banner-detik
SELF

Waspada Gempa Megathrust Indonesia: Wilayah Berisiko dan Persiapan Keluarga

author

Mommies Dailyin 6 hours

Waspada Gempa Megathrust Indonesia: Wilayah Berisiko dan Persiapan Keluarga

Gempa megathrust tidak bisa diprediksi kapan terjadi. Kenali wilayah berisiko, siapkan tas siaga, dan lindungi keluarga termasuk bayi, anak, dan lansia.

Belakangan ini, istilah gempa megathrust kembali ramai dibicarakan. Wajar kalau Mommies kemudian bertanya-tanya: Memangnya akan terjadi kapan? Apakah rumah kita termasuk wilayah yang terdampak? Kalau punya anak kecil, bayi, atau tinggal bersama lansia, apa yang harus dilakukan?

Tenang dulu, Mommies. Ada satu hal penting yang perlu diluruskan: membicarakan potensi gempa megathrust bukan berarti sedang memprediksi gempa akan terjadi dalam waktu dekat.

BMKG menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada teknologi atau ilmu pengetahuan yang mampu memprediksi secara tepat kapan, di mana, dan seberapa besar gempa akan terjadi. Jadi, informasi mengenai zona megathrust sebaiknya dipahami sebagai pengingat untuk meningkatkan kesiapsiagaan, bukan alasan untuk panik.

BACA JUGA: Latih Anak Tanggap Bencana (Gempa & Kebakaran)

Apa Sebenarnya Gempa Megathrust?

Sederhananya, megathrust berkaitan dengan zona subduksi, yaitu wilayah di mana satu lempeng tektonik menunjam di bawah lempeng lainnya. Pergerakan di zona ini dapat menghasilkan gempa bumi yang sangat besar.

Indonesia memang berada di kawasan yang aktif secara tektonik. Zona subduksi membentang dari wilayah barat Sumatra, sepanjang selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, hingga sejumlah wilayah Indonesia bagian timur.

Karena itu, yang perlu kita lakukan bukan menebak “kapan gempa megathrust terjadi?”, tetapi lebih kepada “kalau gempa terjadi, apakah keluarga kita sudah tahu harus melakukan apa?”

Foto: detikedu (Dok ITS)

Wilayah Indonesia Mana Saja yang Perlu Waspada?

Mommies mungkin sering mendengar nama Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Keduanya memang menjadi perhatian karena masuk dalam wilayah yang oleh para ahli dikategorikan sebagai seismic gap, yaitu zona yang sudah lama tidak mengalami gempa besar.

Namun, penting dicatat: seismic gap bukan berarti gempa pasti segera terjadi.

Dalam penjelasannya, BMKG pernah menyebut sejumlah kawasan seismic gap pada zona sumber gempa megathrust, antara lain:

  • Kepulauan Mentawai dan sekitarnya
  • Selat Sunda
  • Selatan Bali
  • Sulawesi Utara
  • Laut Maluku
  • Utara Papua
  • Laut Banda

Sementara itu, pemetaan segmentasi zona subduksi Indonesia juga mencakup kawasan seperti Aceh-Andaman, Nias-Simeulue, Mentawai, Enggano, Selat Sunda, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Banda, Sulawesi Utara, hingga Papua.

Lalu, Apakah Hanya Daerah Tersebut yang Bisa Terdampak?

Besarnya dampak gempa bergantung pada banyak faktor, termasuk lokasi sumber gempa, kekuatan dan kedalamannya, kondisi tanah, kualitas bangunan, serta jarak dari sumber gempa.

Untuk wilayah pesisir yang berhadapan dengan sumber gempa di laut, ada potensi tsunami yang juga perlu diperhatikan. Jadi, tinggal di kota yang jauh dari garis pantai bukan berarti otomatis bebas dari guncangan gempa, sementara tinggal di pesisir berarti perlu mengetahui jalur evakuasi tsunami.

Intinya, Mommies tidak perlu menghafalkan semua nama zona megathrust. Yang lebih penting adalah mengetahui risiko di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

BACA JUGA: Tas Siaga Bencana: Ini Daftar Barang yang Wajib Disiapkan

Jadi, Apa yang Sebaiknya Disiapkan Keluarga?

