Beyond the Happy Family Snaps…

*gambar dari sini

there is a dark side

Ayo ngaku, siapa yang suka pasang prof pic BBM dengan foto si kakak lagi mencium sayang si adik padahal aslinya si kakak jealous melulu? (biasanya fotonya pun setting-an, si kakak sengaja disuruh mencium, bukan karena keinginan sendiri, hihihi).

Atau mungkin foto anak yang lagi berani naik kuda sendirian padahal aslinya setelah foto diambil, si anak nangis kejer minta turun? :p

Berani taruhan, mesti tidak selalu, tapi apa yang tampil di foto keluarga kadang berbeda dengan realita sesungguhnya. Pencitraan, dong … biar kesannya keluarga mungil nan bahagia gitu, makanya cuma yang happy-happy saja yang di-posting, sementara jeleknya, mah, dikekep sendiri.

Bukan hanya di foto, sikap sehari-hari pun setali tiga uang. Di hadapan keluarga besar dan lingkungan, kita tampil memainkan peran sosok ibu sempurna. Penuh kelembutan, sabar, berbicara pada anak dengan kalimat positif, dan sederet kriteria ibu sempurna lainnya. Tapiii, apa yang terjadi di balik pintu rumah, belum tentu ….

Itulah yang saya alami. Di balik posting foto keluarga yang terlihat baik-baik saja, I have a dirty little secret, something so shameful to reveal that I risk losing the majority of my dignity by admitting it here… yaitu: saya pernah kebablasan menampar Rakata :'(

Ya, meski selama ini saya merasa cukup santai menjalani peran sebagai ibu, nyatanya saya pernah terbawa emosi. Jangan tanya seperti apa penyesalannya. Sampai sekarang, jika melihat Rakata tidur, saya suka mewek sendiri bila teringat kejadian tersebut.

Bukan hanya menyesal, saya pun merasa malu. Malu pada diri sendiri, karena tidak menyangka bisa menjadi sosok ibu yang melakukan kekerasan—padahal saya pernah bersumpah untuk tidak melakukannya, tapi ternyata saya lakukan juga saat usia Rakata tiga tahun :'(

Selain itu, malu juga pada lingkungan sekitar (meski jika saya diam saja, sebenarnya tidak ada yang tahu juga, sih). Bahkan, awalnya saya merahasiakan kejadian tersebut dari suami. Saya khawatir, pandangan suami pada saya berubah. Jelek-jelek begini, suami menganggap saya cukup sempurna, lho, sebagai ibu *uhuk*

Tapi, tidak enak sekali menyimpan dirty little secret seperti itu. Rasanya, kok, munak banget. Akhirnya, beberapa minggu setelah kejadian, saya cerita ke suami. Tidak disangka, suami ternyata memaklumi. Suami malah cerita tentang tantenya (yang di mata saya, tantenya itu baik dan asyik!) bahwa dia pun pernah melihat si tante kelepasan memukul anaknya. Saya sampai tidak percaya, masa si tante melakukan itu?

“Ya, namanya juga manusia. Wajar sesekali nggak bisa kontrol emosi. Sudahlah, yang penting lo sadar itu salah. Nggak usah dinasehatin, lo juga pasti sudah menyesal, kan?” kata suami.

Fiuh. Lega rasanya bisa jujur. I have no dirty closet now. Perasaan menyesal masih ada, tapi saya seperti ‘terbebas’ karena tidak perlu lagi berpura-pura segalanya selalu berjalan lancar sempurna.

Tidak hanya bercerita pada suami, saya pun BBM sahabat saya, Desy Widiastuti M,Psi, psikolog kece yang lagi hamil 7 bulan. Balasan dari Desy pun sangat menenangkan. Desy bilang, “Manusiawi, Mel. Ada saatnya anak-anak blingsatan terus kebetulan kita lagi di kondisi nggak sesabar biasanya, jadinya once or twice suka khilaf.”

