
Mengajarkan anak peduli lingkungan sejak dini lewat kebiasaan mengelola sampah di rumah. Ini dia tips praktis dan rekomendasi bank sampah di Indonesia.
Tepat tanggal 21 Februari nanti akan diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional, nih, Mommies. Biasanya momen ini lewat begitu saja, dengan timeline media sosial yang dipenuhi data soal gunungan sampah, foto sungai penuh plastik, atau kampanye zero waste. Kita memang membaca, kita turut prihatin, tetapi setelah itu kita melanjutkan rutinitas seperti biasa.
Padahal kalau dipikir-pikir, perubahan besar soal sampah itu sebenarnya dimulai dari rumah, lho. Mulai dari kebiasaan kecil sehari-hari, dan dari anak-anak kita.
Menurut data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, Indonesia menghasilkan puluhan juta ton sampah setiap tahun, dan sebagian besarnya berasal dari rumah tangga. Artinya, sampah dari dapur kita punya dampak besar. Bahkan, masih ada jutaan ton sampah yang belum terkelola optimal setiap tahunnya. Ringkasan komposisinya juga menunjukkan bahwa sampah rumah tangga mendominasi timbulan sampah nasional.
Jadi, kebiasaan kecil di rumah sebenarnya punya peran besar, termasuk saat Mommies dan Daddies mulai mengajarkan anak mengelola sampah dengan lebih sadar.
Mengajarkan anak mengelola sampah bukan sekadar soal kebersihan. Ini soal membentuk karakter diri mereka yang bertanggung jawab, berempati terhadap lingkungan, dan punya kesadaran bahwa setiap tindakan kecil yang mereka lakukan punya dampak jangka panjang terhadap lingkungan.
BACA JUGA: Cara Gratis Buang Sampah Besar di Jakarta, Pakai Layanan Bulky Waste

Nah, ini dia cara yang bisa Mommies terapkan untuk mengajarkan anak mengelola sampah di rumah. Kebiasaan kecil ini nantinya bisa terus hidup dalam diri anak dan terbawa hingga dewasa.
Kalau hanya mengenalkan sampah pada anak mungkin bisa mereka anggap bukan hal yang menarik atau biasa saja. Namun, Mommies bisa mengenalkan mereka pada sampah dengan cara yang menyenangkan.
Kalian bisa mulai dari tiga kategori sederhana, yaitu:
Mommies bisa menggunakan tempat sampah berbeda warna untuk masing-masing jenis sampah, dan mengajarkan anak membuang sesuai dengan jenisnya. Anak usia 3–4 tahun sudah bisa belajar memilah lewat warna dan bentuk, sehingga sudah bisa mulai diajarkan sejak dini.
Supaya lebih menarik, Mommies bisa menjadikannya permainan kecil dengan bertanya pada anak, “Sampah ini masuk yang mana, ya?” Biasanya anak jadi lebih antusias untuk membuang sampah.
Kalau weekend jadi momen Mommies untuk bersih-bersih, maka sebaiknya mulai sekarang jangan dikerjakan sendiri. Mommies bisa minta anak untuk membantu mengumpulkan botol plastik atau kardus bekas yang ada di rumah. Jelaskan pada anak ke mana sampah itu akan pergi, dan biasanya mereka akan penasaran lalu bertanya, “Habis ini sampahnya jadi apa?”
Dari pertanyaan itu Mommies bisa masuk dan menjelaskan konsep daur ulang. Semakin konkret penjelasannya, semakin mudah mereka memahami. Namun, tetap ingat untuk menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak atau sesuai usia mereka, ya.
Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jadi, penting banget untuk Mommies memberikan contoh nyata kebiasaan mengelola sampah agar anak-anak melihat dan mengikutinya. Kalian bisa mulai dengan mengajarkan 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle.
Contoh sederhana yang bisa Mommies langsung praktikkan adalah:
Kalau orangtuanya konsisten melakukan pengelolaan sampah dengan benar, maka anak akan menganggap itu sebagai kebiasaan normal yang sudah sewajarnya mereka lakukan, bukan “aturan ribet”.
Kalau memungkinkan, seperti ada waktu dan tenaga untuk melakukannya, Mommies bisa mencoba buat komposter sederhana dari ember bekas. Mommies bisa mengajak anak mengumpulkan sisa sayur dan kulit buah lalu memasukkannya ke dalam satu ember bekas.
Setelah itu Mommies bisa menunjukkan proses perubahannya dari waktu ke waktu. Saat kompos sudah jadi dan dipakai untuk menyuburkan tanaman, maka anak akan melihat langsung bahwa “sampah” mereka bisa berubah jadi sesuatu yang bermanfaat.
Ini dia bagian yang sering terlupakan, yaitu memperkenalkan anak pada bank sampah. Mungkin banyak juga dari Mommies yang belum tahu bahwa bank sampah bukan cuma tempat untuk menyetor sampah kita, melainkan juga sebagai sarana edukasi. Dengan mengajak anak ke bank sampah, Mommies bisa membawa anak melihat langsung bahwa sampah, termasuk yang ada di rumahnya, punya nilai ekonomi, dan bahkan bisa ditabung.
Beberapa bank sampah di daerah Jabodetabek yang bisa jadi referensi:
Biasanya juga ada bank sampah unit di tingkat RW atau kelurahan. Coba cek ke pengurus lingkungan atau media sosial wilayah tempat Mommies tinggal. Untuk lihat lokasi lebih detail, Mommies bisa mengunjungi website resmi Bank Sampah Jakarta.
Selain itu, ada juga beberapa layanan pengiriman dan pengelolaan sampah di Indonesia yang bergerak untuk menjaga lingkungan. Beberapa rekomendasi ini bisa juga Mommies dan keluarga gunakan.
Aktivitas menyetor sampah bisa dijadikan agenda bulanan keluarga Mommies, nih. Anak akan melihat prosesnya, bukan cuma teori, dan itu akan jadi momen belajar yang powerful.
Cara mengajarkan anak mengelola sampah yang terakhir adalah dengan mengajak anak berdiskusi. Untuk anak usia sekolah sudah bisa diajak ngobrol ringan mengenai beberapa hal berikut:
Gunakan bahasa sederhana tanpa menakut-nakuti mereka dan fokus pada solusi serta peran kecil yang bisa anak lakukan.

Mommies tidak harus langsung jadi keluarga yang zero waste, kok. Kadang ada yang masih beli makanan berbungkus plastik. Kadang ada yang lupa bawa tas belanja kain. Itu semua manusiawi, lho.
Yang terpenting, anak bisa melihat bahwa orangtuanya berusaha untuk menjaga lingkungan, peduli akan sampah., dan fakta bahwa memilah sampah itu adalah sebuah kebiasaan. Bahwa peduli lingkungan bukan hanya tren sesaat setiap 21 Februari.
Karena saat anak tumbuh dengan kesadaran ini, mereka bukan cuma jadi anak yang disiplin. Mereka akan jadi generasi yang lebih bertanggung jawab. Dan mungkin, perubahan besar memang dimulai dari tempat sampah di dapur rumah kita sendiri.
Jadi, Mommies sudah siap mengajarkan anak mengelola sampah sejak dini?
BACA JUGA: 8 Ide Mainan DIY Ramah Lingkungan dan Edukatif yang Disukai Anak, Kreatif Kelola Sampah
Cover: Freepik