Kesabaran: Sahabat Para Orangtua

“Ayo Arv, kita sudah mau berangkat nih! Nanti terlambat lho!”, ujar saya sambil memakai sepatu. “..tapi makannya belom habis..”, jawab Arvin, “Ya, sudah. Makannya cepetan dikit ya, udah mau berangkat nak. Nanti kita telat!”. 15 menit kemudian Arvin masih menyuapkan makanan dari piringnya yang tampak tidak berkurang juga dari tadi. Saya menghela nafas, pasrah karena sudah pasti terlambat pergi. Lagi. Sabar.

Menjadi orang tua memerlukan begitu banyak ‘kualifikasi’ pribadi yang penting untuk dimiliki dan dilatih. Tapi bagi saya yang paling menonjol dan paling sering tertantang adalah kesabaran. Sejak anak kita lahir, terutama bila seorang ibu menyusui anaknya, tidak peduli lelah, ngantuk atau apapun alasannya, si ibu mesti bersabar dan setia menyusui anaknya tiap jam sampai 2 jam sekali. Begitu pula dengan malam-malam tanpa tidur karena bayi masih ‘latihan’ menyesuaikan jam biologisnya dengan kita. Kalau bukan kesabaran ekstra, entah apa yang bisa membuat orang tua bertahan!

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, kesabaran orang tua semakin diuji. Saat-saat perkenalan MPASI, bayi belajar makan sendiri, toilet training, latihan berjalan. Wow, nggak ada habisnya memang! Setelah anak melewati masa batita (yang pastinya penuh tantangan ;p) kesabaran orang tua diuji lebih sering lagi. Misalnya saat mengajari anak memakai baju sendiri, rasanya tidak tahan membiarkan waktu ‘berharga’ anda berlalu saat menunggui anak yang pakai bajunya lamaaa banget dan tangan ini rasanya sudah gatal pengen membantu, namun demi pembelajaran anak, menguatkan diri untuk duduk diam dan menyaksikan. Ada pula beberapa anak yang melalui fase serba “nggak mau!” dan “aku bisa sendiri!” yang ironisnya justru sebetulnya kenyataannya adalah yang sebaliknya. Ada juga fase, yang entah karena alasan apa, anak-anak suka sekali membuka bajunya! Tidak penting sudah berapa kali anda memakaikan baju, dalam sekejap itu baju sudah copot lagi… Sabar.

Bagi saya, dengan Arvin, kesabaran saya benar-benar tertantang setiap kali acara makan. Sejak kecil Arvin memang seorang ‘picky eater’ walaupun saya nggak suka melabelinya begitu, tapi memang begitulah… :( jadi masa-masa awal makan dan seterusnya memang cukup berat dan membutuhkan kesabaran ekstra.. Apalagi saat kita bersusah payah menyiapkan makanan anak yang ditolak mentah-mentah tanpa mencicipinya terlebih dahulu. Sekarang di usianya yang ke-5, Arvin sudah bisa makan sendiri dan pilihan menunya juga sudah bisa agak variatif, tapi yang membuat saya nggak tahan adalah lamanya waktu dalam menyelesaikan makanannya! Harus selalu diingatkan. Kalo ditunggui bisa berjam-jam! Wah wah wah, saya bener-bener jungkir balik kalau soal waktu makannya ini! Pengennya marah, ngomel-ngomel, tapi terus diredam dan berusaha digantikan dengan kata-kata dorongan yang lebih positif *still working on it*. Sabar.

Tentunya ada alternatif selain memilih untuk bersikap sabar, diantaranya menjadi reaktif dan marah-marah atau ngomel! Tapi apa benar itu hal yang baik untuk dijadikan pilihan? Saya pribadi jujur saja, pernah kelepasan dan menjadi marah-marah sama anak-anak, tapi setiap hari saya terus belajar dan berjuang untuk menjadi lebih sabar dan lebih sabar lagi. Karena seringkali hal-hal itu merupakan fase normal yang harus dilalui anak dan tidak bisa kita paksakan.