Nah, ini bagian yang justru bisa kita lakukan mulai sekarang.

BNPB merekomendasikan keluarga mengenali potensi bahaya di sekitar rumah, mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul, serta mendiskusikan respons keluarga ketika bencana terjadi.

1. Buat Rencana Keluarga

Diskusikan bersama Daddies dan anggota keluarga:

  • Kalau gempa terjadi saat semua orang berada di rumah, siapa yang melakukan apa?
  • Kalau Mommies sedang bersama bayi sementara Daddies sedang bekerja, bagaimana cara berkomunikasi?
  • Di mana titik kumpul keluarga?
  • Bagaimana jika jaringan telepon terganggu?
  • Prosedur evakuasi di sekolah atau daycare anak seperti apa?
  • Jika tinggal dekat pantai, ke mana harus mengungsi jika ada ancaman tsunami?

UNICEF juga merekomendasikan keluarga memiliki titik pertemuan, daftar kontak yang diperbarui, mengetahui rencana sekolah anak, dan melakukan latihan secara berkala.

Foto: Roger Brown/Pexels

2. Siapkan Tas Siaga

Tidak harus langsung membeli perlengkapan mahal. Mulai dari kebutuhan dasar yang memang akan berguna.

Isi tas siaga keluarga, misalnya:

  • Air minum
  • Makanan tahan lama
  • P3K
  • Obat-obatan rutin
  • Senter dan baterai
  • Power bank
  • Masker
  • Peluit
  • Pakaian ganti
  • Dokumen penting atau salinannya
  • Uang tunai secukupnya
  • Produk kebersihan pribadi

Idealnya, kebutuhan darurat disiapkan untuk setidaknya beberapa hari. UNICEF merekomendasikan emergency kit yang dapat dibawa dan berisi kebutuhan seperti makanan, air, obat, P3K, serta senter dan baterai.

Kalau bingung, Mommies bisa cek detailnya di artikel ini.

3. Kalau Punya Bayi dan Balita, Buat Tas Khusus Anak

Ini yang kadang luput dari perhatian.

Untuk bayi, sesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari mereka, misalnya:

  • Popok
  • Tisu basah
  • Baju dan selimut
  • Susu formula jika memang digunakan
  • Botol dan perlengkapannya
  • Makanan bayi
  • Air
  • Obat yang memang rutin digunakan
  • Kantong plastik untuk popok atau pakaian kotor
  • Mainan kecil atau benda yang familiar bagi anak

Kalau Mommies masih menyusui, ASI tetap menjadi sumber nutrisi yang penting dalam situasi darurat. IDAI juga menekankan pentingnya menyusui dalam kondisi darurat.

Untuk balita dan anak yang lebih besar, boleh juga siapkan satu tas kecil berisi camilan, botol minum, pakaian, senter kecil, dan satu benda kesayangan mereka.

Tujuannya bukan cuma memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga memberikan rasa aman.

BACA JUGA: Jangan Asal Donasi, Ini 7 Jenis Baju Bekas yang Sebaiknya Tidak Didonasikan

4. Jangan Lupa Kebutuhan Lansia

Kalau di rumah ada orang tua atau lansia, buat kebutuhan khusus mereka.

Misalnya:

  • Obat rutin dan resep/daftar obat
  • Kacamata cadangan
  • Alat bantu dengar jika digunakan
  • Tongkat atau alat bantu berjalan
  • Popok dewasa jika diperlukan
  • Air dan makanan yang sesuai kebutuhan
  • Kontak keluarga yang mudah dihubungi

Lansia dapat memiliki kebutuhan yang berbeda saat harus bergerak cepat atau mengungsi. Karena itu, rencana evakuasi sebaiknya sudah mempertimbangkan siapa yang akan mendampingi mereka.

Saat Gempa Terjadi, Jangan Buru-Buru Lari

Kalau berada di dalam bangunan dan kondisi memungkinkan, prinsip yang bisa digunakan adalah Drop, Cover, Hold On:

  • Drop: merunduk atau menjatuhkan diri agar tidak mudah terjatuh.
  • Cover: lindungi kepala dan tubuh, misalnya berlindung di bawah meja yang kokoh.
  • Hold On: berpegangan sampai guncangan berhenti.