Desy malah membandingkan pola asuh saya dengan temannya yang lain. Menurutnya, tindakan saya yang kelepasan menampar Rakata tidak lebih buruk daripada temannya yang galak dan terlalu mempermasalahkan hal kecil dalam mengasuh anak. “Lo cuma kelepasan sekali, sementara dia konsisten setiap hari kayak gitu pola asuhnya,” kata Desy.

Lagipula, Desy menegaskan, saya bukan satu-satunya ibu di dunia yang berusaha terlihat sempurna.

Berikut penjelasan Desy mengenai fenomena tersebut:

“Pada dasarnya kita adalah individu sosial di mana segala tingkah laku, sistem belief yang kita punya tidak terlepas dari penilaian lingkungan sekeliling kita. Evaluasi/nilai ‘ibu yang baik/sempurna’ dari lingkungan menjadi bentuk motivasi bagi para ibu untuk menampilkan perilaku yang kurang lebih memenuhi ekspektasi lingkungan.

“Dari kecil hingga dewasa, kita belajar dari lingkungan, entah dalam bentuk observasi sederhana, membaca, atau belajar memahami bahwa ibu yang baik/sempurna adalah ibu dengan kriteria tertentu. Kriteria inilah yang menjadi bentuk belief dan menuntun ibu untuk berperilaku sesuai ekspektasi lingkungan.

“Contohnya, kita memiliki belief bahwa salah satu kriteria menjadi ibu sempurna adalah ketika berhasil mengasuh anak tanpa melibatkan kekerasan (membentak, mencubit, memukul, dsb). Walau kadang kita melakukannya, namun kita menutupi kondisi tersebut dari lingkungan dan menampilkan seolah-olah berhasil mengasuh tanpa melibatkan kekerasan. Kondisi ini tentu saja mendatangkan apresiasi dan perasaan bangga, bahwa kita masuk ke dalam kriteria ibu yang baik/sempurna (dengan pembenaran, toh, hanya melakukannya sekali, selebihnya memang mengasuh tanpa kekerasan).

“Pada dasarnya, sah-sah saja menampilkan diri sebagai sosok ibu tanpa cela, karena bagaimanapun apresiasi yang muncul dari lingkungan dapat dijadikan motivasi untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi. Namun, jadi berbahaya bila kita selalu menampilkan image sebagai ‘sang ibu sempurna’ padahal kondisinya tidak demikian (misalnya pada situasi real lebih banyak membentak daripada mengasuh dengan pendekatan yang seharusnya), lalu menjadi ‘ketagihan’ akan apresiasi yang datang dari lingkungan sehingga kita terus menerus berbohong, bukannya menjadikan apresiasi sebagai pecutan untuk menjadi ibu yang lebih baik lagi. Hal ini akan mempengaruhi relasi ibu-anak dan berpengaruh pada tumbuh kembang si anak.

“Intinya, boleh saja kita menampilkan imej sebagai ibu yang baik/sempurna sejauh kondisinya memang tidak terlalu berbeda dengan apa yang terjadi dalam situasi real. Tapi perlu diingat bahwa kita bukanlah satu-satunya ibu yang mengalami kesulitan dalam menghadapi anak, sehingga tidak ada salahnya share/berdiskusi/bertanya dengan orang yang tepat/dipercaya sehingga kita dapat jujur terhadap diri sendiri dan lingkungan tanpa harus berbohong dan menutupi kondisi sebenarnya hanya demi imej.

Naaaah … Mommies sendiri, apa dark side di balik foto keluarganya yang sempurna? Urusan ranjang dengan suami mulai dingin sejak kehadiran anak? Alasan menjadi working mom bukan karena finansial dan aktualisasi, melainkan karena tidak sabar menghadapi anak seharian? Malas menambah anak karena sebal pada suami yang kurang andil dalam merawat? Atau, mengaku bahagia dengan pernikahannya tapi diam-diam belum move on dari mantan yang bahkan juga sudah punya anak-istri? :D

Yuk, rame-rame cerita di sini. Rasanya enak, lho, jujur mengakui yang selama ini kita tutupi. Lagipula, (bukannya negative thinking, lho, ya) IMO, apa-apa yang terlalu sempurna kadang mencurigakan, karena biasanya justru ada yang disembunyikan. Saya yakin, 95 persen ibu-ibu punya dirty little secret. Sementara 5 persen yang mengaku tidak punya, pasti berbohong :D

