
Anak menggunakan AI semakin umum untuk belajar dan mencari informasi. Ini 7 cara aman dan etis agar anak menggunakan AI dengan pendampingan orang tua.
Dewasa ini, semakin jamak kita melihat anak-anak memberi perintah ke voice assistant di HP atau menggunakan fitur kecerdasan buatan untuk mengerjakan tugas sekolah, mencari rekomendasi tontonan di YouTube, membuat filter foto yang lucu, menggunakan fitur autocomplete saat mengetik, hingga memanfaatkan asisten suara seperti Siri atau Alexa. Di masa depan nanti, mereka bahkan akan bekerja berdampingan dengan AI.
Binky Paramitha, I, M. Psi, Psikolog Pendidikan menerangkan sebenarnya ada sisi positif ketika anak menggunakan AI, “AI biasanya dapat membantu anak untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan dalam waktu cepat. Hal tersebut dapat membuka wawasan dan pengetahuan anak.”
Penggunaan AI pada anak memang nggak selalu berarti sesuatu yang buruk. Bahkan, ketika digunakan dengan tujuan yang tepat dan didampingi orang tua, teknologi ini bisa menjadi alat bantu belajar yang membuat anak lebih mudah mengeksplorasi informasi.
Sayangnya, sebagian besar anak belum benar-benar paham bagaimana teknologi ini bekerja, di mana letak kelemahannya, serta apa dampaknya bagi kehidupan mereka. Anak juga belum tentu memahami bahwa informasi yang diberikan AI bisa salah, bahwa data pribadi yang mereka masukkan perlu dijaga, atau bahwa interaksi dengan chatbot nggak sama dengan berinteraksi dengan manusia.
Mengajari anak tentang AI adalah keterampilan hidup dasar di era digital. Yuk, kita bedah panduan praktis orang tua mendampingi anak menggunakan AI.
Menjelaskan konsep kecerdasan buatan kepada anak tentu butuh pendekatan sesuai usia. Analogi di bawah ini bisa digunakan sebagai cara sederhana untuk mengenalkan konsep AI, tetapi bukan berarti semua anak di usia tersebut otomatis sudah siap menggunakan chatbot secara mandiri. Pendampingan tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kematangan anak. Panduan terbaru untuk keluarga juga menekankan bahwa anak yang lebih kecil membutuhkan penggunaan yang lebih terbatas dan didampingi orang dewasa.
Pesan utamanya jelas: AI adalah alat, dan manusialah yang memegang kendali.
Melansir dari Kids AI Tools, analogi mudah yang bisa disampaikan ke anak adalah bayangkan kamu sudah membaca seluruh buku resep masakan di dunia, lalu ada orang yang minta kamu menebak bumbu sebuah masakan. Kamu mungkin bisa menebak dengan sangat akurat, tapi kamu belum tentu tahu kenapa masakan itu rasanya enak.
Dengan analogi seperti ini, anak bisa lebih mudah memahami bahwa AI dapat memberikan jawaban yang terdengar pintar, tetapi bukan berarti AI selalu benar atau benar-benar memahami sesuatu seperti manusia.

Saat anak makin sering mengandalkan AI untuk memuaskan rasa ingin tahunya, Mommies perlu menetapkan batasan yang jelas agar kemampuan berpikir kritis mereka tidak tumpul.
Mengutip panduan dari Kids AI Tools, Harnisha, dan Ekolsoft, berikut adalah 7 aturan emas yang wajib diajarkan. Prinsip-prinsip ini juga sejalan dengan panduan UNICEF yang menekankan pentingnya keselamatan, perlindungan data dan privasi, transparansi, serta kesiapan anak menghadapi perkembangan AI.
Aplikasi AI tidak perlu tahu nama lengkap anak, nama sekolah, alamat rumah, nomor telepon, atau foto pribadi.
Bahkan, informasi yang terasa sepele seperti rutinitas harian, nama teman, perasaan pribadi, atau masalah yang sedang dihadapi juga bisa menjadi informasi sensitif tergantung konteksnya. UNICEF mengingatkan bahwa anak bisa saja membagikan informasi pribadi kepada AI tanpa menyadari bahwa informasi tersebut memiliki nilai sensitif.
Apa yang bisa Mommies katakan kepada anak: “AI memang membantu, tapi dia tidak perlu tahu tempat tinggal atau sekolahmu. Gunakan nama panggilan dan jangan pernah kirim foto atau alamat rumah ya.”
