Semua Tentang Demam (Common Cold)

Health & Nutrition

kirana21・04 Jan 2011

detail-thumb

Pilek,  hidung mampet dan disambung dengan batuk, biasanya ini formula paling jitu untuk mengakibatkan demam :(.  Mommies pasti udah sedia termometer kan? Yang paling akurat memang termometer air raksa. Tapi nggak praktis yah kalau perlu mengukur beberapa kali dalam waktu yang singkat. Lebih praktis termometer digital. Tapi harus selektif memang, karena termometer digital banyak yang kurang akurat.

Gambar dari sini

Ketika anak sedang demam, termometer penting ada di sekitar tempat tidur karena suhu badan anak harus selalu terpantau. Dari alur naik turunnya demam, dokter terbantu juga dalam membuat diagnosis. Ada penyakit yang karakternya panas  tinggi, susah turun kecuali dikasi penurun panas. Ada juga yang panasnya naik turun, dimana turunnya justru masuk fase kritis, seperti misalnya demam berdarah dengue.

Apa sih demam itu sebenarnya?

Demam adalah mekanisme tubuh untuk melawan infeksi. Infeksi dapat berupa gangguan dari penyakit atau hal yang lain (tumbuh gigi pada anak-anak misalnya). Bibit penyakit akan melemah dan musnah pada lingkungan bersuhu tinggi. Karena itu demam perlu untuk mematikan penyakit. Bila demam diturunkan saat penyakit belum sepenuhnya musnah, suhu tubuh akan naik lagi terpicu masih adanya bibit penyakit.

Sering menurunkan suhu tubuh dengan obat membuat pertahanan melawan penyakit jadi terganggu. Ibaratnya mau perang senjatanya diambil melulu. Yang harusnya tiga hari sembuh malah jadi semakin lama.

Patokan dasar suhu tubuh yang memerlukan intervensi adalah:

  • Bayi usia di bawah 3 bulan dengan suhu di atas 38ºC
  • Bayi usia 3-6 bulan dengan suhu di atas 38,5ºC
  • Bayi dan anak di atas usia 6 bulan dengan suhu di atas 39ºC
  • Pantauan ekstra untuk anak dengan bakat kejang demam
  • Saya sendiri begitu anak lewat dari 6 bulan masih mencoba bertahan walaupun suhu tubuh di kisaran 39ºC, sepanjang anak tidak menunjukkan kegelisahan yang parah. Kalo rewel dan agak lemas sih pasti ya, namanya juga lagi sakit. Tapi selama masih bisa tidur cukup tenang selama minimal dua jam setiap kalinya, saya pilih home treatment dulu sebelum memberi parasetamol.

    Berikut langkah-langkah home treatment:

  • Asupan cairan. Kecukupan cairan saat demam, menghindarkan anak (dan orang dewasa juga) dari dehidrasi. Di sisi lain, dehidrasi sendiri menimbulkan kenaikan suhu. Jadi cukupnya cairan bisa menstabilkan suhu tubuh walau tidak secara drastis menurunkannya. Banyak minum juga merangsang tubuh untuk berkeringat yang kemudian juga akan sedikit menurunkan suhu. Asupan cairan disini ngga cuman minuman aja ya. Makanan berkuah banyak, es loli, es buah dan buah-buahan, homemade jeli, dan semacamnya juga banyak mengandung air.
  • Berendam air hangat. Efeknya mirip dengan kompres, tapi mengurangi kerewelan karena kalo sambil main air biasanya anak lebih anteng ketimbang harus pasang kain kompres.
  • Oiya, moms sudah tahu kan ya kalau kompres itu bukan dengan air dingin/air es, tapi dengan air hangat atau suam-suam kuku? Kompres dingin (termasuk produk-produk kompres tempel yang harus dimasukkan ke kulkas dulu itu), akan mengirimkan sinyal yang salah kepada tubuh bahwa ada bagian tubuh yang masih terlalu dingin. Jadi tubuh malah akan lebih meningkatkan suhunya untuk mengimbangi yang masih dingin. Kompres juga akan lebih efektif sebenarnya bila yang dikompres adalah ketiak ketimbang dahi karena titik terpanas tubuh sebenarnya ada di daerah ketiak, bawah lidah, dan anus.
  • Bila anak sangat gelisah, rewel, ngga bisa tertidur lelap setidaknya satu jam, mungkin memang perlu obat penurun panas untuk meredakan panasnya. Sejauh ini hanya parasetamol yang masih dianggap paling aman sebagai pereda panas dan nyeri pada anak-anak dan ibu hamil (contohnya: Sanmol, Tempra, Panadol, Dumin). Dalam dosis yang sesuai anjuran tentunya yaa.
  • Penurun panas yang berbasis ibuprofen (contohnya: Proris) dan asam asetilsalisilat/asetosal (contohnya: Aspirin/Bodrexin/Contrexyn) dapat menimbulkan efek samping luka pada lambung karena termasuk obat yang cukup keras. Aspirin bahkan sudah dilarang untuk anak dibawah 18 tahun karena menimbulkan efek samping jangka panjang sindroma Reye.
  • Saat memilih obat, perhatikan juga kandungan alkoholnya ya Mom.

    Kapan harus ke dokter?

    Ketika demam belum turun sesudah lewat 72 jam tanpa ada gejala lain yang mengikuti dan telah dilakukan tes urine untuk mencoret kemungkinan ISK (infeksi saluran kemih).

    Rata-rata demam berlangsung dua atau tiga hari. Demam yang baru berlangsung 1-2 hari tanpa gejala lain dan tanpa tes urine atau tes darah, tidak bisa ditegakkan diagnosanya. Dalam kondisi ini biasanya dokter hanya akan memberikan obat yang umum dan tidak spesifik untuk penyakit tertentu. Obat jadi tidak efektif dan hanya memperberat kerja metabolisme tanpa hasil dan efek yang pasti.

    Patokan sederhana untuk demam yang umum (tetap lakukan cross check ke dokter untuk mengantisipasi penyakit yang lebih kompleks ya):

  • Jika demamnya mengiringi batuk pilek, dapat dipastikan tubuh sedang melawan virus common cold. Demam ini bisa berlangsung seminggu.
  • Jika demamnya hanya sore hari, ada kemungkinan typhoid.
  • Jika anak berusia di bawah 36 bulan, demamnya tinggi terus-terusan selama 3-4 hari setelah itu langsung normal sendiri, anak mulai aktif kembali, dan muncul ruam-ruam merah, berarti anak habis kena virus roseola. Walau kebanyakan roseola menyerang anak di bawah 36 bulan, tapi di atas 3 tahun juga masih bisa terserang ya.
  • Jika mirip roseola tapi ruamnya muncul waktu anak masih panas, kemungkinan campak.
  • Jika panasnya 3-4 hari kemudian panas turun tapi anak malah lebih lemes, layu, dan kehilangan kesadaran ketimbang waktu suhu badannya tinggi, ada kemungkinan DBD.
  • Semoga tulisan ini bisa membantu untuk bertindak lebih efektif ketika si kecil demam ya Mommies. Dan kalo ada ada yang lagi sakit, semoga cepat sembuh :)

    *dari pengalaman pribadi dan berbagai sumber, salah satunya http://milissehat.web.id/