 


34 Comments - Write a Comment

  1. :)) no ART dgn 4 bocaaah pastinya ‘sering’ kelepasan,tapi yaa ga ujug2 jg,ada step2nya dr mulai vol.1 hingga tak hingga :p ,klo uda kelepasan,nyesellllll pastinya,mrk’cm’anak2 gt loh,ga bs maksa mereka utk mngerti saya,saya yg harusnya mengerti mrk :'( ..klo uda gt brasa jd start dr awal lg dgn apa yg namanya ilmu parenting*uffhh brasa ga lulus muluk di mata pelajaran ini :D*

    Klo mslh org lain ngeliatnya sbg ibu yg sabar or keluarga yg happy etc,bg saya Alloh sdg menutupi’dirty secret’sy dr org lain,dan mberi kesempatan utk sll mnjdi lbh baik lagi..yaa beda lg klo si anak curcol :)),dihadapi dgn senyum aja gitu..

    Yg penting sik ga segan minta maaf dan mjelaskan apa yg mbuat kita bisa ‘kelepasan’ sm mrk,daaan brusaha utk bs lbh lbh lbh ~ nahan diri utk ga ‘kelepasan’ lagiii..

  2. My dirty secrets are no longer secret.
    1. Kelepasan teriak2 di restoran sambil maksa anak supaya makan tanpa lepeh n muntah.
    2. Slap pernah 1time.
    3. Spank: sometimes.
    4. Yelling: not proud of it but happened most of the time.
    5. Time out as punishment
    OMG, always think myself as the worst mom of all.

  3. 1. Pernah membentak anak saat dia mulai menggigit puting pada saat breastfeeding
    2. Pernah terpikir untuk membanting anak pada saat menangis dan rewel ga karuan *terutama terjadi pada 3 bulan pertama jadi ibu baru, saya hampir gila saat itu dihantam depresi akut baby blues syndrome ditambah komentar negatif dari mertua yang datang menengok cukup lama
    3. Pernah berkeras hati membiarkan anak menangis sampai lama dan berteriak putus asa mengharapkan ibunya peduli :'( *menyesal setengah mati sampe sekarang
    4. Lalai dalam pengawasan sehingga anak terjatuh dari kasur pada umur 5bulan, dan terpelanting jatuh kena kepala bagian belakang saat 14 bulan..

    Semoga Allah SWT mengampuni saya, dan semoga aila tidak membenci saya sebagai ibunya :'(

  4. Whoa! Dirty little secretsku ngga secret soalnya, karena anak2 udah mengakui kalo di balik kelembutan gw, tersembunyi kegalakan yang ruarr biasa terutama kalau mereka 1. Bohong, 2. Berantem/nggak sopan sama saudara/orang lebih tua, 3. Malas belajar. . Nggak pernah langsung nyubit atau mukul, tapi mulai dari teguran halus sampai teriakan membahana ala inspektur upacara bendera di lapangan bola. Cukup memalukan, karena tetangga kiri-kanan, depan belakang jadi pada denger :(( Nyubit, mukul dan jitak gw terpaksa berlakukan setelah mereka SD dan biasanya kalo udah 5x dibilangin masih ngga ada perubahan, dan anak2 udah tau konsekuensi ini. Pernah Hanif dan Aca gw suruh tidur di teras luar rumah dan di kamar mbak yang kosong, selama beberapa jam karena mereka berantem lagi dan gw udah males marah dan nyubit. Sekarang, setelah tahu “currency” mereka sih lebih mudah; nggak boleh main komputer/iPad/nonton TV, nggak tidur bareng gw atau malah sekalian tidur sendiri. Cuman mulut ini lho, koq belum berhasil juga marah dengan lembut dgn konsisten.

    Penyesalan setinggi gunung sedalam lautan selalu datang terlambat dan gw selalu sedih karena ketidaksabaran gw. Ini juga masih teruuuuus berusaha untuk belajar sabar dan ngga gampang meledak lagi.

