Liburan Bebas Itinerary

Meski saya gemar sekali traveling, jaraaanng sekali saya membuat itinerary atau itin untuk perjalanan liburan saya. Paling mentok, ya, panduan kasar saja. Misalkan, hari ini ke A, besok ke B, lusa ke C. Plus data beberapa tempat yang pantas dikunjungi. Itupun masih bisa diubah, bahkan ditiadakan. Semua mengikuti mood dan sikon yang ada.

Kebiasaan ini berlanjut sampai saya punya keluarga. Saat pertama kali merencanakan liburan bertiga bersama suami dan Nadira ke Yogyakarta selama 3D/2N, saya bengong saat suami bertany,a “Mana itinerary-nya?” Hahaha. Aduh, maaf, ya, suami. Istrinya ini kan amat sangat nggak teratur. Prinsip saya, hidup itu mengalir saja seperti air. Lagi pula, menurut saya kita kan mau liburan. Kalau pakai itin-itin-an segala, apalagi yang diatur dengan rapi dan detail sampai ke jam dan menitnya, bisa-bisa saya stres sendiri.

Akhirnya, sebagai kompromi antara saya yang tidak suka itin dan suami yang sangat teratur itu, kami membuat daftar beberapa tempat yang sekiranya akan kami datangi. Plus lokasi-lokasi wisata kuliner yang oke, hasil mencari di search engine dan rekomendasi beberapa teman.

Suami yang biasanya OCD akut, akhirnya cuma berpesan bahwa di hari kedua kami di Yogya, ia harus berkunjung ke makam kakek dan adiknya di Boyolali. Yang artinya, kami harus mengubah rencana berkunjung ke Borobudur. Kami lantas memilih Prambanan yang lebih dekat ke Boyolali.

Kebetulan, liburan kami waktu itu bertepatan dengan liburan seorang sahabat dan keluarganya. Serunya lagi, mereka juga nggak punya itin. Yippiee! Kami pun berkeliling Yogya tanpa itin, hanya bermodalkan daftar places of interest, wisata kuliner, dan improvisasi di lapangan.

Liburan selanjutnya, saya dan suami sudah lebih PD untuk berangkat tanpa itin sama sekali. Yang penting kami sudah punya tiket pesawat dan pesan hotel untuk menginap. Untuk hotel pula, saya sengaja pesan yang cukup strategis. Maklum, namanya juga nggak punya itin. Jadi, inginnya yang praktis-praktis aja, bisa disesuaikan dengan mood gitu, hehehe..

Waktu ke Bandung selama 2D/1N, tujuan kami cuma wiskul dan belanja sedikit di FO. Alhamdulillah, berkat bantuan GPS manual (peta + tanya kanan kiri), nyaris semua tercapai. Perut kenyang, hati senang.

Nah, waktu ke Bali selama 4D/3N, kami juga nggak punya itin. Suami cuma pesan, dia ingin lewat rumah dan sekolahnya waktu kecil karena saat kecil, ia pernah tinggal di Bali selama beberapa tahun. Selain itu, tujuan kami standarlah ala orang Jakarta yang ke Bali dengan anak kecil. Nggak lain nggak bukan ke taman wisata semacam Bali Bird Park, Bali Safari Marine Park, dll.

Yang unik, kami justru dapat pengalaman baru ke Bali Butterfly Park yang bahkan dicari di search engine pun agak susah. Gara-garanya, suami ingin ke daerah Bedugul. Karena perjalanan jauh, saya iseng lihat peta di mobil sewaan dan melihat ada Taman Kupu-Kupu di jalan yang akan kami lewati. Lalu saya berdiskusi dengan suami dan sepakat untuk berkunjung ke situ. Nggak fantastis, sih, memang, tapi menarik juga melihat kupu-kupu cantik di situ. Apalagi saya lihat, meski baru bangun tidur, Nadira gembira luar biasa melihat kupu-kupu di mana-mana.

Terus terang, meski enjoying the vacation so much, saya dan suami sempat bingung, kok liburan kita isinya kebanyakan leyeh-leyehnya, ya? Bangun tidur siang, sarapan lama sambil ngobrol ngalor ngidul, dan sebagainya. Padahal kalau baca blog orang, rata-rata pada bangun pagi karena ambisius untuk pergi ke sana ke mari, mumpung di lokasi wisata. Saya dan suami pun jadi merasa orang termalas di dunia, hehehe..

Anyway, setelah membaca artikel tentang Liburan Dengan Itinerary, maka coba saya jabarkan, kekurangan dan kelebihan tanpa itin, sebagai berikut ya..

Kelebihan:

  • Lebih spontan. Kalau saya membuat itin dari Jakarta, mungkin saya nggak akan pernah berkunjung ke Bali Butterfly Park. Wong tahu saja nggak ada tempat bernama itu.
  • Bisa mengeksplorasi lebih banyak. Saat di Yogya, kami berkeliling kota dari gunung sampai pantai, tanpa batasan waktu. Saat mobil yang kami sewa sudah habis waktunya (10-12 jam/hari), kami memutuskan pulang dengan naik andong, becak, bahkan sempat naik kereta genjot keliling alun-alun dulu. Seru!
  • Yang punya anak kecil pasti paham deh betapa sulitnya untuk mengikuti jadwal yang terikat. Misalnya, jam 9 di itin yang sudah disusun rapi, harusnya kita sudah berangkat dari hotel menuju taman rekreasi. Ealah anak semalaman begadang karena sulit tidur menyesuaikan diri di tempat baru. Alhasil bangunnya pun kesiangan. Kita juga teler karena kurang tidur. Belum lagi saat anak sulit makan karena lebih tertarik melihat ikan, atau ingin berenang. Kalau kita stick to itin, dijamin liburan jadi nggak fun, dan ujung-ujungnya, stres sendiri. Waktu liburan yang harusnya memperkuat bonding keluarga, malah hancur berantakan karena ambisi kita untuk mengikuti itin sepenuh hati. Seorang teman saya curhat, saat traveling ke Australia bersama sebuah tour and travel, ia sampai sulit menikmati liburan karena berupaya sekuat tenaga untuk bisa keep up dengan jadwal yang ada. Bahkan sampai akhirnya ia dan anaknya nyaris sakit kelelahan. Sad, eh?

