Dua Perahu Working Mom

Belakangan ini di Mommies Daily sering dibahas soal Working Mom VS Stay-At-Home Mom. Perdebatan ini di mana-mana sama, selalu mentok dan nggak menemukan titik temu. Wong memang berbeda kok karena setiap pilihan itu betul-betul murni keputusan sang ibu. Saya pun angkat topi pada para ibu yang sebelumnya bekerja lalu memutuskan berhenti dan menjadi SAHM. Bagi saya, itu sebuah keputusan besar, saya belum sampai pada taraf itu, meski terbersit keinginan untuk di rumah saja. Suami malah mendukung penuh keputusan saya untuk bekerja, meski kadang harus repot sampai jungkir balik *peluk suami kenceng-kenceng*

Konsekuensinya, saya harus pintar mengatur urusan dalam negeri. Pekerjaan saya memang tidak terlalu banyak tuntutan, tetapi ada kalanya saya harus kerja di malam hari. Meski tak sering, tetap saja ‘meninggalkan-anak-untuk-kerja-di-luar-jam-kerja’ itu bikin hati saya sedih. Sementara saya berprinsip, jam 7 – 4 sore saya mengurus anak orang lain (saya kerja di bidang pendidikan), di luar jam tersebut dan akhir pekan, waktu saya seluruhnya untuk Rasya. Meski saya tetap menjalani pekerjaan ekstra dengan senang hati dan semangat, tetap saja namanya hati seorang ibu ‘kan? Paling sedih adalah bila saat pulang anak sudah tidur. Patah hati dan pasti merasa bersalah ….

Belum lagi ketika Rasya diasuh oleh neneknya (mertua) atau ART, saya kadang melewatkan beberapa momen keahlian barunya. Ia banyak belajar mengenal benda, menunjuk sesuatu, dan beberapa kebisaan baru dari neneknya. Terus terang, saya merasa sedih sekaligus bangga. Sedih karena kok bukan saya, ya, yang mengajarinya itu, sedih karena waktu saya dengan Rasya tak sebanyak waktu Rasya bersama neneknya, tetapi juga bangga karena Rasya pintar dan selalu menjadi kebanggaan mertua (dan kami orangtuanya). It’s complicated, huh? *dilema standar WM*

Dilema tersebut tentu saja nggak bisa ditangisi berkepanjangan. Bagaimanapun, kita para WM ini, harus berdiri di dua perahu, punya dua dunia yang bertolak belakang. Kata Affi, berdamailah dengan diri sendiri, jangan merasa bersalah karena punya rasa bersalah! Jadi, aturlah sedemikian rupa bagaimana supaya kedua perahu itu bisa berjalan beriringan.

Saya selalu percaya otak manusia itu hebat, sehingga kita dapat mengaturnya sedemikian rupa, tinggal menekan tombol switch on atau switch off pada apa yang akan kita kerjakan. Dalam versi saya, kita bisa memerintahkan otak untuk mengubah setting mode berpikir kita. Jika sedang perjalanan ke kantor, lakukan ‘kantor mode on!‘ dan seketika kita langsung memikirkan segala macam deadline dan tugas yang belum kelar. Perjalanan pulang ke rumah, matikan tombol ‘kantor’ dan nyalakan tombol ‘rumah’ alias ‘emak-emak mode on!‘ Pasti, deh, langsung mikirin masak apa di rumah, lagi ngapain si kecil, PR si kakak sudah selesai belum, dst. Memisahkan ‘tombol pikiran’ ini akan sangat berguna, sehingga kita bisa selalu hadir 100% dan mengerjakan segala sesuatunya dengan total.

