Belajar Dari si Mak

Ini bukan kali pertama saya mendengar si mak–panggilan pekerja rumah tangga (PRT) tetangga di blok deretan belakang rumah saya–memarahi Zaki anak yang diasuhnya. ”Anak nakal! Bukan anak orang ini, mah.” Duh benar-benar miris mendengarnya.  Apanya yang nakal dari anak usia satu setengah tahun?

“Memangnya kenapa, Mak?”

“Tidakk mau tidur siang maunya berantakin rumah aja. Saya, kan, capek mana belum nyetrika,” keluh si Mak. Lalu dengan kasar menurunkan si anak dari gendongannya.  Tangis Zaki makin keras.

“Sini-sini,” panggil saya lalu mendudukkan Zaki di pangkuan. Tangisnya langsung berganti isak tangis. Terlihat sekali kalau dia butuh seseorang untuk menenangkannya. Saya makin miris. Ah, andai saya tahu apa yang ada di benak Zaki.

Kebetulan hari itu saya cuti kerja dan seperti biasa jika ada di rumah pasti si kecil Azka (3 th1 bln) selalu minta ditemani saya kalau bermain. Seperti tengah hari itu. Azka menolak diajak tidur siang. Katanya,”Gak (me)ngantuk.” Azka malah minta ditemani naik sepeda padahal cuaca di luar cukup terik. Untungnya di samping deretan rumah blok kami ada taman yang cukup rindang. Jadilah saya duduk di sana dan mengawasi Azka bermain sampai akhirnya datang si Mak.

“Kemana Okan? “ ujar saya menanyakan kakak Zaki yang juga teman satu sekolah Azka di kelompok bermain.

“Lagi tidur,” jawab si Mak.

“Ini anaknya gak mau diem. Bapaknya, kan, cerewet kalau jatuh atau kejedot aja saya diomelin.” Si Mak melanjutkan omelan dan keluhannya. Saya jadi teringat ucapan mama saya,”Anak tidak mau diam itu tandanya aktif dan sehat.”

 

Kebanyakan tetangga saya  pasangan bekerja dan mempercayakan penjagaan anaknya pada PRT atau babysitter. Jadi jika sore hari pada hari kerja saya menemani Azka ke taman bermain yang terletak di tengah cluster, maka yang saya temui PRT atau babysitter dengan anak yang diasuhnya. Bertemu, melihat dan berbincang dengan para PRT atau babysitter sekitar rumah selain membuat saya belajar banyak hal dan  intropeksi dalam hal mempercayakan pengasuhan si kecil pada pengasuhnya, tak jarang terselip rasa was-was.

Bagaimana si kecil Azka diperlakukan ketika saya bekerja?  Memang sejauh ini saya lihat Teh Wanti  menjaga dan menemani Azka dengan baik but who knows? Dari sini saya belajar perlunya ‘melibatkan’ tetangga (yang bukan ibu pekerja) untuk tidak segan mengatakan pada saya jika pengasuh si kecil berbuat salah atau memperlakukan si kecil dengan kasar. Tentunya saya berusaha bijak menanggapi pengaduan tetangga.

Beberapa waktu lalu, saya pernah mendapat pengaduan soal PRT kami (sebelum Teh Wanti) yang volume bicaranya keras sehingga kadang membuat Azka terkejut walapun maksudnya bukan marah atau membentak. Suara kerasnya si bibi memang menggangu tapi saya tidak sampai terpikir kalau hal itu ternyata membawa efek negatif  untuk si kecil. Dari pengaulan tetangga saya bicara pada bibi untuk bicara pelan agar tidak mengagetkan Azka. Bukan hal mudah karena bicara dengan volume keras sudah kebiasaannya bibi. Jadi setiap bibi bicara dengan volume keras di rumah pasti kami, saya dan suami, mengingatkannya. Dan yang tidak kalah penting adalah mengevaluasi perkembangan si kecil sehingga jika sesuatu terjadi pada si kecil (misal trauma karena dimarahi pengasuhnya atau jatuh) bisa saya deteksi dengan cepat  dan tidak mempercayakan semua hal pada pengasuhnya. Saya sebagai orangtua pemegang kontrol dan kendalinya.