BNPB dan BMKG sama-sama menganjurkan perlindungan diri saat gempa dan menghindari benda yang dapat jatuh.

Jangan menggunakan lift. Setelah guncangan berhenti, keluar menuju tempat aman dengan tetap melindungi kepala dan waspadai gempa susulan.

Foto: Esase/Pexels

Bagaimana Kalau Tinggal Dekat Pantai?

Ini perlu perhatian ekstra.

Jika Mommies berada di kawasan pantai dan merasakan gempa yang kuat atau berlangsung lama, jangan menunggu air laut surut atau menunggu informasi dari media sosial untuk mulai menyelamatkan diri.

Segera menjauh dari pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi sesuai jalur evakuasi setempat. BMKG juga mencantumkan gempa kuat/lama, air laut yang tiba-tiba surut, atau suara gemuruh dari laut sebagai tanda yang perlu diwaspadai.

Dengan kata lain: kalau berada di zona pesisir rawan tsunami, kenali jalur evakuasi sebelum bencana terjadi.

Bagaimana Menjelaskan Gempa kepada Anak Tanpa Membuat Mereka Takut?

Ini juga penting, Mommies dan Daddies.

Anak-anak bisa menangkap kecemasan orang dewasa. Jadi, kita tidak perlu mengatakan, “Nanti akan ada gempa besar, lho!”

Coba gunakan bahasa yang lebih sederhana:

“Gempa adalah salah satu hal yang bisa terjadi di alam. Kalau nanti rumah bergoyang, kita tahu apa yang harus dilakukan supaya tetap aman.”

Lalu ajak anak berlatih dengan cara yang menyenangkan. Misalnya, bermain peran mencari tempat aman atau membuat permainan sederhana untuk mengingat titik kumpul keluarga.

UNICEF merekomendasikan pembicaraan mengenai gempa yang disesuaikan dengan usia anak, memberikan kesempatan bagi anak untuk bertanya, dan melakukan latihan bersama keluarga.

Setelah bencana, jangan abaikan perubahan perilaku anak. Anak bisa menjadi lebih clingy, sulit tidur, mudah menangis, takut ditinggal, atau kembali menunjukkan perilaku yang sebelumnya sudah ditinggalkan.

Reaksi stres setelah bencana cukup umum dan pada banyak orang dapat membaik seiring waktu. Namun, jika kecemasan atau perubahan perilaku berlangsung lama atau sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan tenaga kesehatan atau profesional kesehatan mental.

BACA JUGA: Mempersiapkan Anak Menghadapi Bencana Alam

Pada Akhirnya, Bukan Soal Takut tetapi Siap

Mendengar kata megathrust memang bisa membuat kita membayangkan skenario terburuk. Namun, Mommies dan Daddies tidak perlu hidup dalam ketakutan.

Apalagi belakangan kembali beredar informasi di media sosial yang mengaitkan gempa megathrust dengan tahun 2026. BMKG menegaskan bahwa informasi mengenai waktu pasti terjadinya gempa tersebut tidak benar.

Gempa tidak bisa diprediksi secara tepat, tetapi kesiapsiagaan bisa dilakukan dari sekarang.

Mulai dari hal sederhana: tahu titik aman di rumah, mengikat furnitur yang berpotensi jatuh, menyiapkan tas siaga, menyimpan obat-obatan penting, tahu jalur evakuasi, dan mengajarkan anak apa yang harus dilakukan.

Dan satu hal lagi yang tidak kalah penting: pastikan informasi yang kita ikuti berasal dari sumber resmi.

Untuk informasi gempa dan tsunami terkini, Mommies bisa memantau BMKG dan aplikasi Info BMKG. Jangan mudah percaya pada pesan berantai yang menyebut tanggal atau waktu tertentu sebagai waktu terjadinya gempa megathrust, karena hingga saat ini gempa belum dapat diprediksi secara akurat.

Kita tidak pernah tahu kapan bencana terjadi. Tapi setidaknya, ketika waktunya tiba, keluarga kita tidak mulai dari nol.

Siap bukan berarti takut. Siap berarti tahu harus melakukan apa.

Share Article

author

Mommies Daily

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan