Akar Bahasa

Saya dan suami kebetulan besar di kota yang sama. Enaknya, sama sekali tidak ada kendala berbahasa diantara kami. Tidak enaknya, tidak bisa merepet dengan bahasa ibu yang tidak dipahami suami hahaha.. Ketika pindah ke Semarang, saya kira mudah-mudah saja, toh, masih sama-sama bahasa Jawa. Dari kecil pun saya sering dilatih Eyang untuk sedikit-sedikit berbahasa Jawa Kromo Inggil (tingkatan tertinggi dan terhalus) kepada orang yang lebih tua. Ternyata bahasa Jawa Semarangan, Jawa Tengahan, tetap ada bedanya dengan Jawa Timuran apalagi Surabayaan. Kekhasan Jawa Semarangan ada di intonasi suara di ujung kalimat seperti o’ atau i’ yang nggak ada di logat Jawa Timuran.

Setiap harus tinggal di suatu kota untuk waktu yang cukup lama, saya berusaha belajar sedikit istilah-istilah umum setempat. Kalau kata ibu saya,”Cik iso ngenyang nek tuku-tuku.” (supaya bisa nawar kalau belanja. Tetep yaa ujung-ujungnya belanja hahaha…).

Dalam mempelajari bahasa, saya tipe ‘mendengar’ bahasa ketimbang ‘membaca’. Jadi saya mengucap suatu kata berdasarkan apa yang saya dengar, bukan yang saya baca. Beberapa orang tipe pembaca, seperti suami saya, mengucapkan ‘high light’ sebagai ‘haig laigt’ instead of ‘hai lait’. Tipe pendengar ini biasanya lebih cepat mempelajari logat.

Nampaknya ini menurun ke anak-anak saya. Nggak lama setelah mulai bersekolah di Semarang, Darris mulai berlogat Semarangan. Tanpa sadar, ada rasa nggak rela di kuping saya. Walau masih sama Jawanya, tapi ada rasa takut anak saya nanti makin lama makin nggak kenal bahasa ibunya sendiri. Tapi saat itu saya belum terlalu memikirkannya.
Saat pindah ke Jakarta, hanya butuh waktu seminggu untuk mengubah logat Semarangan Darris jadi anak Jakarte. Saya dan Ayahnya cukup kaget melihat kecepatan adaptasi berbahasanya. Di sinilah kami mulai merasa ‘nggak terima’, khawatir anak lebih terbiasa berlogat ‘Jakartaan’ ketimbang ‘Surabayaan‘.

Tadinya kami di rumah membiasakan berbahasa Indonesia-Jawa 50:50, karena takut kalau terbiasa ‘Jawaan‘ terus, nanti waktu mulai masuk sekolah jadi sulit memahami instruksi guru. Tapi ternyata namanya anak yang lingkungannya berbahasa Indonesia, acara TV yang ditonton berbahasa Indonesia, pergi keluar rumah juga semua berbahasa Indonesia, mau nggak mau akan familar sendiri tanpa harus khusus dibiasakan di rumah. Karena ini lah saya nggak pernah ngoyo cari sekolah bilingual. Kalau hanya dipelajari di sekolah, selama di rumah ngga 24/7 berbahasa asing, orang-orang rumah, lingkungan rumah, bacaan dan tontonan juga masih lebih banyak bahasa Indonesia, bahasa kedua akan lama nempelnya.

Sejak kuping kami agak gatal karena logat anak berubah, porsi bahasa di rumah langsung diubah menjadi lebih banyak ‘Suroboyoan’. Pertama, sih, Darris komplain, “Mama ngomong apaan, sih? Aku nggak ngerti!” Tapi kami cuek saja sambil memberi pemahaman kenapa kami melakukan itu dan menjelaskan kata/kalimat yang nggak dimengerti. Lama-lama mereka terbiasa juga. Sudah nggak protes, cuma nanya kalau memang ada istilah yang asing. Daann, to my surprise, belakangan ternyata beberapa teman sekelas Darris dan Dellynn ternyata juga orang Jawa dan bisa sedikit-sedikit berbahasa Jawa. Jadi malah laporan, “si A juga bisa, tuh, Ma Jawaan.” :D

Saya nggak yakin bisa mengenalkan sampai Kromo Inggil, karena saya sendiri masih patah-patah bisanya. Lagipula di sekolah nggak ada pelajarannya. Beda waktu saya kecil di Surabaya masih masuk mata pelajaran muatan lokal. Jadinya dipaksa untuk bisa wong ada ujiannya hehehe… Tapi saya ingin tiap ada kesempatan, misalnya sedang ngobrol dengan para sesepuh, saya sambil praktik Kromo Inggil. Semoga dengan begitu anak-anak sedikit banyak familiar dengan bahasanya walau mungkin nggak bisa ngomongnya. Syukur-syukur kalau ditiru sedikit-sedikit.

