang sekaligus memperkuat penelitian sebelumnya bahwa susu (formula dan ASI) tidak boleh didiamkan pada suhu kamar lebih dari 4 jam.

Menariknya lagi, pada suhu kulkas (10 derajat Celcius), kecepatan pertumbuhan E. sakazakii tidak ada bedanya antara susu formula dan ASI, yaitu sekitar 12-30 jam untuk mencapai jumlah bakteri yang optimum. Fakta ini sekaligus memperkuat saran American Dietetic Association bahwa susu formula dan ASI perah harus segera didinginkan pada suhu 2-4 derajat Celcius (suhu nyaris beku) dan dikonsumsi dalam waktu 24-48 jam.

Oleh sebab itu, wajib bagi kita melakukan manajemen ASIP yang terbaik. Jangan lupa juga, untuk mencegah pencemaran E. sakazakii, kebersihan tangan dan media pemberian ASIP adalah sangat penting.

Mengenai penyimpanan ASIP, bisa menggunakan botol kaca (saya dulu menggunakan botol bekas sebuah minuman ukuran 140 ml) yang tutupnya diganti dengan tutup karet, plastik khusus menyimpan ASIP (ada berbagai merek seperti Medela, Pigeon, dan lain sebagainya) atau bahkan menurut Dr. Utami Roesli SpA, MBA.IBCLC bisa hanya menggunakan plastik kiloan. Jangan lupa memberikan tanggal serta volume dalam plastik/botol yang digunakan untuk menyimpan ASIP untuk memudahkan proses pemberian ASIP pada bayi. Kalau saya waktu itu, supaya ASIP yang dicairkan nggak sia-sia, maka dalam 1 plastik/ botol saya isi dengan jumlah sekali minum, ini sekaligus memudahkan dalam menghitung stok ASIP yang tersisa.

Lalu mengenai prosedur penyimpanan ASIP bisa dilihat bagan di bawah ini yang diambil dari situs AIMI:


Proses pemberian ASIP yaitu:

  • Ambil atau keluarkan ASI berdasarkan waktu pemerahan (yang pertama diperah yang diberikan lebih dahulu).
  • Jika ASI beku, cairkan di bawah air hangat mengalir. Untuk menghangatkan, tuang ASI dalam wadah, tempatkan di atas wadah lain berisi air panas. Jangan gunakan microwave atau penghangat sejenis yang bersuhu stabil untuk menghangatkan ASIP agar zat-zat penting ASI tidak larut/hilang.
  • Kocok secara perlahan dulu sebelum mengetes suhu ASI, saya biasanya hanya membolak-balikkan botol supaya tercampur. Lalu tes dengan cara meneteskan ASI di punggung tangan. Jika terlalu panas, angin-anginkan agar panas turun.

Hal terpenting dari semua poin di atas, berikan catatan-catatan ini kepada ibu/mertua/ART/ pengasuh/siapapun yang mengasuh anak di rumah saat ibu sedang bekerja supaya pemberiannya tidak salah yang bisa mengakibatkan hal-hal tak diinginkan terjadi. Mudah, kan, Moms?

Catatan:

  1. Kasus kematian bayi di Brazil akibat ASI yang tercemar dilaporkan dalam jurnal berikut: Barreira, E.R., Costa de Souza, D., de Freitas Góis, P., Fernandes, J.C., 2003. Meningite por Enterobacter sakazakii em recém-nascido: relato de caso. Pediatria (São Paulo) 25, 65–70.
  2. Kasus kematian bayi di AS akibat mengkonsumsi campuran susu formula dan ASI yang tercemar dilaporkan dalam jurnal berikut: Stoll, B.J., Hansen, N., Fanaroff, A.A., Lemons, J.A., 2004. Enterobacter sakazakii is a rare cause of neonatal septicemia or meningitis in VLBW infants. Journal of Pediatrics 144, 821–823.

 

*Terima kasih untuk Niamara atas foto persedian ASIP-nya.