Kali lain, saya mendengar pengasuh Rafael  membentak dan menariknya  dengan kasar ketika Rafael berlari dan sengaja menginjak genangan air hujan setelah sebelumnya pengasuhnya berteriak memperingatkan Rafael untuk tidak berlari ke arah sana.

“Ini anak gak bisa dibilangin!” katanya.

“Jangan dibentak gitu, Mbak. Dia belum ngerti.”

“Biar dia mengerti.”

Tulisan ini tentu bukan untuk mendiskriminasikan PRT atau babysitter saya yakin banyak juga PRT atau babysitter yang cukup amanah merawat anak yang dititipkan kepadanya. Tak jarang label nakal yang diberikan babysitter atau PRT tanpa maksud jelek tapi komentar yang ‘biasa’. Seperti suatu siang beberapa waktu lalu, saaat saya cuti dan anak tetangga yang seumur si kecil main ke rumah dengan babysitter-nya.

“Ayo, main. Kok diam aja,” kata saya sambil menyodorkan mainan Azka.

Si anak malah diam lalu melirik baby sitter-nya.

“Kalau di rumah nakal tidak mau diam. Malah suka marah-marah, mainannya dilempar-lempar.”

“Mungkin bosan main di rumah terus. Coba ajak main ke luar,” saran saya.

Iya siang-siang minta main di luar, kan, panas, Bu.”

“Ajak ke taman saja,” sambil menunjuk taman samping tempat Azka dan saya bermain saat siang hari.

Cerita lain ketika saya menyapa seorang anak seusia Azka yang wajahnya asing alias tidak pernah saya temui.

“Baru, ya, di sini? Di blok mana?” tanya saya pada pengasuhnya.

Nggak, sudah lama. Itu rumahnya,” dia menunjuk rumah berpagar  hitam.

“Oh itu,” saya sempat bertemu ibunya beberapa kali di arisan RT.

“Jarang main ke luar ya?” Tanya saya.

Iya, nonton tv saja. Kalau di luar, nakal sukanya lari-lari. Takut jatuh.”

Sebutan nakal yang dengan mudah mereka labelkan dan sikap protektif dengan melarang ini-itu terkadang adalah cerminan ketakutan PRT atau babysitter jika terjadi sesuatu pada anak yang diasuhnya. Dan cara yang mereka lakukan salah, mungkin karena kurangnya pengetahuan pengasuhan anak.

Apa jadinya jika semua keingintahuan si kecil dilarang tanpa diberi kejelasan?  Apa salahnya sesekali membiarkan si kecil mencoba menginjak genangan air hujan agar rasa penasaran terpenuhi? Masalah kaki kotor bisa dicuci. Hal-hal yang akhirnya membuat saya tersadar betapa pentingnya membagi pengetahuan dengan mereka, betapa pentingnya membicarakan bagaimana seharusnya si kecil diperlakukan pada setiap keadaan dengan cukup detail.

 

Saya meminta Teh Wanti melakukan beberapa hal saat mengasuh Azka, di antaranya peraturan durasi menonton TV, dan tidak banyak menggunakan kata “jangan” kecuali yang diinginkan Azka membahayakan dirinya. Dan jika Azka keukeuh melakukan hal-hal yang sebelumnya sudah “dilarang”, saya menyarankan Teh Wanti untuk mengalihkan perhatiannya pada hal lain, juga tentunya jangan mudah memberikan label nakal pada anak.

Bagaimana catatan untuk orangtua? Perlakukan PRT dan babysitter dengan baik terutama soal beban dan jam kerja. Pelajaran ini saya ambil dari Si Mak yang selalu mengeluh lelah, pekerjan menumpuk sementara waktunya sedikit karena harus mengurus dua anak. Kekesalannya dilampiaskan pada anak yang diasuhnya, deh.

