Kenapa Anak Suka Main Games?

Seminar “Ketika Anak Kecanduan Games” besutan Supermoms dengan pembicara Ibu Elly Risman, memang sudah lama berlalu. Tapi materi seminar ini membuat saya merasa beruntung bahwa Langit, di usianya saat ini, nggak terlalu tertarik pada gadget. Sempat saya mengunduh beberapa games yang sesuai usianya, misalnya puzzle, princess atau Fruit Ninja (ini, sih, ibu bapaknya, yang suka, haha), tapi Alhamdulillah, Langit hanya bermain paling lama 5 menit. Satu-satunya hal di gadget yang ia suka hanyalah melihat-lihat foto atau video (dirinya sendiri). Bakat narsis, rupanya. Haha.

Anyway, siapa di sini yang anaknya mulai ‘kecanduan’ games? Baik itu di smartphone, tablet, Nintendo, dan lain sebagainya?

Fakta menunjukkan bahwa saat ini sudah terdapat jutaan anak-anak Indonesia yang andal memainkan games. Mulai dari games pemula di gadget atau bahkan online games yang dengan mudah ditemukan di Facebook atau situs-situs lainnya.

Memainkan games memang ada segi positifnya, antara lain meningkatkan penggunaan Bahasa Inggris, melatih pemecahan masalah dan penggunaan logika, praktik penggunaan motorik halus, memperkenalkan anak pada kecanggihan teknologi, bahkan sampai pada meningkatkan kemampuan membaca jika yang dimainkan adalah games edukasi.

Namun, di balik segala kelebihannya, games juga menyimpan berjuta sisi negatif. Sebut saja games kekerasan yang bisa meningkatkan agresivitas anak, mengganggu sistem belajar sampai menurunkan kemampuan sosial.

Di awal seminar, Ibu Elly menunjukkan hasil survei mengenai games pada anak. 65% orangtua memberikan fasilitas untuk main games pada anak usia 3-5 tahun, sementara 48% orangtua memberikan iPad untuk anaknya memainkan games. Sudah jleb, belum? Haha.

Berdasarkan survei juga, 36% orangtua memberikan fasilitas games tanpa alasan yang pasti. Mengenai hal ini, Ibu Elly juga menambahkan, biasanya alasan peer pressure menjadi hal utama dari orangtua memberikan fasilitas games untuk anak-anaknya. Istilah yang Ibu Elly gunakan adalah, “Ber-iPad anak orang, ber-iPad juga anak kita …” lalu ia melanjutkan, “Nggak punya pendirian banget, sih, lo, jadi orangtua..”, lalu peserta seminar pun cengar cengir dibuatnya.

Nah, kenapa anak-anak senang main games?

Pertama, sudah pasti karena ada fasilitas. Kalau nggak dikasih fasilitas, mereka nggak akan kenal, kan?

Kedua, games itu menyenangkan. Jujur, saya juga suka main games, walaupun hanya sebatas Fruit Ninja, haha.

Ketiga, melepaskan ketegangan. Siapa bilang anak-anak kita nggak tegang? Coba cek jadwal belajar mereka di sekolah. Saya sering melihat tweet atau status teman dan kerabat yang anaknya sudah duduk di Sekolah Dasar, biasanya mereka mengeluhkan materi pelajaran zaman sekarang yang sulit. Nah, kita yang dewasa saja bilangnya sulit, apalagi anak-anak?

Belum lagi, anak-anak ketika diajak ngobrol oleh orangtua yang pertama ditanyakan adalah, “Ada PR nggak?” atau “Kamu udah belajar belum?” semakin beratlah, ‘beban hidup’ anak-anak kita.

Keempat, menghilangkan kebosanan. Saya pernah tweet kira-kira begini, “Kita memang capek kena macet dan bekerja, tapi anak-anak juga capek dan bosan menunggu kita pulang”. Bayangkan, berapa jam kita meninggalkan mereka? Saya sering menghitung berapa lama saya tidak berada di samping Langit, sekitar 12 jam, ternyata! Bayangkan, sekolahnya hanya 2-3 jam, 10 jam lainnya ngapain?

Bagi anak-anak yang sudah SD, selesai sekolah, mereka biasanya ada les atau kursus atau apalah namanya itu. Kira-kira anak bosan nggak, dengan rutinitas tersebut? Kita yang dewasa pun, bekerja 8 jam sehari, 5 hari seminggu, pasti pernah merasa bosan, kan?

Kelima, meningkatkan keterampilan dalam bermain games. Anak-anak yang sudah main games tertentu, biasanya ingin meningkatkan keterampilannya ke tingkat yang lebih tinggi.

Keenam, merasa berkuasa atas sebuah hal. Bisa dibilang, selama menjadi anak-anak, kehidupan kita selalu ‘dikuasai’ oleh orangtua. Maka saat nge-games, anak-anak merasa berkuasa atas suatu hal. Ia bisa bebas ‘menyetir’ tokoh yang ia mainkan sesuai yang ia inginkan.

