Fenomena Bullying di Sekolah (I)

0 share

Beberapa waktu lalu, sepupu saya menjadi korban bullying di sekolahnya. Jujur saya sangat kaget dan sakit hati mendengar apa yang pelaku lakukan terhadap sepupu saya sebagai korban. Biasanya saya hanya mendengar atau membaca berita tentang bullying ini di media, nggak nyangka akan terjadi terhadap orang dekat saya.

Hal ini pun mendorong saya untuk mengetahui sebab musabab fenomena bullying terutama untuk anak usia sekolah. Saya pun bertanya pada Lestari Sandjojo, Psi. – General Manager Academic Division Sekolah Cikal.

Kenapa bisa terjadi bullying di antara anak-anak sekolah?

Penyebab terjadinya bullying bisa bermacam-macam, bisa karena kebutuhan personal dari pelaku maupun situasi lingkungan yang kebetulan “mendukung” terjadinya bullying tersebut. Secara umum semua anakpun mengalami masa dalam pertumbuhannya dimana ia perlu test the water untuk mengukur dan mengasah kemampuan leadership-nya. Ia perlu mengetahui apakah ia mampu mendominasi atau mempengaruhi teman-teman lain.

Jika kebutuhan di atas kemudian dikombinasi dengan faktor-faktor seperti masalah keluarga, prestasi akademik yang tidak memuaskan, serta kebijakan sekolah yang kurang mendukung, maka bullying di sekolah kemudian bisa semakin menjadi-jadi.

Faktor utama seorang anak bisa mem-bully anak lain apa sih?

Anak bisa menjadi pelaku bullying karena beragam sebab: kemampuan adaptasi yang buruk, pemenuhan eksistensi diri yang kurang (biasanya pelaku bullying nilainya kurang baik), adanya pemenuhan kebutuhan yang tidak terpuaskan di aspek lain dalam kehidupannya, hubungan keluarga yang kurang harmonis, bahkan bisa jadi si pelaku ini juga merupakan korban bullying sebelumnya atau di tempat lain.

Secara umum, tingkah laku bullying ini berawal dari masalah yang dialami oleh pelaku. Kemampuan pemecahan masalah yang kurang bisa membuat anak mencari jalan keluar yang salah, termasuk dalam bentuk bullying ini. Contoh, anak yang sering “ditindas” kakaknya di rumah, kemudian mencari pelampiasan dengan “menindas” anak lain di sekolahnya.

Apakah anak yang melakukan aksi bullying perlu mendapatkan sanksi? Apa sanksi yang ideal?

Yang pasti pelaku harus diajak untuk menyelami apa yang kira-kira dirasakan oleh  korbannya. Tentunya pembicaraan ini baru bisa dilakukan kalau pelaku juga sudah tenang dan tidak bersikap defensif. Selain diisi dengan pembicaraan mengenai apa yang ia lakukan terhadap korbannya, penting untuk menggali juga penyebab dari perilaku tersebut. Pelaku harus beranjak dari pandangan bahwa korban sudah “sepatutnya” di-bully, ia harus melihat dari sudut perilaku atau cara interaksi yang seharusnya dengan orang lain.

Jika pelaku bullying lebih dari satu orang, jadi pelaku berkelompok, mereka harus diajak bicara secara perorangan pada awalnya.

Mengenai sanksi, memang harus diberikan pada pelaku. Sanksinya harus berasal dari refleksi diri mereka sendiri mengenai perasaan korbannya dan bagaimana “membayarnya.” Pada akhirnya jika pelaku sudah bisa memahami perasaan korbannya, ia harus berjanji untuk tidak mengulangnya. Misalnya jika korban diejek-ejek “gendut,” maka pelaku harus bisa menyampaikan maaf dan menyampaikan sisi positif dari korban yang ia lihat. Jadi kata-kata ejekan pada korban sudah tidak boleh diucapkan lagi, diganti dengan ucapan yang baik.
—————-

Cukup bikin deg-degan ya moms, apalagi buat yang anaknya baru akan sekolah seperti saya. Rasanya mau home schooling saja deh! *lebay*

Tapi, saya juga nggak lupa bertanya pada Ibu Tari bagaimana cara mencegah agar anak tidak menjadi pelaku bullying atau menjadi korban (oh, NO!). Nantikan artikel berikutnya ya moms..