Idealnya, pasangan bekerja yang memiliki satu anak memperkerjakan satu pengasuh (babysitter) dan satu PRT untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, jika keuangan tidak memungkinkan, maka harus rela rumah berantakan (yang penting lantai dipel setiap hari), memasak sebelum berangkat bekerja, menunggu weekend untuk  bisa dengan rapi meletakkan sesuatu pada tempatnya dan tidak banyak berharap Teh Wanti memiliki inisiatif  untuk beres-beres. Ini berdasarkan pengalam pribadi, lho … hehehe.

Memang bukan hal mudah meninggalkan dan mempercayakan si kecil pada PRT atau babysitter. Kita harus cermat memilih PRT atau babysitter terpercaya, memantau perkembangan si kecil setiap saat. Maksimalkan waktu yang ada bersama si kecil dan tentunya jangan lupa untuk menyerahkannya pada lindungan yang Kuasa.

There is no way to be a perfect mother, and million ways to be a good one. (Jill Churchill )

 

 

 


10 Comments - Write a Comment

  1. setuju. Gw juga kalo lg work from home/ libur, sore2 tuh suka sempetin ‘begaul’ di taman/ depan rumah deh minimal, spy bs tau lingkungan seperti apa,kenal sm teman2 kecilnya Langit spy bs catch up obrolan ketika smp dr kantor pas kerja.
    Berlaku jg di sekolah, kalo pas kerja dirumah gw selalu nganter dan ikut nongkrong sama ortu murid yg lain, supaya bs dpt insight dr mereka yang tiap hari nungguin anaknya :)
    Great article, btw, thanks for sharing with us ya!

  2. Aku termasuk IRT yang full time sama anak. Tetangga mayoritas orangtua pekerja yg memercayakan anak sama PRT. Jadilah anak dibawa kemana2 selama ibu+bpk bekerja. Belanja + bonus ngerumpi (yg durasinya lebih lama dari belanja) , nyuapin anak ke tetangga plus ngerumpi lagi sama PRT lain. Intinya emang menghabiskan waktu sampai sore dan majikan datang. Sebaiknya memang ibu memberikan pengarahan, tugas kepada PRT, sering sidak, dan yang penting tumbuh kembang anak tetap terpantau dengan baik.

    TFS ya mbak…

  3. nice article…like it!
    mommies…share ya memang kalo buat ibu2 yg juga kerja di luar rumah masalah ini dilema ya..tapi bbrp yg saya suka praktekkan adl saya tdk pernah scr membabi buta memarahi ART kalo ternyata ada laporan anak jatuh, kejedut or gak mau makan. Malah sy pesen kalo ada apa2 harus cerita jgn takut :)) krn saya tahu bgt kalo pas di rumah tuh ngurus anak itu nggak ‘mudah’ …:))
    ohya, sy berusaha jadikan ART itu partner kita dlm mengasuh anak…terakhir minggu lalu malah ART saya yg cerita kalo dia abis baca artikel gimn handle anak yg sulit di majalah :)) dan kita jd ngebahas semua tipsnya deh

  4. Artikel yg bagus mbak..tfs..
    Sama kejadiannya dgn tetanggaku..ada ART yg sukanya jejelin makanan sampe anaknya nangis2, tetep dijejelin..lha kan bahaya kesedak..
    Ada juga ART yg ngomel mulu, kyknya sifat si..akibatnya anaknya makin sering ngelawan..niruin ngomelnya..
    Aq pribadi setuju, ART harus lebih dimanusiakan..karna bisa jadi tugas mereka melebihi kemampuan..
    Kalo aq memilih utk sharing tugas2 rumah tangga, jd ARTku lebih fokus ngasuh n ngawasin anakku..dan jgn ngomel kalo kerjaan RT kurang beres..
    Semuanya tentang kompromi sepertinya :)

Post Comment