Kasus Anak Down Syndrome di Surabaya, Pentingnya Ajarkan Empati pada Anak Sejak Dini

Parenting & Kids

Katharina Menge・in 7 hours

detail-thumb

Kasus anak penyandang Down syndrome di Surabaya jadi pengingat pentingnya ajarkan empati pada anak dan mencegah perundungan sejak dini.

Mommies, kasus perundungan pada anak kembali menjadi perhatian setelah seorang anak penyandang Down syndrome di Surabaya meninggal dunia. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa mengajarkan anak tentang empati, menghargai perbedaan, dan tidak menyakiti orang lain merupakan bagian penting dari pengasuhan.

Anak-anak masih belajar mengenali emosi dan memahami dampak tindakannya terhadap orang lain. Namun, bukan berarti orang tua bisa mengabaikan perilaku yang menyakiti teman. Justru sejak dini, anak perlu mendapatkan pemahaman bahwa setiap orang berhak merasa aman dan diperlakukan dengan baik.

Kronologi Kasus Anak Down Syndrome yang Meninggal di Surabaya

Kasus ini melibatkan Zulkarnain Abdil Aziz, anak laki-laki berusia 10 tahun penyandang Down syndrome dan memiliki keterbatasan fisik. Ia meninggal dunia setelah ditemukan dalam kondisi kritis di depan rumahnya di kawasan Medokan Ayu, Surabaya, pada 12 September 2026.

Berdasarkan pemberitaan detikJatim, keluarga menduga Zulkarnain menjadi korban kekerasan yang melibatkan dua anak tetangganya. Dugaan tersebut menguat setelah keluarga memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi. Keluarga kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada polisi untuk mengungkap penyebab kematian korban dan peran anak-anak yang diduga terlibat.

Dalam perkembangan kasus ini, orang tua dari dua anak yang diduga terlibat juga mendatangi keluarga korban untuk meminta maaf. Menurut pemberitaan detikJatim, salah satu keluarga memberikan uang sebesar Rp100 ribu, sementara keluarga lainnya membawa beras seberat 1 kilogram. Ayah korban, Selaras Abdul, menolak pemberian tersebut karena merasa nilainya tidak sebanding dengan kehilangan yang dialami keluarganya. Ia juga berharap anak-anak yang diduga terlibat mendapatkan pembinaan agar tidak mengulangi perbuatannya.

Hingga pemberitaan pada 19 Oktober 2026, polisi masih mendalami kasus tersebut, termasuk menunggu hasil asesmen sosial dan pemeriksaan psikologis. Karena anak-anak yang diduga terlibat masih di bawah umur, penanganannya juga harus mengikuti ketentuan sistem peradilan pidana anak.

Kasus ini menyisakan duka bagi keluarga korban sekaligus menjadi pengingat bagi orang tua tentang pentingnya membangun empati dan mengajarkan anak menghormati orang lain, termasuk mereka yang memiliki kondisi atau kemampuan berbeda.

Mengapa Empati Perlu Diajarkan Sejak Dini?

Empati adalah kemampuan untuk mencoba memahami perasaan dan sudut pandang orang lain. Pada anak, kemampuan ini berkembang seiring usia, pengalaman, serta contoh perilaku yang mereka lihat sehari-hari.

Mengajarkan empati juga menjadi bagian penting dari upaya mencegah perundungan. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pencegahan bullying dapat dilakukan dengan membantu anak mengembangkan keterampilan interpersonal, termasuk empati dan kemampuan mengelola konflik. Karena itu, anak perlu belajar bukan hanya mengenali perasaannya sendiri, tetapi juga memahami dampak perilakunya terhadap orang lain.

Anak yang belajar berempati diharapkan lebih mampu mengenali ketika temannya merasa sedih, takut, atau tidak nyaman. Mereka juga dapat belajar bahwa sesuatu yang dianggap lucu oleh satu orang belum tentu menyenangkan bagi orang lain.

Mengajarkan empati bukan berarti anak tidak boleh bercanda atau berbeda pendapat. Yang penting, anak memahami batasan: bercanda tidak boleh merendahkan, menyakiti, mengancam, atau membuat orang lain merasa tidak aman.

5 Cara Mengajarkan Empati dan Mencegah Bullying pada Anak

Foto: Pexels

1. Biasakan Anak Mengenali Perasaan Orang Lain

Ketika membaca cerita atau menonton film bersama, ajak anak membicarakan perasaan tokohnya. Mommies bisa bertanya, “Menurut kamu, bagaimana perasaan dia ketika teman-temannya tidak mau mengajaknya bermain?”

Pertanyaan sederhana seperti ini membantu anak belajar melihat situasi dari sudut pandang orang lain. Tidak perlu langsung mengoreksi jawabannya; dengarkan dahulu, lalu bantu anak memahami perasaan yang mungkin muncul.