BACA JUGA: Selain Screen Time, Ini 5 Kebiasaan Digital Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
AI membuat teks berdasarkan pola dan prediksi dari data yang digunakan dalam proses pembelajarannya, bukan berdasarkan fakta mutlak. AI bisa menyampaikan informasi salah dengan nada yang sangat meyakinkan.
Karena itu, anak perlu belajar bahwa mendapatkan jawaban dari AI bukan berarti pekerjaan mencari tahu sudah selesai. UNICEF juga mengingatkan bahwa generative AI dapat menghasilkan informasi yang keliru atau menyesatkan.
Apa yang bisa Mommies katakan kepada anak: “AI kadang suka mengarang jawaban yang terdengar meyakinkan. Kalau kamu pakai jawaban AI untuk tugas, selalu cek ulang di buku, bertanya ke guru, atau buka situs tepercaya seperti situs pemerintah atau institusi pendidikan.”
Beberapa anak mulai membentuk ikatan emosional dengan chatbot. Tegaskan bahwa AI bukan manusia dan respons yang terasa hangat atau empatik tidak sama dengan kepedulian manusia yang nyata.
AI bisa dirancang untuk memberikan respons yang terasa suportif, tetapi bukan berarti anak mendapatkan hubungan sosial yang setara dengan hubungan bersama orang tua, teman, guru, atau orang dewasa tepercaya. APA juga mengingatkan bahwa chatbot bisa terasa seperti ruang yang aman dan tidak menghakimi bagi remaja, tetapi persepsi aman tersebut tidak sama dengan keamanan yang sebenarnya.
Apa yang bisa Mommies katakan kepada anak: “AI itu alat yang canggih, seperti kalkulator atau mesin pencari. Tapi dia bukan teman sungguhan yang bisa peduli sama kamu. Teman sejati adalah orang-orang di sekitarmu.”
Ajarkan perbedaan antara menggunakan AI untuk belajar dan meminta AI melakukan pekerjaan rumah (PR) mereka. Tujuannya adalah belajar, bukan mencari jalan pintas.
Apa yang bisa Mommies katakan kepada anak: “Boleh pakai AI untuk cari ide atau memeriksa tata bahasa. Tapi pemikiran utamanya harus dari kamu. Kalau gurumu minta kamu menjelaskan tulisan itu, kamu harus bisa jawab.”
Prinsip ini juga penting karena penggunaan AI yang terlalu mengandalkan jawaban instan berisiko membuat anak melewatkan proses berpikir yang justru penting dalam belajar. Artikel Mommies Daily mengenai penggunaan AI untuk PR juga menekankan bahwa AI sebaiknya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses dan usaha belajar.
BACA JUGA: Anak Pakai AI untuk Mengerjakan PR: Curang atau Adaptasi Zaman?
Latih anak untuk menjadi pengguna AI yang kritis dengan mengajukan pertanyaan lanjutan seperti: “Kenapa begitu?”, “Bagaimana prosesnya?”, atau “Bisa kasih contoh lain?” agar mereka mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.
Jangan sampai anak terbiasa menerima jawaban pertama dari AI sebagai jawaban final. Justru, biasakan mereka membandingkan, mempertanyakan, dan mencari tahu lebih lanjut.
BACA JUGA: 5 Skill yang Tetap Dibutuhkan Anak di Era AI, Orang Tua Wajib Tahu
Aplikasi berbasis AI tumbuh sangat cepat dan tidak semuanya aman untuk anak-anak. Buat kesepakatan agar anak selalu berdiskusi sebelum mencoba platform baru.
Yang perlu diperhatikan bukan cuma apakah sebuah aplikasi memiliki fitur AI, tetapi juga usia pengguna yang dituju, pengaturan privasi, jenis data yang dikumpulkan, serta bagaimana aplikasi tersebut menangani percakapan anak. UNICEF menekankan bahwa perlindungan anak tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga; sistem AI juga perlu dirancang dengan perlindungan dan privasi anak.
Apa yang bisa Mommies katakan kepada anak: “Sebelum coba aplikasi AI baru, kasih tahu ke Mama/Papa dulu ya. Biar kita cek sama-sama apakah aplikasinya aman.”
Ajak anak berdiskusi santai mengenai perkembangan teknologi.
Pertanyaan pemancing: “Menurut kamu, asisten di HP benar-benar paham ucapan kita atau cuma mencocokkan suara?”, atau “Kira-kira masalah apa di dunia yang ingin kamu selesaikan pakai AI nanti kalau kamu sudah besar?”