Kalau saya, sekalipun saya bekerja dari pagi hingga sore, saya tetap menjadi koki di rumah, untuk memastikan makanan di rumah terjamin, ya, enak dan sehat. Bangun lebih awal untuk memasak atau belanja sayur pas pulang kerja, itu jadi kaveling saya :D Begitu juga acara tidur malam, itu waktu spesial untuk saya dan Rasya. Sebelum tidur, biasanya kami akan bermain, bercanda, baca cerita atau kalau sudah ngantuk berat, langsung buka pabrik (Rasya, 14 bulan, masih ASI). Alhamdulillah, Rasya juga kerap menunjukkan keahlian barunya di depan kami, Ayah dan Mama. Bagi saya, mengetahui Rasya berhasil mencapai salah satu milestone penting dan ‘memamerkannya’ pertama kali pada kami, rasanya lebih spesial daripada hal-hal kecil yang sering saya risaukan :’)

Saya percaya, ibu selalu punya tempat paling spesial di hati anak. Sekalipun ia tak melihat ibu dalam waktu lebih dari 10 jam, ia tahu ibu akan pulang ke rumah. Makanya, anak selalu menanti kedatangan ibu dan menyambutnya dengan senyum paling lebar!

Share, yuk, apa yangMommies lakukan untuk menyeimbangkan jalannya dua perahu itu di sini! :)

Milestone penting Rasya: berjalan!


4 Comments - Write a Comment

  1. Setuju! Saya pun merasakan hal yang sama. Saya bekerja tidak hanya untuk membantu penghasilan keluarga tapi karena saya menyukai pekerjaan saya. Bila memang harus memilih salah satu, tentu kita akan memilih bersama anak di rumah, tapi ketika kita tidak harus memilih ya diseimbangkan saja keduanya :) Saya termasuk penganut switch on/off juga. Di rumah ya fokus untuk anak dan keluarga. Saya terkenal pulang tenggo. Manajemen waktu sangat saya terapkan. Kalau masih ada pekerjaan, saya memilih untuk bawa ke rumah. Yang penting bisa pulang sebelum anak tidur. “Peer”-nya ya dikerjakan setelah anak tidur aja, hihihi… Kurang tidur? Itu mah biasa. Toh nggak tiap hari ini :D

    Kalau ada yang bilang sebagai WM nanti anak “kehilangan” ibunya, saya tidak percaya. Itu tergantung ibunya. Sepanjang saya di rumah, semua waktu saya untuk Safina dan keluarga. Dari mulai memandikan, membersihkan kalau BAK/BAB, makan, tidur, main, mendongeng. Pokoknya kalau ada saya, si mbak bantu di dapur aja. Nggak laku deh :D

  2. setuju mom, tiap hari mas kevin (20 bulan) mama nya yang ngelonin, malem kalo mo mimik susu (kbetulan udah ga ASI) juga manggil nya mama, maem juga masakan mama, meski yang nyuapin maem pagi dan siang eyang nya, tapi kalo sore aku take part buat khusus nyuapin mas kevin.
    sabtu-minggu full time buat mas deh, dari mulai bangun tidur sampe tidur lagi slalu nempel ke mama nya

    1. Saya juga setuju banget, nih, Mommies!

      Beberapa waktu lalu saya sempat memutuskan untuk jadi Stay-At-Home Mom saja. Kebetulan waktu itu mbak yang jaga Bumi di rumah juga mau keluar karena memutuskan jadi TKW. Saya pun akhirnya pilih untuk jadi freelancer aja, bisa kerja di rumah, dan waktunya sangat fleksibel.

      Tapi, ternyata cuma bertahan 3 bulan saja :D saat ada salah satu teman yang menawarkan untuk berkerja besama dia di salah satu website khusus pria dewasa muda, saya pun akhirnya bergabung. Itupun dengan pertimbangan karena mbak-nya Bumi memutuskan batal jadi TKW dan memilih untuk menjaga Bumi lagi.

      Sampai sekarang saya juga menjalani dua perahu. Perahu yang sangat saya sayangi, pekerjaan yang sangat saya nikmati. Kalaupun ada pekerjaan hari Sabtu-Minggu, saya sering mengajak Bumi untuk menemani saya. Tapi yang pasti harus lihat-lihat juga, sih, lokasinya. Sayangnya, saat ini mbak-nya Bumi yang sudah 2,5 tahun menjaga Bumi memutuskan untuk berhenti, ihiks…. jadi harus lebih pinter cari bagi waktu. Lah, kok, saya malah jadi curhat colongan, ya? :D

Post Comment