
Tas siaga bencana untuk bayi dan balita perlu barang khusus. Ini 9 perlengkapan yang sering terlupakan orang tua, dari popok, makanan hingga barang favorit anak.
Kalau harus keluar rumah dalam kondisi darurat sambil menggendong bayi atau menggandeng balita, kira-kira apa yang pertama kali Mommies ambil?
Dompet? Ponsel? Dokumen penting? Atau malah refleks mencari popok dan susu si Kecil?
Nah, di sinilah pentingnya punya tas siaga bencana untuk bayi dan balita yang sudah siap diambil kapan saja. Bukan tas yang isinya satu rumah, ya, Mommies. Justru, tas ini perlu berisi barang-barang yang benar-benar dibutuhkan saat harus evakuasi dan akses ke rumah, toko, listrik, atau air bersih belum tentu mudah.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Tas Siaga Bencana (TSB) disiapkan untuk membantu keluarga bertahan ketika terjadi bencana atau kondisi darurat sekaligus memudahkan proses evakuasi. Dalam panduan BNPB, contoh kebutuhan dasar TSB untuk sekitar tiga hari antara lain air minum, makanan tahan lama, pakaian, P3K dan obat pribadi, alat penerangan, alat komunikasi, uang tunai, serta dokumen penting.
Namun kalau di rumah ada bayi atau balita, tentu kebutuhannya nggak bisa disamakan begitu saja dengan orang dewasa.
BACA JUGA: Tas Siaga Bencana: Ini Daftar Barang yang Wajib Disiapkan
Bayi dan anak kecil masih sangat bergantung pada orang dewasa untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. UNICEF juga menekankan bahwa kondisi darurat dapat membuat orang tua lebih sulit memenuhi kebutuhan anak kecil, termasuk makanan bergizi, perawatan yang responsif, serta lingkungan yang aman.
Hal ini juga terlihat dalam penelitian yang diterbitkan pada 2025 terhadap keluarga dengan bayi di bawah usia 2 tahun yang terdampak Hurricane Ida dan Hurricane Ian. Penelitian tersebut mengidentifikasi berbagai hambatan dan kebutuhan khusus keluarga dengan bayi selama dan setelah bencana, termasuk terkait keputusan evakuasi dan pemberian makan bayi.
Artinya, punya tas siaga bukan cuma soal “sudah punya senter dan air minum”. Mommies juga perlu berpikir, “Kalau kami harus pergi sekarang, apa yang akan dibutuhkan anak saya selama beberapa jam atau hari ke depan?”

Ini mungkin terdengar obvious, tapi justru popok termasuk barang yang bisa cepat habis ketika situasi darurat berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Sisihkan popok sekali pakai sesuai ukuran si Kecil untuk kebutuhan beberapa hari. Jangan lupa masukkan juga wipes, tisu kering, kantong plastik untuk popok kotor, krim ruam popok, dan alas ganti popok tipis kalau masih muat. CDC juga memasukkan popok, baby wipes, krim ruam, serta kantong plastik untuk popok atau pakaian kotor dalam daftar perlengkapan darurat untuk keluarga dengan bayi dan anak kecil.
Jangan lupa cek ukuran popok secara berkala. Bisa jadi tasnya sudah lengkap, tapi si Kecil keburu naik ukuran sebelum tas itu benar-benar dibutuhkan.
Kalau bayi masih menyusu langsung, kebutuhan Mommies tentu berbeda dengan bayi yang mengonsumsi susu formula. Untuk bayi yang minum formula, siapkan stok sesuai kebutuhan si Kecil dan pertimbangkan ready-to-feed (RTF) formula untuk kondisi darurat karena jenis ini tidak membutuhkan air untuk pencampuran.
Jika menggunakan formula bubuk, pastikan Mommies punya akses ke air yang aman untuk menyiapkan susu, sekaligus perlengkapan yang dibutuhkan untuk membersihkan botol dan dot. CDC mengingatkan bahwa formula bubuk tidak steril dan bisa lebih sulit digunakan secara aman ketika air bersih atau fasilitas untuk mencuci perlengkapan terbatas.
Untuk balita, masukkan makanan yang sudah familiar, tahan disimpan, dan mudah dimakan. Jangan tiba-tiba bereksperimen dengan camilan baru saat situasi sedang chaos. Bisa-bisa tas sudah siap, anaknya malah mogok makan.