  5. dosa-dosa-ku selama 16 bulan menjadi ibu; membentak anak saat tidak mau minum obat saat sakit (efek dari ibu-nya yg stress krn anak sakit dan ga tau harus gimana lagi), berfikir membanting anak saat masih usia 3 bulan dan msh sindrome baby blue? pernah. lalai pengawasan yang menyebabkan anak jatuh dari tempat tidur sampai 3 kali…dan itu saya sesalkan sekali…smoga tidak terjadi apa2 di kemudian hari-nya.

    membaca thread mba amel hampir semua kalimatnya membuat “JLEB-JLEB-JLEB” karena mostly it’s so true. saya jadi seperti berkaca, semoga kedepannya saya tidak kelepasan dan tidak menambah list dosa saya lagi…

  6. and its me..not proud..but i have to admit it. being a working mom just because i need space for myself. egois kah? aku pernah jd stay at home mom, tapi malah ga bahagia, marah2, cape dan ga berkualitas hubungannya sama anak dan suami. sekarang karena waktu bersama anak terbatas, justru setiap saat dimanfaatkan buat sayang2an, ngobrol dan melakukan berbagai macam kegiatan seru sama anak.

  7. my dirty little secret gw buaaannyyyaaakkkkk!!! T__T *ga muat ini kolomnyah* :P
    selalu suka naik darah kalo Kayla (3y) mulai nangis2 ga jelas minta ini itu. tp akhir2, begitu gw mulai pelototin Kayla, dia lsg ngomong sambil tetep nangis “tapi mama jangan malah”. klo udh denger dia ngomong gt, lsg rada ademan dikit siy..
    dulu2 mah ampun dah.. selalu kepikiran buat nabok atau ngebanting Kayla klo mulai meracau ga jelas :( *kacau yak*
    kepikiran mau resign krn pengen punya banyak waktu luang sm anak. tp disatu sisi mikir kuat ga yak gw seharian ngadepin anak gw sendiri :s
    setiap ngeliat Kayla lg bobo, rontok nih perasaan. langsung feeling guilty sm perilaku gw yg agak nyeleneh sm dia :(

    btw, seneng banget deh nemu artikel iniiiihh.. jadi ngerasa ga sendirian *peluk* lega jg bs sharing sesama emak2 yg punya dirty little (not) secret (anymore) :D

  8. nenglita

    Hummm,,,,, apa ya?

    Mukul atau kekerasan fisik, alhamdulillah belum pernah dan mudah2an nggak akan pernah. Bukan karena pencitraan sih, tapi memang alhamdulillah sebelum sampe ke tahap itu, gue udah ‘sadar’ duluan.

    Banyak yang bilang gue cukup jarang marah sama Langit, tapi gue lebih ke tegas. Kebetulan memang agak tegas kalo ngomong, haha, jadi keluarnya kalo marah sama anak ya tegas itu.

    Penyesalan terbesar gue adalah menyapih karena gue nggak tahan. Pundak gue kebetulan terkilir yang sebelah kanan, kalo nyusuin malam2 sambil tidur sementara posisi Langit ada sebelah kanan, itu suakitnya minta ampun Yang ada malam2 kalo Langit kebangun minta nyusu, gue sering ngedumel, akhirnya Langit 23 bulan, gue sapih dengan agak sedikit memaksa dan bukan dengan cinta. Hiks. Padahal cuma momen menyusuilah yang nggak akan bisa diulang seumur hidup kami berdua *nulis ini jadi berkaca-kaca*.