*gambar dari sini

Share this story:

Recommended for you:

32 thoughts on “Fenomena Bullying di Sekolah (I)

  1. anak ku juga korban bullying disekolah,,,rasanya sedih,,marah,,campur aduk deh,,apa yang salah sama anakku sampai harus mengalami kejadian ini,,awalnya berat banget untuk kakak balik seperti yang dulu,,tiap hari kesekolah harus ditunggu sampai bel masuk,,,jam istirahat aku balik lagi untuk sekedar memantau,,kita sebagai ortu korban bully harus extra sabar dan dampingi trs,,alhamdulillah karena didampingi psikolog trauma kakak sudah mulai berkurang walaupun tidak sepenuhnya hilang.

    cukup anak ku saja yang jadi korban,,,jangan ada anak-anak lain

  2. bu icha, iya kemaren denger ceritamu sedih banget ya :( moga2 bullying ini bisa dihentikan di Indonesia :(
    Mudah2an si kakak sudah kembali percaya diri seerti semula :)

  3. Jadi inget “geng nero” yg isinya anak2 cewek nakal & mendzholimi teman2nya :( Temen sekantor cerita, katanya waktu sekolah SD di Kalimantan pernah jd korban bullying ..tapi lamban laun dy bs “membalikkan” keadaan dg berprestasi, akhirnya teman2 ‘geng’ itupun jadi geng teman saya :D

  4. memang jaman sekarang semakin susah yah moms untuk jaga anak..ak sendiri khawatir dengan anakku..mmg saat ini msh 1 1/2 tahun, tapi semakin mengerikan mendengar cerita2 spt itu..zamannya sudah berbeda banget, semakin maju teknologi semakin aneh2 saja.. ak rasa yang paling penting, serahkan sama yang di atas…

    @ mom’s icha: semoga kakak lekas pulih kembali yah mom’s

    semoga bullying bs segera ditindaklanjuti

  5. Setuju dengan ibu Tari. Kerjaanku di sekolah membantu anak2 pelaku bullying dan korban bullying. Anak2 ini (kita sebut vulnerable children), biasanya punya masalah, dari low self-esteem, socially challenge, tidak bisa mengatur emosi, masalah di rumah, sampe psychological problem spt depression, dan autism. Aih.. pusing deh… Di sekolah aku organise club2 utk anak2 ini, sebenarnya utk membantu mereka build self esteem, build relationship krn biasanya pelaku dan korban itu anak2 yg kurang bisa membangun hubungan dgn teman (isolated children)dan tidak bisa adaptasi.

  6. Adekku korban bullying, karena dia sedikit berbeda. Apalagi berada di sekolah daerah, yang tidak biasa melihat org dengan watak sedikit Unik. Apalagi didukung dengan perbedaan perekonomian. Semakin membuat bullying menjadi jadi. Waktu saya sekolah di daerah, sempat ada bullying juga karena saya ‘beda’. (tidak mengerti becandaan khas daerah), tidak menguasai bahasa daerah dengan baik, hingga adat kebiasaannya. Cuman saya memilih untuk tidak diam saja dengan bullying itu. (kemampuan survival orang beda2).
    yang menyedihkan….. pihak sekolah (guru2) di daerah mendukung bullying itu. Dengan merendahkan dengan sindiran dan kata2. cth: “waaakh enaaaak ya engkooo, jalan jalaaan ke jakartaa teruuussss. Anak pak XXXX kan kaya rayaaaaa” (begitulah intinya) dan diikuti tertawa teman temannya.
    ketika akhirnya adek saya pindah sekolah ke jakarta, dia lebih bisa beradaptasi dan terlihat lebih bahagia. :)

    Yg ingin saya sampaikan adalah, Bullying mungkin terjadi karena per ‘beda’an, lingkungan dengan komunikasi yg tidak lancar (tempat bullying terjadi), dan faktor2 yang disebutkan diatas. Agak mengecewakannya ternyata beberapa (tidak semua) guru di daerah yang konvensional. Tidak peduli terhadap adanya bullying ini, malah ikut mem-bully dengan kata2.

    semoga ini apat menjadi masukan.