Punya P3K saja belum tentu cukup kalau si Kecil punya kebutuhan kesehatan tertentu.
Masukkan obat rutin yang memang diresepkan untuk anak, salinan informasi medis penting, serta perlengkapan kesehatan yang biasa digunakan. Pastikan obat masih dalam masa berlaku dan cek kembali secara berkala.
BNPB memasukkan P3K dan obat-obatan pribadi sebagai bagian dari isi Tas Siaga Bencana. Untuk keluarga dengan anak kecil, kebutuhan medis tentu perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.
Catatan: jangan memasukkan obat anak hanya berdasarkan tebakan “siapa tahu nanti demam”. Untuk obat yang penggunaannya spesifik, ikuti anjuran dokter atau petunjuk pada kemasan.
BACA JUGA: Infografik: Isi Kotak P3K Saat Staycation
Satu set baju mungkin terasa cukup kalau Mommies hanya membayangkan kondisi normal. Tapi dalam situasi darurat, pakaian anak bisa kotor, basah, terkena makanan, atau bahkan terkena cipratan air saat proses evakuasi.
Siapkan beberapa set pakaian yang nyaman dan sesuai cuaca, termasuk pakaian dalam, kaus kaki, jaket atau pakaian hangat bila diperlukan. BNPB juga memasukkan pakaian untuk kebutuhan sekitar tiga hari sebagai salah satu contoh isi Tas Siaga Bencana.
Nggak perlu sampai bongkar koper mudik, ya. Pilih pakaian yang ringan, mudah dilipat, dan memang paling mungkin dipakai.

Dalam kondisi darurat, anak bukan cuma membutuhkan makanan, pakaian, dan tempat yang aman. Mereka juga bisa membutuhkan sesuatu yang terasa familiar di tengah situasi yang serba berubah.
Kalau masih ada ruang, masukkan selimut kecil, boneka favorit, buku kecil, atau satu benda yang familiar bagi si Kecil. UNICEF sendiri memasukkan mainan, permainan, dan buku dalam Early Childhood Development Kit untuk membantu menciptakan lingkungan yang aman sekaligus memberi anak kesempatan bermain dan mendapatkan kembali rasa normal dalam situasi darurat.
Jadi, iya, boneka kesayangan si Kecil boleh masuk tas. Kali ini bukan karena Mommies sedang memanjakan anak, tapi karena rasa aman juga punya tempat dalam persiapan bencana.
Air minum masuk dalam daftar utama Tas Siaga Bencana. Namun untuk bayi dan balita, Mommies juga perlu memikirkan bagaimana si Kecil akan minum.
Siapkan botol minum, sippy cup, atau perlengkapan lain yang memang biasa digunakan anak. Untuk bayi yang menggunakan botol, jangan lupa perlengkapan pendukung yang dibutuhkan sesuai kebiasaan dan kondisi keluarga.
Khusus bayi yang minum formula, kebutuhan air harus dihitung lebih spesifik karena air untuk menyiapkan susu harus berasal dari sumber yang aman. CDC juga menyarankan mempertimbangkan ready-to-feed formula serta gelas sekali pakai jika botol dan dot tidak dapat dibersihkan dengan aman dalam kondisi darurat.
Yang penting, jangan membawa perlengkapan yang tidak pernah dipakai sehari-hari hanya karena terlihat praktis di toko. Dalam kondisi darurat bukan waktunya trial and error.

