banner-detik
PARENTING & KIDS

Anak Pakai AI untuk Mengerjakan PR: Curang atau Adaptasi Zaman?

author

Sisca Christinain 5 hours

Anak Pakai AI untuk Mengerjakan PR: Curang atau Adaptasi Zaman?

Maraknya anak pakai AI untuk mengerjakan tugas sekolah adalah hal yang perlu kita – para pendidik yaitu orang tua dan guru – telisik bersama lebih jauh.

Hidup di era serba digital seperti sekarang ini, rasanya mustahil untuk menjauhkan Artificial Intelligence atau Akal Imitas (AI) dari keseharian kita. Awalnya, saya pribadi juga mempertahankan idealisme, nggak mau pakai AI untuk pekerjaan. Lama-kelamaan, teman-teman mengatakan bahwa AI justru membantu untuk memberikan insight atau referensi yang dibutuhkan, sehingga membuat waktu kerja jadi lebih efisien.

Pada dasarnya, AI hadir untuk membuat pekerjaan atau urusan lebih mudah, efisien, dan membuat kita jadi punya waktu lebih untuk mengerjakan hal yang lainnya. Dengan catatan, apabila digunakan dengan benar dan sesuai fungsinya.

Lalu bagaimana dengan anak-anak? Jujur saja, saya juga gusar. Dulu ketika anak-anak saya diberi tugas sekolah membuat kliping untuk mengumpulkan informasi (dan saya suka banget tugas kliping itu!). Kalau anak sekarang? Dikit-dikit googling, tanya AI; dan taraaaa, jawaban ada di depan mata! Semudah itukah? Emang begitu dapat jawaban langsung ngerti?

AI Bukan Musuh, Tapi Juga Bukan Jalan Pintas, Penggunaannya Perlu Diawasi

Kalau kita renungkan, sebetulnya AI mirip kalkulator, penggaris, sempoa atau alat bantu belajar lainnya. Hanya saja, bentuknya mengalami perubahan, dari fisik menjadi digital penuh. Jadi, hal yang pertama sekali perlu kita ubah adalah cara pandang kita terhadap AI. Apabila kita memandangnya sebagai alat bantu, maka kita akan menggunakan sesuai fungsi dan mendapat manfaat dari AI. Itulah yang perlu kita jelaskan pada anak.

anak pakai ai

Foto: Image by rawpixel.com on Magnific

Selanjutnya, kita perlu mengawasi penggunaan AI pada anak. Membuat aturan kapan boleh pakai AI kapan tidak. Kemudian, tetap adakan sesi belajar tanpa gadget sama sekali, misalnya ada sesi tanya jawab untuk memastikan anak memahami materi atau tidak.

Jadi, di dalam mengerjakan tugas atau PR, AI bisa membantu anak untuk memahami konsep lebih konkrit, bukan menyerahkan sepenuhnya proses berpikir pada AI dan copy paste jawaban supaya PR besok aman dikumpul.

Anak Pakai AI, Ada Risiko Kehilangan Daya Juang

Hidup di era serba canggih serba ada saja sudah berisiko membuat gen alpha kesulitan menghadapi ketidaknyamanan. Kepanasan, AC mati, gusar bukan main. Menunggu sejenak, berasa kelamaan lalu rewel. Ditambah lagi hidup pakai AI terus-terusan? Ngerjaian tugas, PR, tanya ini itu pakai AI? Gimana nanti ngerjain ujiaaann? Bisa-bisa frustrasi saat ngga paham sekali rumus luas permukaan prisma segitiga!

Menurut artikel Dampak Psikologis Penggunaan AI dalam Pengerjaan Tugas: Antara Rasa Terbantu dan Kekhawatiran Ketergantungan pada Mahasiswa (2025) dari Liberosis: Jurnal Psikologi Dan Bimbingan Konseling, hasil penelitian menunjukkan bahwa terlepas dari banyaknya manfaat AI bagi siswa dalam mengerjakan tugas, AI juga berisiko membuat ketergantungan hingga kehilangan kemampuan berpikir mandiri.

Jadi, kita perlu mengendalikan penggunaan AI pada anak demi mencegah dampak buruk yang bisa terjadi pada penggunaan AI yang bisa membuat anak jadi kurang tahan frustrasi, tidak terbiasa memecahkan masalah dan menurunkan kemampuan anak untuk berpikir kritis.

Baca juga: Anak Sering Pakai ChatGPT? Ini Dampaknya pada Otak Menurut Ahli

Di Sisi Lain, AI Punya Banyak Manfaat dalam Membantu Anak Belajar atau Mengerjakan Tugas

Mommies pasti setuju, ya, kalau AI itu memang bisa membuat hidup kita lebih efisien. Demikian juga bagi anak sekolah. Beberapa penelitian dan pandangan psikolog maupun tenaga didik menyebutkan bahwa AI bisa membantu siswa lebih mudah dalam memahami materi belajar. Selain itu, menghemat waktu juga, sehingga durasi belajar bisa lebih singkat, dan beban kognitif berkurang, sehingga mengurangi stres anak di bidang akademik.

Bagi anak yang masih sungkan bertanya, atau membutuhkan penjelasan berulang-ulang, juga bisa terbantu dengan adanya AI. Jadi, fungsi AI sebagai alat personal belajar sesuai ritme masing-masing anak, rasanya, sih, hal yang positif, ya.

Pada Akhirnya, AI Hanyalah Alat Bantu, Bukan Pengganti Proses dan Usaha Belajar

Kalau dibilang anak pakai AI untuk mengerjakan tugas sekolah adalah kecurangan, rasanya berat dan negatif sekali, ya. Biar bagaimanapun, teknologinya nggak pernah salah. Kita, yang memanfaatkan teknologi itulah yang perlu bijaksana menggunakan AI.

Anak juga perlu adaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk AI. Karena, cepat atau lambat anak juga akan memerlukannya untuk perkembangan hidup mereka.

Namun, perlu diingat, lagi-lagi AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti atau pesuruh anak untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya. Kita sebagai orang tua, punya tugas besar untuk memastikan anak dapat menggunakan teknologi dengan benar, dan diperlengkapi dengan literasi digital yang beretika.

Akhirnya, pertanyaannya bukan lagi anak boleh pakai AI atau tidak untuk belajar, melainkan: apakah anak tetap belajar, berpikir dan berusaha saat menggunakan AI?

Baca juga: 8 Soft Skill yang Perlu dimiliki Gen Alpha dan Gen Beta, Mommies Wajib Tahu!

Cover: Image by freepik

Share Article

author

Sisca Christina

Ibu dua anak yang berprofesi sebagai digital nomad, yang juga suka menulis. Punya prinsip: antara mengasuh anak, bekerja dan melakukan hobi, harus seimbang.

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan