Earth Day: We All are Part of It

Sejak masih anak-anak, saya sudah tertarik dengan kisah-kisah yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Wacana tentang siklus alam, pemanasan global, efek berantai dari kerusakan lingkungan, dan artikel-artikel senada di media selalu menarik saya untuk ‘mampir’ membacanya. Bahkan bagi saya, film Wall-E adalah film horor.

Walau saya masih belum bisa banyak berbuat untuk lingkungan, deep in my heart I know I should, because we all are part of it. Saya belum bisa telaten menanam tetumbuhan. Mungkin trauma juga, sih, waktu kecil semua yang saya tanam nggak ada yang tumbuh dengan baik. Kalau nggak kebanyakan air karena terlalu excited menyiram, kekurangan air karena malas menyiram, pas sudah telaten, giliran tanamannya kena penyakit *keluh*. Iri sekali sama Ibu saya yang pohon mangganya rutin berbuah, perdunya lebat, dan gelombang cintanya gendut-gendut.

Jadi, saya mulai dari yang saya bisa. Saya mulai dari yang paling sederhana, membuang sampah di tempatnya. Bila di suatu tempat saya tidak menemukan tempat sampah, saya akan mengantongi dan menyimpan sampah sampai ketemu tempat sampah. Saya juga berusaha menularkan kebiasaan itu pada anak-anak.

Saya juga tidak suka iseng mencoret-coret dan memahat dahan pohon atau batu di tempat wisata alam. Pernah, sih, saya lakukan. Tapi ketika membaca bahwa itu nggak ada gunanya selain merusak keindahan alam, saya jadi malu sendiri. Nobody knows who you are even when you scratch Deva Love Diska *kok D lagi, sih, kebiasaan, deh* di pohon beringin berusia ratusan tahun itu. Beberapa tahun lagi saat kembali ke tempat yang sama dan menemukan tulisan itu masih ada, plus bonus puluhan tulisan yang sama dari orang lain yang mencontoh sayatan kita, lalu apa? Apa, sih enaknya jadi trend setter yang menyakiti mahluk hidup lain?

sumber foto dari sini

Ketika saya akan pindah dari rumah orang tua saya, di lingkungan rumah sedang seru-serunya sosialisasi pemisahan sampah kering dan basah. TPS (tempat pembuangan sampah) dekat rumah juga baru ada mesin pemroses kompos. Senang rasanya bisa membiasakan memisah sampah, dan banyak temannya, satu kampung :D.
Begitu pindah ke Semarang, rumah kontrakan saya di sisi bukit. Depan rumah sudah jurang, lereng bukit yang menghadap ke Utara. Sea view dengan pemandangan bandara dan pelabuhan. Kedengarannya indah, ya. Tapiiii, jangankan memilah sampah, tempat sampah yang layak plus tukang sampah yang rutin mengangkut sampah rumah tangga saja tidak ada! Saya bingung waktu diberitahu bahwa,”Buang saja ke jurang depan situ. Semua juga gitu, kok.” Sakit hati rasanya. Tapi nggak bisa apa-apa, karena kalau kita nganeh-nganehi sendiri sok buang sampah dengan tertib, mau buang kemana? Truk sampah cuma sampai gang sebelah dan kami nggak boleh begitu saja numpang buang. Suami saya yang nggak terlalu peduli lingkungan dan jarang berkomentar atas apapun, sampai bilang “Primitif banget, sih!”

Bertahun-tahun saya menekan perasaan saat harus melempar sampah ke jurang depan. Sampai…saya harus membuang pospak kotor juga kesitu, dan tetangga sebelah komplain karena bau. Lha? Kan, situ yang ngajari saya? Kalau nggak buang kesitu, terus saya harus buang kemana wong tempat sampah dan pengangkut sampah saja nggak ada, kok. Bukannya saya nggak pernah mempertanyakan, “kok, nggak ada tempat sampah? Kok kita nggak bayar tukang dan truk sampah seperti gang sebelah?”
Jawabnya simpel, “yang lain pada nggak mau. Nggak perlu. Kan, kita bisa buang di depan. Buat apa bayar?” Astaga. Cuma delapan ribu rupiah PER BULAN, lho!

Untunglah menjelang tahun keempat, lahan jurang depan dibeli developer dan dibangun perumahan. Saya senang bakalan nggak bisa buang sampah disitu lagi, warga pasti harus mencari alternatif lain. Akhirnya!
Mulailah diadakan tong sampah di depan rumah dan iuran supaya truk yang mengangkut sampah gang sebelah sekalian mengangkut sampah kami. Walau masih campur sampah basah-kering, it’s already a big step.

Di akhir tahun keempat saya pindah ke Jakarta, dan merasa lega seperti kembali ke peradaban dengan tukang sampah yang lewat (walau tidak setiap hari) di depan rumah. Disini belum ada program lingkungan pemisahan sampah, sih. Tapi di TPS, sampah dipilah lagi oleh tukang sampah dan pemulung. Botol-botol plastik dipisah dan dijual tersendiri, menambah penghasilan si Bapak tukang sampah. Kalau sudah menumpuk dipadatkan sekitar 2-4 meter kubik, nilainya bisa ratusan ribu, lho. Bahan-bahan plastik selain botol juga dipisah dan ada pengepulnya sendiri. Nampaknya sebagian dikirim ke pengrajin barang-barang daur-ulang.

Apapun caranya dan kemanapun akhirnya sampah non-organik itu dikirim dan diolah, setidaknya sudah mengurangi sampah yang sampai di TPA (tempat pembuangan akhir). Semakin sedikit sampah non-organik disana, semakin mudah sampah terdegradasi dan membusuk kembali menjadi kompos.

Ayo, mulai pisahkan yang mudah seperti botol dan kemasan plastik. Mari bantu Bumi memperbarui dirinya.

We all are part of it, to keep Wall-E stays as fictional, environmental-horror movie.

*thumbnail dari sini

 


7 Comments - Write a Comment

  1. Sedih banget, deh, kalau untuk urusan kebersihan. Wong tempat sampah cuma beda 2 m dari tempat berdiri saja masih pada malas jalan untuk buang sampah. Huhu. Udahannya kalau musim hujan banjir, sibuk menyalahkan pemerintah. Hadeh.

  2. Temen gue juga ada kebetulan tinggal dekat sungai. Masyarakat sekitar udah biasa buang sampah di sungai tersebut, padahal kalo musim banjir, PASTI mereka kebanjiran. Tapi, susah banget untuk mengubah habit ini. Temen gue pernah usul ke RT/RW setempat untuk ada pengangkut sampah, jawabnya, ya persis sama kaya tulisan lo di atas. Akhirnya temen gue ini, jadi kaya pengumpul sampah, kalo udah ngumpul, baru dia buang ke TPS -___-

    1. iya. serius gue bengong pas dijawab gitu. lebih bengong pas tau brapa ongkosnya. klo diliat ya emg bukan kalangan menengah ke atas sih ya disitu, tapi ya susah dibilang ga mampu klo bbrp punya mobil, yg ga punya mobil punya motor lebih dr 1.

      temen lo juaraa deh Ta!

Post Comment