Akta kelahiran, kartu keluarga, identitas, informasi medis, dan nomor kontak keluarga sebaiknya disiapkan dalam satu tempat yang mudah diambil.
BNPB memasukkan dokumen penting, termasuk akta kelahiran, sebagai bagian dari contoh isi Tas Siaga Bencana. Dokumen fisik sebaiknya dilindungi dengan zip lock atau wadah kedap air, sementara salinan digital juga bisa disimpan dengan aman.
Untuk keluarga dengan anak kecil, Mommies juga bisa menambahkan foto terbaru anak dan informasi penting seperti alergi, kondisi medis tertentu, atau kontak darurat. Detail kecil seperti ini bisa sangat membantu ketika Mommies sedang panik atau harus meminta bantuan orang lain.
Ini memang bukan barang yang harus dimasukkan ke dalam tas, tapi bisa menjadi perlengkapan penting yang disiapkan di dekat tas siaga.
Kalau harus berjalan kaki saat evakuasi sambil membawa bayi, baby carrier bisa membuat tangan Mommies lebih bebas dibandingkan harus terus menggendong si Kecil. Pilih yang memang sudah biasa digunakan dan nyaman untuk bayi maupun penggendong.
Jangan baru mencoba carrier saat bencana terjadi. Kalau si Kecil belum pernah nyaman digendong dengan alat tersebut, situasi darurat bukan waktu yang ideal untuk melakukan eksperimen.
BACA JUGA: Waspada Gempa Megathrust Indonesia: Wilayah Berisiko dan Persiapan Keluarga

Ada beberapa barang yang ukurannya kecil, tetapi bisa terasa sangat berguna ketika kondisi mulai serba terbatas. Misalnya hand sanitizer, tisu basah dan kering, kantong plastik, power bank, kabel charger, senter kecil, dan peluit.
BNPB juga memasukkan alat penerangan, ponsel beserta charger atau power bank, masker, dan peluit dalam contoh perlengkapan Tas Siaga Bencana.
Untuk masker, simpan masker untuk orang dewasa dan anak usia 2 tahun ke atas yang memang sudah bisa menggunakannya dengan aman. Bayi dan anak di bawah usia 2 tahun tidak boleh memakai masker karena ada risiko kesulitan bernapas atau sesak.
Secara teori, membawa semua kebutuhan anak selama tiga hari memang terdengar ideal. Dalam praktiknya, kalau tas sampai beratnya seperti membawa koper pindahan, Mommies justru bisa kesulitan membawanya saat harus bergerak cepat.
BNPB menyebut TSB sebagai persiapan untuk bertahan ketika bantuan belum datang sekaligus membantu proses evakuasi. Karena itu, pilih barang berdasarkan kebutuhan paling penting dan kemampuan keluarga untuk membawanya, bukan berdasarkan prinsip “masukkan semua sekalian”.
Jadi, Mommies nggak harus memaksakan seluruh stok popok satu kardus masuk ke tas. Buat stok tambahan di rumah, sementara tas siaga berisi kebutuhan awal yang benar-benar bisa langsung dibawa.
Untuk keluarga dengan bayi, terutama yang menggunakan formula, stok di rumah juga perlu diperhatikan. CDC menyarankan keluarga memastikan persediaan formula yang cukup untuk beberapa hari dan mengecek tanggal kedaluwarsanya secara berkala.
Tas siaga bukan barang yang selesai dibuat lalu boleh dilupakan begitu saja.
Cek isinya secara berkala dan sesuaikan dengan usia serta kebutuhan anak. Ukuran popok bisa berubah, baju bisa kekecilan, makanan bisa mendekati tanggal kedaluwarsa, obat bisa habis masa berlaku, dan barang favorit si Kecil bisa berganti.
BACA JUGA: Isu 7 Hari tanpa Listrik, Cara Antisipasi Keluarga tanpa Panik Berlebih
Jangan lupa pastikan seluruh anggota keluarga tahu di mana tas itu disimpan. Jangan sampai tas siaga sudah lengkap, tetapi ketika gempa atau kondisi darurat terjadi, semua orang malah sibuk bertanya, “Tasnya mana?”
Karena pada akhirnya, tas siaga bencana bukan dibuat untuk bikin Mommies parno. Justru sebaliknya, persiapan kecil ini bisa membuat kita punya satu hal yang bisa dikendalikan ketika situasi di luar kendali.
Apalagi kalau ada bayi atau balita. Kita mungkin nggak bisa menebak kapan kondisi darurat datang, tapi setidaknya kita bisa memastikan kebutuhan si Kecil sudah siap dibawa.
Cover: Magnific