  7. saya tau rasanya di bully oleh teman sendiri. waktu itu saya di sekolah dasar. saya waktu itu di ‘gencet’ (istilahnya dulu) oleh senior saya.entah apa salahnya saya. kata teman2 1 kelas saya yang juga pro ke senior, saya itu kecentilan, banyak tingkah, jelek..bla,bla…saya yang masih kecil waktu itu cuma bisa menerima semua itu bulat2. ortu saya tipikal konservatif mereka bahkan tidak percaya saya. dari sana saya takut ke sekolah. prestasi menurun bahkan berdampak pada karakter saya. sampai sekarang kalau saya menerima undangan reuni SD saya tidak menolak hadir. saya malas liat wajah2 orang2 itu. waktu itu saya pernah bertemu dengan senior yg mem-bully saya, dia sedang berbadan dua, dan dia sempat cerita ke saya (entah kenapa) bahwa dia belum menikah dan entah anak siapa yg dikandungnya. sy dlm hati bertanya beginikah jadinya nasib orang yang suka mem-bully org lain?

  8. waktu SD dulu sering sakit dan jarang masuk sekolah,, sehingga bisa dibilang tidak punya teman. dulu jadi korban bullying, akhirnya menyendiri ketika istirahat, g punya rasa pd, benci ketika jadi sorotan, misalnya ke depan untuk mnulis jawaban di papan tulis, otomatis aku duduk di ranking terakhir dari 50 siswa. feel insecure, stress, tapi g bisa ngomong ke ortu, mnarik diri deh. Im clueless gimana caranya punya teman dan ngomong ke ortu ttg persoalan di sekolah.

    akhirnya kluarga pindah ke tempat baru, ke sekolah baru, temen2 baru di sekolah ini lebih friendly dan mau mendekati duluan, aku mulai menjadi bagian dari kelompok. mulailah berprestasi disekolah menduduki 5 besar. sampai akhirnya prestasi mningkat (mpe kuliah di almamaternya Presiden Soekarno) dan lebih mahir berinteraksi sosial dengan teman. juga punya beberapa sahabat dekat.

    melalui masa lalu, untuk menghidari anak mempunyai persoalan like me :
    1, bangunlah rasa percaya diri anak dengan memuji melalui hal2 kecil, sekecil apapun itu.
    2. sharing, dengan menanyakan ttg sekolah,apa yg dikerjakan hari ini, berbgi cerita,
    sehingga ktk menghadapi persoalan, anak terbuka dengan persoalannya,,
    3. pindah sekolah,, jika sekolah sudah toxic ,,knapa harus bertahan,,

  9. Pingback: Mommies Daily
  10. wah, ternyata bukan anakku aja ya yang pernah kena bully. Anakku masih tk b, dia anak baru per januari 2011 ini, belum nyampe sebulan, dia udah beberapa kali kena bully, akhirnya saya bicara sama guru kelas-nya. Yang aneh, guru itu minta saya maklum, karena kebetulan anak itu kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, jadi mungkin melampiaskannya di sekolah….;(
    Akhirnya, ketika sudah bermain fisik, dan mengakibatkan luka, saya bicara langsung dengan kepala sekolahnya dan menanyakan keseriusan pihak sekolah dalam mengatasi masalah ini, jika tidak mampu, saya akan mencari sekolah lain, tidak masalah, kata saya. Ternyata pihak sekolah mau mengambil tindakan dengan menindak lebih keras anak2 yang melakukan bully kepada teman2nya, juga memanggil orang tua mereka.
    Alhamdulilah anakku sekarang baik2 aja di sekolah barunya,sudah tidak ada lagi kejadian2 yang bikin jantungan…

  11. Anak saya yg sulung jd korban bully di sekolah. Besok saya mau menghadap wali kelasnya dan menulis jg kepada pimpinan sekolah utk memperhatikan keadaan ini. Anak sy baru berani cerita kpd sy bhw dia kemarin ditampar teman segenknya krn tdk mau melakukan apa yg disuruh. Buat sy ini sudah keterlaluan. Saya rasa akan dapat perhatian besar dari sekolah, krn jika tidak, saya tidak akan segan memindahkan sekolah ketiga anak saya.

    1. Iya mbak Ucy, salah satu yang harus diperhatikan saat memilih sekolah jadinya nambah lagi deh: bagaimana pihak sekolah menanggapi/ menghadapi tindakan bullying. Soalnya ini masalah serius ya.
      Walaupun teteub, balik2nya lagi kita sbg orgtua dirumah bagaimana menanamkan konsep diri bagi anak ya :)

  12. Pingback: Alfa Kurnia
  13. Pingback: Alfa Kurnia
  14. Pingback: Mommies Daily
  15. Pingback: Bunda
  16. Pingback: novitasari
  17. Pingback: Mommies Daily
  18. Pingback: Anissa Ayu
  19. Pingback: Liza SetiawanHR
  20. Pingback: Mommies Daily
  21. Pingback: Mommies Daily

Leave a Reply