Seperti juga televisi, saya pribadi tidak bilang it’s a big no-no, ya, tapi ada beberapa rambu yang harus kita perhatikan saat memfasilitasi games pada anak:

  • Pastikan Mommies punya alasan yang kuat untuk memberikan games pada anak
  • Sepakati pemberian games pada anak dengan pasangan.
  • Update selalu pengetahuan Mommies terhadap perkembangan teknologi. Apa yang kita anggap canggih saat ini, bisa jadi ‘ketinggalan zaman’ untuk anak-anak kita.
  • Jelaskan alasan kenapa kita mengizinkan anak bermain games atau kenapa kita melarangnya
  • Jelaskan juga efek negatif bermain games untuk tubuhnya pada anak
  • Berikan dan patuhi peraturan anak main games. Ingat, yang mematuhi tidak hanya anak, lho. Tapi juga orangtua. Nggak adil, kan, kita melarang anak pegang tablet untuk main, tapi di hadapan mereka kita asyik-asyik buka Facebook atau scrolling timeline Twitter?
  • Lakukan kontrol terhadap semua media games anak, kalau perlu mainkan sampai usai sebelum diberikan kepada anak. Kenapa? Karena ternyata banyak sekali games yang awalnya sesuai dengan anak-anak, ternyata di beberapa tingkat setelahnya mengandung kekerasan atau pornografi.
  • Cari rating games tersebut. Penjelasan rating games, Mommies bisa lihat di situs esrb.org

Bagaimana jika anak sudah telanjur kecanduan? Hal pertama yang harus dilakukan adalah, berunding dengan pasangan lalu minta maaf pada anak. Kenapa minta maaf, karena, kan, kita yang kasih fasilitas games untuk mereka. Setelah itu, tanyakan perasaan anak, hargai apa pun yang ia katakan. Dan, dampingi anak selama ia sedang dalam ‘proses pemulihan’ dari kecanduan  tersebut.

Semoga berguna, ya, Mommies. Lagi pula, bukankah lebih enak main lari-larian, daripada sibuk dengan gadget masing-masing? ;)


5 Comments - Write a Comment

  1. pas kecil dulu aku kecanduan games. sekitar usia SD-SMP (sampe sekarang masih suka maen sih)
    bisa berjam-jam main sendiri, waktu itu sih karena ada komputer di rumah (padahal tujuannya buat kerja bapak :D), gamesnya mulai dari Prince of Persia, Pipes, Super Mario. Trus mulai Tycoon (segala seri), SimCity dll, dan sekarang the Sims (beserta semua add ons nya).

    Padahal dulu graphicnya ya ampuun… kaco banget, tapi ya asik2 aja maennya.
    Sebab musababnya belum ketemu beneran sih kenapa, tapi maybe karena yg ke-6 itu. jadi punya dunia sendiri, lepas dari kenyataan (I sounded like a depressed kid ya?). makanya lebih seneng games yang strategy daripada yg tembak menembak. You are someone else in the game.
    Dulu parah banget sampe kalau sekolah yg dinanti cuma ntar kalau maen game bakal begini, begitu, begono. ahaha!

    Untung pas sma udah mulai sibuk, jadi waktu maen game berkurang, waktu mikir strateginya juga berkurang, jadi kalah terus dan males nerusin… hahaha.

  2. Kalau Danny-boy (18m) karena suka liat Om-om’nya (adik2 saya) suka ngePS WE (Winning Eleven), kadang suka iseng mencet2in joysticknya PS meski PSnya lagi nda dinyalain. Hi3x. Tapi ini mungkin karena lagi hobby meniru aja ya. Kalau u/ bermain gadget sih dia lebih suka Ant Smasher. Jadi mencet2in semut2 gitu. Itu juga nda lama; 5 menit maksimal. Sisanya bosan :D

  3. Hmm ngomongin mslh iPad…kmrn br aja beliin anak2 ku iPad. Bukan knp2 sih…aku mikirnya disitu byk aplikasi edukasi nya. bukan krn ikut2 an. hehhe. iPad aku isinn dgn aplikasi edukasi…ada sih bbrp gamesnya yg tentunya aku pilih yg sesuai umur mrk. Emang mesti berhati2 krn aplikasi games ternyata banyak juga yg serem n sadis. Hehehhe.jd tergantung para kt orang tua untuk memfilter dr awal apa aja isi iPad anak kt.

  4. dari dulu saya gak suka game…semua kakak,keponakan sekarang suami dan anak,ipar2 saya suka sekali….malah papanya bliin xbox hiks….hiks…ya sudah akhirnya saya tambah kerjaan jd satpam yg super gualak….Alhamdulillah anak ngerti dangak pernah lama mainnya.dia mainnya yg bergerak alias pencalitan jd gak hanya mencat-mencet biar rada langsing juga…Mudah-mudahan adiknya tidak tertular virusnya hehee…..

  5. Kadang bingung kalau masalah games, mungkin kita harus lebih memilah dan memilih dulu games nya apa. Karena kadang games bikin anak lebih cepat refleks nya, tetapi kadang games juga bisa mengalihkan konsentrasi anak, ketika harusnya belajar, pikirannya masih melenceng sama games, jadi sulit berkonsentrasi. Jadi kita harus benar-benar mengawasi.

Post Comment