2. Ajarkan Anak Menghargai Perbedaan

Anak mungkin bertemu teman dengan kondisi fisik, cara berkomunikasi, kemampuan belajar, atau latar belakang yang berbeda. Jelaskan bahwa perbedaan bukan alasan untuk mengejek, mengucilkan, atau memperlakukan seseorang dengan buruk.

Gunakan bahasa yang sesuai usia anak dan hindari menjadikan kondisi seseorang sebagai bahan lelucon. Mommies juga bisa mencontohkan cara berinteraksi yang wajar dan penuh hormat dengan penyandang disabilitas.

BACA JUGA: Sekolah Juga Bertanggung Jawab Mengajarkan Sikap Inklusif pada Anak Murid

3. Berikan Contoh Lewat Perilaku Sehari-hari

Anak tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari cara orang dewasa memperlakukan orang lain. Ketika Mommies menghargai petugas kebersihan, berbicara dengan sopan kepada orang yang berbeda pendapat, dan tidak menjadikan kekurangan orang lain sebagai bahan candaan, anak mendapat contoh nyata tentang empati.

Sebaliknya, komentar yang merendahkan orang lain di rumah juga bisa ditiru anak. Karena itu, orang tua perlu mengevaluasi kebiasaan sendiri dan menunjukkan bahwa setiap orang pantas diperlakukan dengan hormat.

4. Ajarkan Anak untuk Tidak Ikut-ikutan Melakukan Bullying

Anak bisa berada dalam situasi ketika teman-temannya mengejek atau mengucilkan seseorang. Mereka mungkin ikut tertawa karena takut dianggap berbeda atau dijauhi kelompoknya.

Jelaskan bahwa mengikuti perilaku teman yang menyakiti orang lain tetap bisa membuat korban merasa terluka. Anak dapat memilih untuk tidak ikut mengejek, mengajak korban menjauh dari situasi yang tidak nyaman, atau meminta bantuan guru dan orang dewasa tepercaya.

Tekankan juga bahwa anak tidak harus menghadapi situasi berbahaya sendirian. Meminta bantuan orang dewasa merupakan tindakan yang tepat, bukan tanda kelemahan.

BACA JUGA: Di Mana Orang Dewasa Saat Bully Terjadi?

5. Tanggapi Serius Ketika Anak Menyakiti Orang Lain

Jika Mommies mendapati anak mengejek, mengancam, atau menyakiti temannya, jangan buru-buru menganggapnya sekadar bercanda. Cari tahu apa yang terjadi, dengarkan penjelasan anak, lalu tegaskan bahwa perilaku tersebut tidak dapat diterima.

Bantu anak memahami dampak tindakannya dan bertanggung jawab dengan cara yang sesuai usia. Permintaan maaf perlu disertai pemahaman tentang kesalahan yang dilakukan dan perubahan perilaku, bukan sekadar diucapkan agar masalah cepat selesai.

Jika perilaku agresif terus berulang, orang tua dapat bekerja sama dengan guru atau tenaga profesional untuk mencari tahu penyebabnya dan menentukan pendampingan yang dibutuhkan.

BACA JUGA:Saat Anak Menjadi Pelaku Bullying, Orang Tua Perlu Lakukan Ini

UNICEF Indonesia juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang hangat dan inklusif untuk mencegah perundungan. Dalam panduannya bagi guru, UNICEF menyarankan agar orang dewasa menanggapi laporan bullying dengan serius, menunjukkan empati kepada anak yang menjadi korban, serta membantu anak yang melakukan perundungan memahami dampak perbuatannya dan memperbaiki kesalahan. Panduan ini bisa menjadi pengingat bahwa pencegahan bullying membutuhkan kerja sama orang tua dan sekolah, bukan hanya nasihat kepada anak.

Jangan Menunggu Anak Menjadi Korban atau Pelaku

Mommies, mengajarkan empati bukan percakapan yang cukup dilakukan satu kali. Anak membutuhkan contoh, pengingat, dan pendampingan berulang agar memahami bahwa perilaku mereka bisa berdampak pada orang lain.

Orang tua juga perlu membangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa aman bercerita ketika melihat atau mengalami perundungan. Jika ada perubahan perilaku, ketakutan pergi ke sekolah, atau cerita tentang perlakuan tidak menyenangkan dari teman, dengarkan tanpa langsung menyalahkan anak.

Pencegahan bullying membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar. Anak perlu memahami bahwa setiap orang berhak merasa aman, dan perbedaan bukan pembenaran untuk menyakiti siapa pun.

BACA JUGA: Bullying di Sekolah Masih Marak, Ini Ciri-Ciri Pelaku dan Korban Bullying

Cover: Pexels