Motherhood Monday: Ainun Chomsun, “Bahagia Adalah Pilihan”

Buat saya, menjadi orang tua yang harus membesarkan anak-anaknya dengan didampingi pasangannya saja sulitnya minta ampun. Apalagi untuk menjadi single mom. Pasti tingkat kesulitannya berlipat-lipat ganda.

Saat harus menghadapi kenyataan menjadi orang tua tunggal, tentu banyak hal yang harus dipersiapkan dengan matang. Mungkin yang terpenting adalah menyiapkan mental. Setidaknya hal ini juga yang dirasakan oleh salah satu single mom, Ainun Chomsun. Ibu dari Kika yang kini berusia 9 tahun.

Bersama 3 single mom lainnya, penggagas berdirinya Akademi Berbagi ini sempat menulis buku ‘The Single Moms’. Di mana keempat penulis berbagi suka duka yang mereka rasakan setelah menjalani hidup sebagai orang tua tunggal.

Meskipun awalnya nggak mudah, toh, semuanya bisa menjalaninya dan hidup bahagia. Seperti yang diungkapkan perempuan yang kerap berkicau menggunakan akun @pasarsapi ini pada saya, “Bahagia adalah pilihan sadar. Dan saya memilih untuk bahagia dengan kondisi saat ini. Apa yang saya peroleh saat ini : anak, pekerjaan, kegiatan sosial di Akademi Berbagi, keluarga dan teman-teman yang baik adalah berkah luar biasa. Ketakutan selalu ada, dan saya berusaha melampaui rasa takut tersebut dengan sering-sering melihat kepada diri sendiri dan banyaknya berkah yang saya dapat.”

Sebagai single mother, bagaimana cara Mbak Ainun menyeimbangkan kehidupan di rumah sebagai seorang ibu, sekaligus sebagai seorang profesional dalam melakukan pekerjaan?

Caranya dengan memanfaatkan fasilitas teknologi untuk mengatur waktunya, melepas pekerjaan sebagai fulltime dan sekarang menjadi freelancer, dan membagi waktu dengan sangat cermat serta memberi pengertian kepada anak tentang peran Ibunya. Sehingga dia paham dengan aktivitas Ibunya.

Menjadi single mother, tentu tidak mudah dan sangat sulit. Kesulitan apa yang paling besar yang pernah Mbak Ainun rasakan?

Kesulitan terbesar adalah pembagian waktu, tidak mungkin bisa ideal antara pekerjaan, ngurus anak dan kepentingan diri sendiri. Yang kedua adalah ketakutan tidak bisa menafkahi anak secara layak. Jadi harus bisa menggunakan waktu dengan efisien dan melawan rasa takut itu dengan meneguhkan diri bahwa saya mampu menjadi orang tua. Yang ketiga adalah ketakutan tidak bisa mendidik dengan baik, karena tidak bisa sepenuhnya menjadi Ayah sekaligus Ibu.

Berkaitan dengan menafkahi keluarga, bagaimana Mbak Ainun survive untuk memenuhi semua kebutuhan hidup? Terlebih mengingat Mbak adalah freelancer?

Saya harus mengatur sebaik-baiknya, mengelola dengan cermat karena saya adalah freelancer yang setiap bulan tidak tetap. Di satu sisi saya punya fleksibilitas soal waktu, di sisi lain harus pandai mengelola keuangan. Sampai sekarang masih berusaha keras untuk bekerja dengan cara efisien secara waktu, untuk mendapatkan penghasilan yang memadai serta mengatur pengeluaran dengan tertib.

Saat dituntut harus mencari nafkah, tentu banyak waktu yang tersita. Bagaimana, sih, cara Mbak Ainun memberikan pengertian pada Kika karena banyak waktu yang tersita untuk urusan pekerjaan?

Anak saya sudah paham bahwa Ibunya harus jadi orang tua tunggal, jadi saya memberi pengertian saya tidak sama dengan orang tua lain yang lengkap, tetapi soal kasih sayang, perhatian saya meyakinkan sekaligus menunjukan bahwa saya selalu ada untuk dia. Anak bisa menghubungi saya jika membutuhkan, dan saya meluangkan waktu-waktu khusus untuk anak yang secara rutin kami jalani.

Peran ayah, tentu akan sulit tergantikan. Bagaimana  cara Mbak Ainun  dalam menggantikan kekosongan sosok ayah untuk Kika?

Saya tidak bisa menjadi ayah yang ideal, tetapi saya harus “tegas” karena semua pengambil keputusan ada di tangan saya. Saya mengajarkan kasih sayang selayaknya Ibu dengan memeluk dan mendengarkan keluh kesahnya, tetapi saya akan tegas untuk hal-hal yang prinsip. Misalnya: saya akan menghukum anak jika dia salah, dengan hukuman yang sesuai, saya memaksa dia belajar berenang dan naik sepeda karena dia harus berani mengambil resiko dan mandiri. Itu contoh simple-nya.

Untuk figur ayah, karena anak saya punya banyak Paman dan Pakde, sebenarnya tidak terlalu masalah. Dan dia bisa ketemu ayahnya jika memang menginginkan.

Bagaimana cara penerapan pola asuh yang Mbak terapkan di rumah?

Karena anak saya sudah 9 tahun, kami membahas bersama-sama tentang pengaturan jadwal belajar, istirahat dan bermain. Dia boleh memilih aktivitas yang disukai tetapi harus melakukan dengan tekun. Misal, dia suka menulis, dan ikut kelas menulis maka dia harus menyelesaikan kelasnya dan membuat satu buku. Tetapi ada yang wajib untuk dia dan tidak bisa ditawar adalah belajar tentang agama, dan setiap liburan ada waktu satu minggu dia harus masuk pesantren.

Ada prinsip yang tidak boleh dilanggar: misal, tidak boleh menyakiti orang lain, tidak boleh bicara kasar dan minta maaf jika salah serta berterimakasih kepada Tuhan dan orang lain yang berbuat baik kepadanya. Tetapi hal-hal lain dia boleh memilih apa yang dimaui, dia boleh berbeda pendapat dengan orang lain atau pun orang tuanya asal punya alasan yang jelas dan disampaikan dengan baik.

Selebihnya dia anak yang saya bebaskan berpikir, berkreasi dan beraktivitas. Tidak ada tuntutan soal prestasi, yang penting dia paham soal tanggung jawabnya. Dan saya memosisikan diri sebagai orang tua yang bisa dia akses kapan saja tanpa rasa takut. Anak tetap hormat pada orang tuanya, tetapi tetap saya bangun rasa nyaman untuk anak sehingga dia bebas bercerita dan berkeluh kesan. Caranya, saya tidak pernah menyalahkan anak jika dia curhat, saya berusaha mendengarkan dulu semuanya dan bertanya apa yang dia rasakan baru setelah itu saya memberi masukan pelan-pelan. Terkadang cari waktu yang nyaman misal menjelang tidur atau sambil saya peluk saya beri masukan.

Apa Mbak dan Kika punya sebuah ritual yang kerap dilakukan bersama-sama?

Iya, kami punya jadwal berenang bersama, membacakan cerita di malam hari jika saya pulang lebih awal, main di hari Sabtu/Minggu tempat anak yang menentukan disesuaikan dengan kondisi keuangan Ibunya. Setiap libur semester liburan bareng.

Umh, obrolan saya dengan Mbak Ainun semakin menjelaskan bahwa  its hard being a single mother, but maybe I’d rather do it by myself than with someone who doesn’t have any commitment…

 


Post Comment