Dengan membiasakan percakapan seperti ini, anak nggak merasa bahwa AI adalah sesuatu yang harus disembunyikan dari orang tua. Mommies justru bisa tahu bagaimana anak menggunakan AI, apa yang membuat mereka penasaran, dan apakah ada hal yang perlu dikhawatirkan.
“Banyak anak suka menggunakan AI terutama saat mengerjakan tugas sekolah karena faktor kecepatan dan kemudahan bisa menjadi hal yang dianggap menguntungkan bagi anak-anak. Bayangkan (misalnya) untuk mendapatkan landasan teori dari suatu topik permasalahan, biasanya kita perlu membuka beberapa buku dan jurnal penelitian, tentunya membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan dengan AI, anak dapat memasukkan prompt pertanyaan yang dibutuhkan dan langsung dirangkum oleh AI dalam waktu singkat,” terang Psikolog Binky.
Menghimpun rujukan dari Ekolsoft, berikut adalah panduan cara aman anak menggunakan AI saat mengerjakan PR:
Pada dasarnya, batas antara “boleh” dan “tidak boleh” bisa berbeda di setiap sekolah atau tugas. Jadi, aturan guru tetap perlu menjadi acuan utama. Yang paling penting, anak tetap memahami materi dan mampu menjelaskan proses berpikirnya sendiri.

Agar anak tidak sekadar pasif menjadi pengguna, ajak mereka melakukan aktivitas interaktif yang menyenangkan ini:
Aktivitas seperti ini membuat penggunaan AI nggak berhenti pada “tanya lalu dapat jawaban”, tetapi menjadi kesempatan bagi anak untuk bereksperimen, bertanya, mengecek, dan mengambil keputusan sendiri.
Psikolog Binky mengingatkan bahwa penggunaan AI sudah mulai merugikan anak jika:
BACA JUGA: Anak Sering Pakai ChatGPT? Ini Dampaknya pada Otak Menurut Ahli
“Sebaiknya AI digunakan sebagai alat pendukung, bukan sebagai alat utama dalam berpikir atau belajar. Anak tetap perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, merumuskan permasalahan, dan membangun alur berpikir yang sesuai secara logika.
Selain itu AI juga sebaiknya tidak digunakan sebagai teman bercerita (curhat) satu-satunya, karena tendensi AI untuk mengafirmasi seluruh ucapan penggunanya, membuat mereka mendapatkan empati yang semu dan bisa jadi membuat pengguna tersebut jadi mengurangi interaksi sosial dengan teman manusianya. Karena ketika berinteraksi dengan manusia, bisa saja terjadi konflik atau perbedaan pendapat, berbeda dengan AI yang akan menuruti perkataan atau permintaan pengguna,” jelasnya lagi.
Hal yang perlu diperhatikan Mommies adalah ketika penggunaan AI mulai menggantikan fungsi penting dalam kehidupan anak. Misalnya, anak semakin menjauh dari teman dan keluarga, tidur atau belajar terganggu karena AI, menjadi sangat cemas ketika tidak bisa mengakses AI, atau lebih memilih chatbot sebagai tempat bercerita utama dibandingkan manusia. APA juga menyarankan orang tua memperhatikan tanda-tanda ketika AI mulai menggeser hubungan nyata, sekolah, tidur, atau aktivitas sehari-hari.
Meski pendampingan orang tua adalah kunci utama, ada situasi di mana intervensi dari ahli sangat dibutuhkan. Melansir dari American Psychological Association (APA), jika anak atau remaja mulai menggunakan AI untuk membicarakan isu depresi berat, menyakiti diri sendiri, atau pikiran bunuh diri, orang tua harus segera mencari bantuan dari tenaga medis profesional. AI chatbot tidak dirancang untuk menggantikan intervensi profesional dalam situasi krisis.
Jadi, Mommies nggak harus langsung panik setiap kali melihat anak bertanya ke AI. Justru, semakin sering anak menggunakan AI, semakin penting bagi kita untuk hadir, ngobrol, dan mengajarkan batasannya.
Karena pada akhirnya, tujuan kita bukan membuat anak takut menggunakan teknologi. Kita ingin anak tumbuh menjadi pengguna AI yang kritis, aman, bertanggung jawab, dan tetap tahu kapan harus mencari bantuan dari manusia.
Cover: Magnific