Kekurangan:

  • Tampaknya akan repot jika konsep no itin ini diterapkan ke lokasi yang belum pernah dikunjungi. Sampai saat ini, saya kan baru berlibur ke lokasi-lokasi yang sudah saya kunjungi puluhan kali sebelumnya. Jadi boleh dibilang, tanpa itin pun saya sudah menguasai daerahnya (tsaahh). Nah, kalau saya keliling Eropa tanpa itin sama sekali, padahal saya belum pernah ke sana, bisa mati gaya kayaknya deh.

Dengan atau tanpa itinerary bagi saya yang penting liburan harus gembira. Setuju nggak?


12 Comments - Write a Comment

  1. Kalo gue antara elo dengan Darina deh, bikin itinerary sekedar tempat2 yang mau dituju tapi nggak sampe detil ke jam-jamnya gitu. Palingan pagi/siang/sore/malem. Soalnya banyak nemu tempat-tempat tak terduga sih, kaya di tengah jalan tau-tau ada taman dan banyak burungnya yang bikin anak-anak betah karena bisa lari-larian dan ngejar-ngejar burung. Kasihan kalo disuruh buru-buru secara yang kaya gitu susah dicari di sini, kan. Kalo pergi ke tempat yang lebih familiar baru deh bisa santai tanpa ada itinerary sama sekali. Ahh jadi pengen liburan nih. Ira, tanggung jawab!

    1. Nah bener tuh Han. Kalo gue sih seringnya bukan bikin itin, tapi places of interest. Nanti kalo udah di kota tersebut, baru diklasifikasi sesuai mood dan jauh-dekatnya. Apalagi kalo nemu tempat-tempat kayak yang lo bilang itu. Kalo bikin itin strict, bisa bubar berantakan deh :)

      Liburan lagi doonngg.. Gue boleh ya masuk di dalem koper? :D

  2. Nambahin Kelebihan dan Kekurangannya yaaa!

    Kelebihan: less expectation. Kalo kita trip planning, biasanya kita udah kadung liat gambar / cerita yang indah-indah di internet. Entah itu hotelnya atau tempat wisatanya. Tapi pas sampe tempat tujuan, seringkali aslinya nggak seindah foto / ceritanya. No trip planning = no expectations = lebih legowo kali yee.

    Kekurangan: Nyasar dan kepentok hari libur / hari besar. Tanpa itinerary, kayaknya gue bisa meninggal disuruh menavigasi sistem subway kota besar di luar negeri yang njelimet, hahaha. Nggak akan nyasar sampe 24 jam sih, tapi dengan perencanaan, kita bisa tau, mana rute paling efisien (dekat dan murah).

    Kalo pergi liburan dalam negeri, misalnya Bali, minimal liat KALENDER deh. Banyak banget orang kecele, mereka kesana pas Galungan. Kuningan, Nyepi dll. Akibatnya, banyak tempat nggak beroperasi. Trus kalo ke tempat wisata, minimal liat jam buka-tutupnya deh.

    Sama ama Hanzkyyy… Gue selalu bikin daily itinerary, tapi nggak pake jam, dan selalu diiringi dengan open-minded-ness :D

    1. Nah ini dia suhu traveling yang asli!

      Gue setuju pisan sama semua yang lo jabarin La. Untunglah gue emang tipe yang santai dan gak terlalu ngarep macem-macem. Jadi pas ke Bandung nginep di hotel yang di Trip Advisor dibilang ciamik berat, eh ternyata banyak semut+kolam renangnya kecil banget, ya gue santai. Paling laki gue yang misuh-misuh sendiri.

      Soal yang Bali, itu beneran kejadian di gue Februari lalu. Ternyata gue ke sono 3 hari sebelum Galungan. Alhasil beberapa warung dan resto makanan khas Bali pun tutup karena ownernya pada mudik. Nasib nasiibbb :(

      1. Hahaha…. aku bukan suhuuu Mbak Ira! Suhu badan kali yaaa…

        Iyaa, gue pun HAMPIR terperangkap Nyepi di Bali. Alhamdulillah sempet ganti tanggal :D Soal expectations, iyalah yang penting legowo-legowo aja yes?

  3. Bravooo tim no itin! Hahahahahaha… Eh, satu lagi kelebihan no itin yang ga pake booking hotel dari sebelumnya: bisa nawar harga kamar! Gw seriiiing nyampe di TKP nginep tuh malem, trus bisa minta diskon sampe 30%, bahkan pernah 50% karena cuma make kamarnya bentar, malem sampe subuh doang *eh, bukan hotel jam-jaman ya :D
    Intinya: hidup tim no itin °\(^▿^)/°

Post Comment