Sorry, we couldn't find any article matching ''

Isu 7 Hari tanpa Listrik, Cara Antisipasi Keluarga tanpa Panik Berlebih
Ramalan 7 hari tanpa listrik bikin panik? Daripada cemas berlebihan, sebaiknya tetap tenang dan waspada, sambil mempersiapkan hal yang dibutuhkan dengan bijak.
Baru sebulan memasuki tahun 2026, tetapi sudah ada banyak hal yang terjadi. Topiknya mencakup semua ranah, mulai dari sosial, ekonomi, alam, pendidikan, hukum, hingga geopolitik. Dari semua itu, ada satu yang nggak bisa nggak dibahas yang mungkin Mommies dan Daddies pun sudah tahu, yaitu isu pemadaman listrik selama tujuh hari.
Setelah ditelusuri, awal mula desas-desus ini ternyata terjadi setelah seorang netizen Indonesia yang tinggal di Belanda membagikan ke media sosial tentang Panduan Darurat 72 Jam (3 Hari) Pertama. Panduan yang disebarkan oleh pemerintah setempat tersebut terjadi setelah ada pemadaman listrik di sebagian besar wilayah Amsterdam, Belanda pada 14 Januari 2026.

Foto: detikNews
Bukan hanya itu, pemadaman listrik juga terjadi di Tokyo, Jepang pada 16 Januari 2026. Dikutip dari detikNews, pemadaman listrik yang terjadi di kereta api jalur Yamanote dan Keihin-Tohoku berlangsung selama sembilan jam, sekitar 673 ribu penumpang pun terdampak. Pemadaman ini terjadi akibat listrik yang tidak pulih usai ada pemeliharaan semalaman.
Nah, pemadaman listrik di beberapa negara yang terjadi seiring dengan konflik geopolitik internasional yang tengah memanas pun memicu timbulnya narasi-narasi yang bikin publik khawatir atau cemas.
BACA JUGA: Waspada Virus Nipah: Gejala, Penularan, dan Fakta Penting yang Perlu Diketahui
Ditambah lagi ada konten yang beredar di media sosial soal pemadaman listrik selama tujuh hari di Indonesia. Narasi ini datang langsung dari purnawirawan Komjen Polri Dharma Pongrekun. Selain itu, muncul “ramalan The Simpsons” soal mati listrik tujuh hari yang juga viral. Semua ini jangan langsung ditelan mentah-mentah, ya.
Melihat itu, Komdigi tidak membenarkan klaim tujuh hari tanpa listrik tersebut, selain karena kurangnya data tetapi juga tidak ada sumber resmi dari pemerintah atau otoritas terkait, seperti dikutip dari laman Komdigi.
Memang, isu tujuh hari tanpa listrik cukup mengkhawatirkan, tetapi jangan sampai cemas berlebihan. Daripada dibayang-bayangi rasa takut, Mommies boleh ikut antisipasi dan siap siaga dari sekarang.
Dampak Berhari-hari tanpa Listrik Jika Terjadi
Foto: zinkevych/Freepik
Listrik menjadi sumber kebutuhan utama yang menggerakkan sebagian besar sendi-sendi kehidupan kini. Jika listrik mati total alias blackout, apa yang akan terjadi? Mengutip detikcom, berikut dampak negatif blackout yang akan dialami masyarakat:
- Jaringan telekomunikasi terhambat: pekerjaan dan aktivitas terganggu akibat jaringan yang tidak stabil.
- Aktivitas transportasi bertenaga listrik terganggu: aktivitas LRT menjadi terhambat sehingga penumpang harus beralih ke moda transportasi lain yang biayanya bisa jadi lebih mahal untuk menjangkau tempat tujuan.
- Sistem pembayaran nontunai dan ATM terganggu: tanpa jaringan internet yang memadai, aktivitas pembayaran nontunai menjadi terhambat. Pengambilan tunai di ATM juga akan terganggu karena tidak ada pasokan listrik.
- Layanan publik terganggu: layanan publik di sekolah, perkantoran, rumah sakit, dan layanan administrasi negara bisa terganggu.
- Kebutuhan air terbatas: pompa air yang membutuhkan daya listrik berhenti bekerja dan menimbulkan kekurangan air bersih.
Panduan Siaga Bencana Pemadaman Listrik dan Air
Foto: Freepik
Berikutnya, mari kita bahas isi Panduan Darurat 72 Jam versi Belanda. Dalam buku tersebut, situasi-situasi yang memicu keadaan darurat meliputi konflik antarnegara, malfungsi sistem, dan cuaca ekstrem. Ada tiga langkah utama yang harus dilakukan saat dalam keadaan darurat:
- Siapkan perlengkapan darurat diri sendiri dan keluarga.
- Buat rencana darurat (emergency plan) bersama keluarga.
- Saling berkomunikasi dan membantu satu sama lain.
Perlengkapan darurat yang disebutkan pun meliputi beragam kebutuhan dasar dan lainnya, yaitu:
- Botol air minum kemasan 3 liter per orang per hari.
- Makanan yang tidak mudah rusak, seperti makanan kaleng, kacang-kacangan, dried fruits, makanan bayi, dan makanan hewan peliharaan.
- Kebersihan, yaitu disinfektan, tisu toilet, tisu basah, pembalut/tampon, sikat gigi, dan pasta gigi.
- Selimut atau sleeping bags.
- Senter dengan baterai tambahan, lilin, dan korek api.
- Radio bertenaga baterai dan powerbank dengan isi penuh.
- Uang tunai, fotokopi KTP, peta cetak area tempat tinggal, dan daftar nomor telepon penting.
- Tempat P3K dan peluit untuk menarik perhatian.
- Alat-alat lainnya, seperti palu, gergaji, dan pemotong kawat.
Keadaan darurat sifatnya tak terduga, makanya diperlukan emergency plan sebagai langkah antisipasi, seperti bagaimana Mommies dan keluarga akan saling menghubungi atau menemukan satu sama lain. Diskusikan hal-hal ini dengan pasangan, anak, orang tua, dan/atau tetangga:
- Mommies sedang bekerja dan tidak bisa pulang. Ponsel tidak berfungsi. Siapa yang akan menjemput anak-anak dari sekolah?
- Mommies tidak bisa menghubungi pasangan lewat ponsel. Di mana kalian akan bertemu?
- Anak tinggal di indekos atau asrama kampus di luar kota, bagaimana Mommies tetap bisa berhubungan?
Terakhir, selalu berkomunikasi dan membantu satu sama lain. Situasi yang tidak pasti bisa menimbulkan kecemasan, dengan membicarakannya, Mommies bisa saling berbagi tips dan membantu dengan sesama yang membutuhkan.
Panduan Darurat dari Pemerintah Indonesia
Nah, bagaimana dengan panduan darurat versi Indonesia? Ternyata, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pernah mengeluarkan Buku Saku Tanggap, Tangkas, Tangguh Menghadapi Bencana. Dalam buku tersebut, ada tiga upaya kesiapsiagaan yang direkomendasikan:
- Miliki rencana darurat keluarga, meliputi analisis ancaman di sekitar, identifikasi titik kumpul, nomor kontak penting, rute evakuasi, dan sebagainya.
- Siapkan Tas Siaga Bencana (TSB) yang tahan air.
- Simak informasi dari berbagai media, seperti radio, televisi, media daring, atau sumber lainnya.

