Desember, Our Month

Desember, mau nggak mau, dinobatkan jadi Our Month, karena selain ada ulang tahun suami, anniversary, dan ketambahan jadi bulan ulang tahun anak pertama.

Bisa dibilang sejak Desember 2004, saat si sulung lahir, kami berdua tidak pernah lagi bisa meluangkan waktu sekedar pergi makan atau nonton berdua. Sejak masih di rumah orangtua, yang mana orangtua saya, kalau nggak penting banget, nggak akan mau dititip cucu sampai lulus toilet training :D, lalu pindah ke Semarang tanpa pembantu dan sanak saudara yang bisa dititipi anak, sampai sekarang pindah lagi ke ibukota.

Karena kali ini kami punya pembantu yang, walau pulang pergi, tapi kerjanya efisien dan bisa dititipin anak-anak bahkan bayi, anniversary tahun ini pengennya bisa nonton dan makan sebentar. But it turns out…pas harinya malah suami harus lembur *keluh*. Walau tetap kecewa, tapi sudah nggak bisa sebal. Sudah capek juga ngomel urusan no-need-to-sweat-little-things. This is our 12th year together, and this December is supposed to be our 9th anniversary, yet a simple casual dinner and movies for two, doang, saja nggak kesampaian.

Di sekolah Darris dan Dellynn, ada kebiasaan setiap habis UAS dan sebelum terima rapor outing, Semester ini outing-nya berupa outbound di Situ Gintung. Ingat, kan, hampir empat tahun yang lalu, waduk ini sempat longsor dan menyebabkan banjir air bah dengan korban jiwa? Nah, saya yang biasanya cuek sama outing anak, dengar outing ke Situ Gintung jadi kepikiran. Kebetulan, orangtua murid yang lain juga sama khawatirnya, jadi banyak teman untuk patungan ramai-ramai ikut ke tempat outing (jatah dampingan orangtua sebenarnya hanya untuk 2 orang per kelas, sisanya transportasi pribadi).

Suami memastikan bisa cuti, tapi katanya nggak mau berangkat karena “Cengok kumpulnya sama ibu-ibu.” Baiklah :D Saya bisa saja berangkat, cuma nggak bisa sambil bawa bayi 8 bulan. Walau nampak keder, suami menyanggupi di rumah seharian bertiga saja dengan Devan 3 th 9 bln dan Dendra. Petunjuk meracik bubur Dendra sudah saya tempel di kulkas, malam sebelumnya. Untuk makan, kami sudah buat pasta yang tinggal dihangatkan saja kalau mau makan supaya praktis.

Pagi sebelum saya, D1 dan D2 berangkat ke sekolah, D4 yang diharapkan nggak kebangun malah melek. Kesempatan mengosongkan kendi dulu, sih, tapi bisa repot kalau dia sadar mau ditinggal seharian sama kendinya. Saya memang tidak menyimpan stok ASIP karena D4 nggak doyan. Jadi, ASIP hanya berguna untuk campuran scrambled egg atau makaroni skutel. Setelah menyusui kami langsung berangkat tanpa berpanjang-panjang.

Bisa diduga satu jam pertama saya berangkat, pesan whatsapp mengalir :D

“Mah, ini Dendra tidur lagi jam berapa, ya?” – minta sarapan dulu kali?

Later…“Sarapan sudah, kok, nggak merem juga, ya?” – ya, sengantuknya. jadi makan pisang? 2? mau?

“Mau, langsung habis” – wah, hebat juga bisa suapin sampai habis, pikir saya.

Diaper diganti jam berapa?” – biasanya nggak lama habis makan dia pup.

Lalu … pesan berhenti.

Saya menikmati kesempatan me-time walau tidak sepenuhnya santai juga. Memang, ya, namanya anak, seberapa pun mandirinya, tapi anak usia 6-7 tahun, tetap saja masih slebor sama barang. Baju basah keselip, ikan tangkapan bocor atau tumpah, sepatu atau sandal ketlisut, sampai barang ketinggalan. Untung pihak sekolah sudah terbiasa dan sigap mengamankan barang dan anak-anak. Lumayan, lah.

Persis sesuai jadwal, setelah Magrib kami tiba di rumah dengan selamat. Dendra menyambut saya dengan senyuman lebar tanda sudah bisa menyusu langsung sama kendinya. Saya yang siap mental pulang-pulang langsung dioperi bayi rewel, cukup takjub melihat situasi yang … biasa saja :D

Bahkan saya kagum dengar laporan hari ini Dendra makannya lancar, padahal sudah semingguan GTM. Ppffttt, rupanya GTM karena bosan lihat muka saya ketimbang masakan saya *tekuk muka*.

Setelah sembilan tahun dan empat anak, kali ini suami lulus jadi babysitter satu balita dan satu bayi selama 12 jam penuh. Kapan-kapan kuota dan tempo ditambah, ya, Ayah *ngelunjak*.

Hal ini membuat saya sadar, inilah kado anniversary tahun ini. Lebih berarti dari fancy restaurant dinner, apalagi sekedar nonton James Bond. There will be another time for these.

Selamat Ulang Tahun perkawinan ke-9, Ayah. Thank you for these colorful years, and may our wish will come true sooner than we expected.

Selamat ulang tahun juga, semoga panjang umur, sehat terus, dan selalu sayang serta disayangi keluarga.

 

We love you, Ayah…

 


7 Comments - Write a Comment

  1. Happy birthday Mr. D, D1 and happy anniversary ya mak Kir hehe.. kalo nitip anak sama suami emang udah sadar diri untuk ga menuntut dia melakukan persis kaya apa yg biasa kita lakukan.. sebetulnya malah suami2 itu mau ditinggal berdua anak aja udah bersyukur banget hehe..

  2. Haha, beberapa hari yang lalu juga gue merencanakan untuk menikmati me time dengan luluran dan spa. Tapi pas ditanya lagi apa papinya menyanggupi ditinggal berdua aja dirumah, jawabannya adalah: Ikut mami ke salon! ya… terpaksa cancel lulurannya deh, ganti creambath aja yang nggak makan waktu “___”

Post Comment