    Hal lain yang menjadi rahasia gue (dan bukan rahasia lagi deh, sekarang) ga mau (apa belum mau?) nambah anak adalah karena gue merasa suami belum ikut andil sepenuhnya dalam pengasuhan anak. Eh kalo dia baca ini dan tau2 ikut sepenuhnya ngasuh anak, juga belum tentu mau hamil lagi sih, hehehe…

    Nice article, Mel! Bikin gue ngaca dan review pola asuh ke Langit lagi :)

    O iya, titip cium buat Rakata, memukul sekali tapi kan pelukan dan ciumannya untuk Rakata kan lebih banyak :)

  9. hakkkjlebbbbb.. hahaha… soal yang foto profpic apalagi.. misal pas anak lagi gambar apaaa gituu or anake ngapain kadang2 abis difoto anaknya dicuekin buat masang profile pic or tweet dulu.. padahal buat anaknya ga penting potonya dipamerin tapi lebih penting emaknya cium2 or muji (ya tetep cium or muji sih..tapi abis ngetweet) *gampardirisendiri*
    Klo soal mukul alhamdulillah belum pernah mukul/spank/cubit/toyor ke anak.. tapiiii gw kadang suka ngerasa bersyukur klo anak lagi diasuh tv.. hikssss… ada perasaan lega kaya “untunggg lagi nonton tv jadi bisa ngerjain yang lain”. Or even worse.. bahkan nyuruh anak nonton dulu supaya gak gangguin…gak baikk ya buibukk..jgn dicontoh dirikuu…
    Mesti harus maksimalin quality time nih.. Bener setuju sama komen diatas.. pas ngeliat anak lagi bobo langsung feeling guilty to the makkksss.. :( langsung siwer di otak “i should’ve done this..that..bla bla bla”
    But anyway.. slama kita masih feeling guilty..berarti itu akan selalu kasih kita room for improvement to be a better parent.. daripada kita ngerasa semua baik2 aja padahal nggak.. Hugss for all the mommies here..

  10. huhuhu.. baca artikel ini jadi inget kejadian waktu pertama kalinya…. akuuuu.. huhuhu :'( ceples pantan lian :S
    sebenernya ceplesnya seriiuuuuuusssss ga keras malah, seriuuussss.. huhuhu ;'( sedih ingetnya..
    Lian (2y22d) emang lagi masa2 toilet training juga disapih, waktu itu dia udah ribuuut aja minta mimi buat pengantar tidur paginya, aku ribet sama rengekan Lian plus lagi berusaha buat ajak pee dulu ke kamar mandi sebelum tidur.

    Jadi itu Lian ngerengek+nangis+memberontak buat minta mimi sama nolak diajak ke kamar mandi (duuh aku ibu yang jahat :S) sementara aku maksa2 buat ke kamar mandi, aku waktu itu ngerasa capeeeee banget sama bolak balik ngompolnya Lian :S

    abis aku ceples 2x, Lian sambil nangis bilang “sakit maa” huwaaaa :'( aku jahaaaattt!!! :S

    akhirnya cepet2 aku mimi-in, aku elus2, aku usap2, sambil teruuusss minta maaf ke Lian,, huhuhu sediiiihhhh…

  11. Gue apa yaaa? Emmm… Belom pernah sih mukul Menik. Ini gue rasa karena seumur hidup gue pun gak pernah kena kekerasan fisik dari orang tau gue.

    Tapiiiiiiiiiiii, seperti yang gue akui kalo gue pernah kena baby blues, gue pernah loh ganti popok dengan kasar sakiing udah capeknya ganti popok melulu, kurang tidur, plus nyusuin melulu. Pas Menik mulai jalanpun, gue kadang-kadang di rumah suka ‘males’ jagain, capek bok x)) jadi yang ada gue pangku aja atau gue ajak tidur2an di kamar biar gak jalan-jalan hahahaa adooohhh emak macam apa gue??

    TFS, Ameeeelll, makasiihh juga buat kalimat-kalimat penenang dari Psikolog-nya. At the end, we are all just human being, just stay true to our self ;)