Bukankah kita yang harus memberi contoh terlebih dahulu? :)

NB: tidak, sayangnya saya tidak bisa membaca tulisan jawa :(

sumber foto dari sini

 

 

 


8 Comments - Write a Comment

  1. hahaha..ngerti banget perasaaan “engga terimanya”. Tapi kondisi kita ke balik mbak. sebagai yang lahir dan besar di jakarta, aku ndak ikhlas varo bahasa jawa hahaha. so selalu dibiasakan bahasa indonesia. walaupun uti akung-nya kekeuh ngajarin jawa, nanti kalo sama aku, dibenerin lagi ke bahasa nya..

  2. hihihi,,
    tos ama mbak kirana21, aku juga orangnya tipe “mendengar”. Dulu SMP di semarang, jadi bisa semarangan deh..
    Klo ortuku sih biasain banget anak2nya dengerin bahasa batak. Klo ada acara di rumah pasti lagu2nya bhs batak..
    Mereka takuuuut banget klo anaknya ga bisa bahasa batak.. Mana semua lahir di kota, Medan sih, tapi Medan itu kan melayu dan ga ada muatan lokal bahasa batak.
    aku yang udah 22 gini masih sering nanya,”mam, itu artinya apa?” hehehe..

    1. sendy, lho, masa di medan malah ngga ada muatan lokal batak? ah sayang yaa…
      tapi aku liat2 banyak yg masi terpelihara kok bahasa batak. inget waktu lahiran, bed kiri kanan keluarga batak semua. pas jam besuk ramee. tapi mau nguping ngga mudeng ahahaha.

  3. Aku nggak pernah kepikiran soal akar bahasa,ya wong anaknya masih 8bulan :D

    Nah sekarang jadi mikir2 jg deh.. Yo opo lek anakku engkok gak iso suroboyoan.. Zzz yg bikin bingung sih krn kita sekeluarga bakalan nomaden krn kerjaan suami. sekarang di solo,besok ato lusa bisa2 ke Bandung/Semarang/Denpasar. Ini anak apa nanti nggak bingung ya kebanyakan belajar bahasa hehehe *kok jadi curcol*

    1. kalo diluaran ngga akan bingung mak. aku pas kecil malah dicemplungin mak bapakku di sekolah boso londo, ga ada prolog les2an segala :D tapi yg penting dirumahnya. kupingnya dibiasain. gedean klo bisa ngomongnya dibiasain juga. nek misuh ga usah diajari lho mak, biasane pinter2 dewe hahahah.

      ini aku kemaren jg nomaden, tapi deciding netep klo smp ke jkt ato sby. nasibnya ternyata ke jkt ya wis, keluarganya netep, bapak e pancet keliling :p soalnya dah pada gede2 sih mak, dah mid SD kasian klo masi pindah2. klo bayi sih, angkut ajaaahh *curcol sitik*

  4. hai mbak kirana n mommies yg lain kebetulan banget aq baru pindah jakarta 3bulan yang lalu. setelah dari lahir tinggal disolo, dapet suami asli solo, setelah menikah smp 7th tinggal disolo. anakku pun lahir disolo hehehehehe…. krn pekerjaan suami harus pindah, jadi ya bismillah istri dan anakpun ikut hijrah. anakku Sholeh (6th) bahasanya ‘medhok’ banget… walaupun baru 1minggu pindah dia ud bisa bahasa jakarte dgn teteeepp logat medhok. sampe pernah suatu hari dia aku ajak jagain toko ayahnya sepulang sekolah, dia izin main ke toko tetangga. pas balik dia bawa uang 10.000, pdhl waktu berangkat aq g bawain uang sm sekali. ternyata stlh kutanya dia dgn ceria bilang, bhw dia dikasih sm mbak2 penjaga toko sebelah karna ngajarin bahasa jawa. hihihihihihhi…. i’m so proud of him, krn dia PD sekali dgn bahasa akarnya…

Post Comment