Memangnya apa sih artinya memiliki kesabaran dalam menghadapi anak? Kesabaran menjadi orang tua berarti memiliki perspektif yang lebih riang dan positif dalam melihat suatu hal. Misalnya saat anak menumpahkan minuman di lantai, daripada marah dan membuat anak merasa bersalah, kita bisa menjadikan hal itu sebagai pembelajaran tentang kehati-hatian, juga tentang tanggung jawab dan kerjasama, dengan cara melibatkan anak untuk membersihkan tumpahan tersebut bersama-sama. Kesabaran menjadi orang tua berarti menghindari kecemasan atau stres yang berlebihan akan sesuatu. Misalnya daripada stres dan marah kenapa anak tidak kunjung berhenti mengompol, sebaiknya bicarakan dengan anak dan bantu dia berlatih dan membangun kebiasaan yang baik sebelum tidur. Jangan buru-buru mencemaskan apa anak-anak seusianya juga ngompol atau apakah kasur anda bakal rusak, tapi pikirkan bahwa ini suatu fase dalam hidup anak dan orang tua dan anak harus sama-sama bekerjasama demi keberhasilan latihannya. Jangan lepas kendali dengan menjadi gusar dan justru membuat anak malu akan dirinya. Dengan begitu kita pun bisa jadi orang tua yang lebih tenang.

Kesabaran menjadi orang tua berarti kita menghargai proses belajar dan usaha, bukan hanya kesuksesan dan keberhasilan anak. Misalnya saat membantu mengerjakan PR, seringkali Arvin perlu banyak dibantu, terutama matematika. Kadang dia ingin saya memberikan contoh dengan perlahan dan berulang-ulang. Seringkali saya merasa bosan dan muncul pikiran negatif seperti “masa begini aja dia nggak ngerti-ngerti sih?!”. Meskipun hanya dalam hati, tapi pastinya hal itu sangat mempengaruhi perilaku eksternal saya. Bisa jadi muka saya merengut, atau volume dan nada suara meningkat. Padahal sebenarnya saya pun tahu, dia baru kelas 1, masih penyesuaian dengan situasi harus mengerjakan PR setiap hari, belum lagi dia murid termuda di kelasnya dan sebagainya.

Sabar berarti juga bisa berpikir rasional mengenai kemampuan anak. Sabar akan segala kelemahan anak dan selalu sabar membimbing, bukan justru merongrong anak. Kesabaran menjadi orang tua berarti memiliki pikiran yang damai. Andaikan kita selalu bisa mengontrol diri dan senantiasa bersabar dalam berinteraksi dengan anak-anak, pasti deh pikiran dan perasaan kita lebih damai. Nggak akan ada mood yang rusak karena berantem atau ngomel ke anak, nggak ada anak yang berperilaku buruk karena kecewa dan kesal pada orang tua. Rumah yang tenang dan damai adalah impian semua orang tua (pastinya!)

Memelihara tenaga dan kesabaran adalah hal yang paling menantang dalam hidup saya sehari-hari. Bersabar membantu membawa kita berpikir lebih jernih, sehingga bisa lebih menerima semua tanggung jawab dan kewajiban sebagai orang tua yang memang tiada habisnya. Hadiah terbesar menjadi orang tua adalah melihat anak-anak kita tumbuh sehat dan bahagia. Satu alasan terpenting menjadi orang tua yang punya kesabaran adalah agar kelak memiliki anak-anak yang sabar! Ya, tentu saja! Tidak ada cara terbaik mengajari anak tentang kesabaran, selain menjadi contoh dari sikap sabar itu sendiri. Yuk, moms & dads, kita latih lagi kesabaran kita sebagai orang tua..! Patience is the companion of wisdom.

*Dikirim oleh Elga Benedicta (@ElgaBenedicta), ibu dari Arvin (5 tahun) dan Eugeneo (9 bulan)


30 Comments - Write a Comment

Post Comment