Foto: Perpustakaan Kemendikdasmen
Kurang lebih isinya sama, Mommies. Namun, buku saku BNPB memang disiapkan lebih untuk bencana alam. Mengingat wilayah Indonesia memang rawan bencana.
Kedua isi buku tersebut sama-sama penting dan bisa diterapkan. Hadirnya kedua buku ini tentu sangat membantu masyarakat dalam menghadapi keadaan darurat. Semoga berguna juga untuk Mommies dan keluarga.
Waspada Boleh, Panik Jangan
Isu mati listrik selama tujuh hari memang menimbulkan kekhawatiran, jadi tidak ada salahnya kita waspada. Namun, jangan sampai Mommies dan keluarga panik berlebihan. Perhatikan semua informasi yang beredar di dunia maya dan selalu pastikan apakah itu hoaks atau fakta, cek sumbernya, dan jangan langsung menyebarkan ke orang lain.
Di sisi lain, Mommies dan keluarga tetap bisa melakukan langkah antisipasi sederhana di rumah, bersikap tenang, dan bijak menyaring informasi.
BACA JUGA: Ada Kebakaran di Sekitar Rumah? Ini 10 Cara untuk Mengatasinya
Penulis: Retno Raminne Nurhaliza Pitoyo
Cover: Freepik
Share Article


POPULAR ARTICLE






COMMENTS