Mama, Sumber Inspirasiku

Kedekatan yang dimiliki oleh saya dan mama berawal dari aktivitas di masa sekolah dulu. Saat itu saya termasuk anak yang aktif. Sering mengikuti perlombaan di sana-sini, terlibat dalam penyelenggaraan acara pentas di sekolah, hingga menjadi pengurus organisasi sekolah. Di setiap kesibukan itu, selalu ada mama di samping saya, mulai dari mendampingi proses perlombaan yang berlangsung sehari penuh, ikut menginap di Puncak sebagai pengawas acara perpisahan sekolah, dan bahkan mengantar saya ke mal untuk … pacaran *blushing*.

1993 – Mama dan Saya Saat Pentas Seni TK

Karena kedekatan ini pula lah, mama jadi mudah masuk ke pergaulan dan lingkungan saya. Mama mengenal semua teman-teman saya dan bisa ngobrol santai dengan mereka. Bahkan, beberapa teman juga sering ikutan ‘curhat’ ke mama. Zaman SMP dulu, mama ini favorit teman-teman saya, lho! Banyak teman-teman yang mengungkapkan keiriannya dan berkata, “Nyokap-nya Syita asyik banget, ya” atau  “Enak banget, sih, nyokap bisa menemani terus”, dll. Semuanya berhasil membuat saya tersenyum bangga.

2003 – Mama di Tengah Sahabat-Sahabat Saya Saat SMP

Semakin bertambahnya umur, saya semakin sadar bahwa mama bisa seperti ini karena fleksibiltas waktu bekerja yang dimilikinya. Ya, ibu saya bukan stay at home mom biasa, tapi beliau selalu bisa mendampingi saya dan kakak-kakak kapan pun dibutuhkan. Kebetulan mama adalah seorang wirausaha yang workshop-nya selalu berada di rumah atau dekat rumah. Kalau melihat lagi ke belakang, mungkin ini yang disebut dengan istilah “Kepala jadi kaki, kaki jadi kepala”, ya? Bayangkan, mama setiap hari bangun pukul 03.00 untuk mempersiapkan keperluan rumah tangga dan bisnisnya. In daylight, ia sibuk melakukan proses produksi dan penjualan sebagai bagian dari usahanya atau mendampingi anggota keluarga. Di malam hari pun, ia masih sering begadang hingga larut malam untuk keperluan produksi usahanya. Di sinilah kekaguman saya pada sosok mama semakin bertambah. Mama adalah ibu sempurna yang selalu menomorsatukan keluarga, namun tetap memiliki penghasilan yang cukup besar lewat usaha yang dipimpinnya.

2008 – Mama dan Keluarga Kami

Setelah saya kuliah business management di Prasetiya Mulya Business School dan sekarang mulai membuka usaha sendiri, saya baru tersadar bahwa apa yang dilakukan mama saat itu jauh dari kata mudah. Membagi waktu antara pekerjaan kantor dengan side job saja rasanya membutuhkan waktu lebih dari 24/7. Apalagi dengan memimpin perusahaan dan mengurus suami plus 3 anak yang tidak pernah ada habisnya. Hehehe.

Dari mama juga saya belajar membangun dan mengelola usaha. Beliau tidak mempunyai latar belakang pendidikan formal tentang bisnis. Mama hanyalah lulusan akademi sekretaris, tapi beliau berhasil membangun usaha konveksi rumahan hingga mempunyai 14 karyawan dan saat ini memiliki bisnis katering dengan lebih dari 10 karyawan. Lewat sekolah, saya mempelajari banyak teori bisnis untuk mengembangkan usaha. Tapi lewat mama, saya belajar langsung melihat seorang praktisi bisnis yang struggling membangun usahanya dari nol hingga berkembang, termasuk ups and downs di dalamnya.

2010 – Mama dan Saya Saat Wisuda S1

Mama pula yang meyakinkan saya, kalau saya sanggup bekerja full time di Female Daily Network dan tetap membangun usaha Amaya Wedding sebagai bekal masa depan nanti. Bisa dibilang, mama ini pendukung terbesarnya Amaya Wedding. Beliau yang setia mengingatkan saya untuk makan dan salat di sela-sela kesibukan Amaya, mendengarkan khayalan-khayalan besar saya tentang ‘baby’ Amaya sampai larut malam, membantu mengetik keperluan administrasi, ikut menjadi kru pada saat Amaya bertugas menjadi wedding organizer, dan bahkan sesekali ‘memaksa’ mengantar saya rapat dengan vendors dan klien. Saya, sih, rada curiga kalau mama turunan dewa Zeus. Tenaganya nggak habis-habis! :p

Kalau mau melanjutkan daftar kekaguman saya pada mama rasanya tidak akan pernah ada selesainya, deh. Bagi saya, mama adalah sosok sempurna. Beliau mampu memainkan perannya sebagai ibu, guru kehidupan, dan mentor bisnis dengan sangat baik. She’s my own ‘Astri Nugraha’! Hehehe. Rasanya nggak muluk-muluk, ya, kalau saya berkhayal, jika suatu saat nanti saya menjadi ibu, saya mau menjadi ibu yang seperti ini.

Beberapa pesan mama yang selalu saya ingat:

  • Membangun usaha itu tidak perlu langsung jor-joran, mengeluarkan modal banyak, dan berlokasi di tempat besar yang strategis. Mulailah dari kecil dan pasarkan ke orang-orang terdekat. (Ssstt, mama memulai usaha konveksinya dengan memproduksi mukena bermodalkan Rp 150.000 sisa uang belanja rumah tangga dan membangun kateringnya hanya lewat menerima pesanan brownies seharga Rp 20.000).
  • Rezeki yang masuk ke usaha kita, bukan sepenuhnya milik kita. Ini adalah rezeki untuk para karyawan dan supplier, tapi disalurkan oleh Tuhan melalui tangan kita.
  • Ikhlas, ikhlas, ikhlas. Usaha apapun yang dilakukan dengan ikhlas, rezeki pasti akan selalu ikut dan mengalir.
  • Setiap orang sudah punya ‘periuk nasinya’ masing-masing. Jadi jangan pelit membagi ilmu ke orang lain, bahkan ke kompetitor. Sekarang beberapa mantan karyawan mama ada yang membuka usaha jahitan dan warung makan sendiri dari ilmu yang didapatkannya selama bekerja.

7 Comments - Write a Comment

  1. De, baca cerita ini jd inget nyokap gue. Kayanya emak2 kita setipe deh, mau ‘direpotin’ sama anaknya demi mendekatkan diri sama anak2nya. Nyokap gue jg demennya tuh nganter gue/ kakak gue kemana2 alhasil rumah gue jd base camp jaman SMA krn “nyokap lo asik banget, Lit” :)
    Salam buat Tante Dewi yaaaa :)

Post Comment