  12. Gooooodddddddd,,,how lucky I am to have you all mommies,,,,bener2 gak sendirian ya.

    Aku baru 6 bulan jd Bunda and dah banyak bgt penyesalan2nya,,,
    – Daanesh padahal masih bayi ya tp dah aku suka bentak klo lg rewel, apalagi Daanesh paling rewel klo soal ganti-mengganti baju,celana,popok *ugh* bayangkan berapa kali aku bentak my precious baby dlm sehari *nangiskejer*
    – Kantor jd tempat buat istirahat,,,rasanya legaaaaaaaa bgt klo weekdays *maafin Bunda ya Mas Daanesh T_T*
    – Bener2 ogah hamil lg karena cm aku yg jd pencari nafkah,aku yg urusin anak,aku yg begadang terutama klo anak sakit,aku yg berjuang sendiri soal pengasuhan,aku yg bertahan utk RUM,untungnya aku gak perlu berjuang sendiri soal ASI
    – Sering nangis kejer or berantem ma ayahnya di depan Daanesh *komat-kamit berdoa semoga ga da yg salah dgn kejiwaannya ngeliat bunda nya setres*
    – Pengen ngebanting jg pernah T_T
    Semoga gw ga pernah melakukan kekerasan fisik ke Daanesh walopun kekerasan secara emosi udah sangat cukup ngebuat kejiwaannya terganggu jg ya

    Thanks ya Mbak Ameel atas sharingnya,,moga dgn para mommies bs sering curhat gini bisa meminimalkan kesalahan2 para mommies yg memang cuma manusia biasa ini
    Really love you all mommies

  13. abis lahiran anak ke 2, abel rewelnya ampun2. semua harus sama mamah. waktu itu gak punya art, hanya minta tolong kk ipar. mau dimandiin kk ipar gak mau, nangis kejer teriak2 harus sama mama.. harus sama mama. mamahnya pusing lagi beresin jemuran banyak, akhirnya udah gak sabar lagi, tarik dia dari gendongan kk ipar, trus masuk ke kamar mandi, tutup pintu, trus guyur aer kepalanya. dia makin nangis jeriit ampun maaa, gak mau diguyur maaa… duuh.. langsung tersadar.. kok aku jadi kaya bukan mamanya? akhirnya aku gendong abel, handukin, duduk peluk2an berdua di atas kloset.. cukup lama, sambil minta maaf ke abel… Kalo ingat hari itu, jadi pengen nangis mengingatnya… Mudah2an aku selalu diberi tambahan kesabaran yang lebih setiap hari…. TFS

  14. So true…

    Baca tulisan Amel jadi berkaca2 sendiri…

    Baca comment Mommies yang laen malah jadi tambah mewek… :'(

    Mengutip dari 2 paragraf terakhir dari Amel soal si dirty little secret:
    1. Urusan ranjang dengan suami mulai dingin sejak kehadiran anak? CHECKED!
    2. Alasan menjadi working mom bukan karena finansial dan aktualisasi, melainkan karena tidak sabar menghadapi anak seharian? CHECKED!!
    3. Malas menambah anak karena sebal pada suami yang kurang andil dalam merawat? CHECKED!!!

    Soal urusan ranjang emang entah kenapa saat Danny-boy udah lahir, bawaan jadi males ajah deh klo diajak lovey dovey, padahal dulu mah ampun2 deh nempel terus sama suami kaya perangko… Malah bawaannya jadi risih dan sebel klo suami mulai bermanja2… betapa aku istri yang dingin… T_T

    Jadi WM memang adalah bagian dari aktualisasi diriku, tp aku juga sering kali tersadar klo ternyata aku cukup kewalahan dalam menghadapi Danny-boy yg super duper active!! Kemaren ini aku baru ajah ambil cuti 5 hari dan rasanya cuapeeeekkkk buanget dan bener2 teruji kesabaranku… Diam2 aku bersyukur menjadi WM karena nda melulu ditempelin Danny-boy… HIKS!! Emak2 macam apa aku ini…. T___T

    Aku akui Danny-boy dekat dengan papanya, namun hanya u/ bermain ajah… Selain itu, hampir semua keperluannya Danny-boy aku yg urus (dibantu eyangnya saat aku ngantor) Jadi berasa gimana gitu… Masa aku dah mengandung 9 bulan sekarang juga aku duank yg bener2 ngurusin Danny-boy … Yup! Aku egois banget yaaa… T___T

    Masih banyak lagi dirty little (not) secret (anymore) yang ku’punya, tapi nda akan cukup space ini bwat nampung semuanya…

    Anyway, bener2 suka sama tulisannya Amel kali ini….

Post Comment