
Kasus anak SD di NTT menyoroti kemiskinan, akses pendidikan, dan sistem perlindungan anak dari perspektif psikologi sosial.
Mommies mungkin sudah mendengar kabar tentang tragedi seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kepergian seorang anak di usia yang begitu belia ini meninggalkan duka mendalam, sekaligus memunculkan pertanyaan yang lebih besar tentang beban hidup yang harus ia tanggung.
Bukan hanya soal kehilangan, peristiwa ini juga membuka ruang refleksi: bagaimana kondisi sosial, ekonomi, dan akses dasar yang timpang bisa memengaruhi rasa aman dan harapan seorang anak. Ketika kebutuhan paling mendasar terasa terlalu berat untuk dipenuhi, siapa sebenarnya yang sedang gagal hadir?
Tulisan ini tidak bertujuan menghakimi anak maupun keluarganya. Sebaliknya, artikel ini mengajak kita melihat tragedi ini dalam konteks yang lebih luas, sebagai cerminan dari struktur sosial dan sistem yang kerap meninggalkan anak-anak dalam situasi rentan.
BACA JUGA: Menurut Psikolog, Ini Alasan Kenapa Anak Cepat Bosan saat Belajar

Menurut Dr. Zein Permana, M.Si., Akademisi Psikolog dan Founder Sintesa Wellness Center, anak usia kelas 4 SD belum memiliki kapasitas psikologis untuk memikul tekanan hidup secara mandiri, terlebih tekanan yang berasal dari kondisi sosial dan ekonomi di luar kendalinya.
“Ketika seorang anak sampai berada di titik keputusasaan yang ekstrem, itu bukan sesuatu yang lahir dari ‘mental lemah’, melainkan dari tekanan struktural yang terlalu berat untuk usianya,” jelas Dr. Zein.
Ia menambahkan, kasus ini justru memperlihatkan adanya sistem yang tidak bekerja sebagaimana mestinya. Mulai dari kemiskinan yang dibiarkan berlangsung, akses pendidikan yang belum setara, hingga lingkungan yang gagal memberi rasa aman bagi anak.
“Anak tersebut bukan ‘sakit’, melainkan terluka oleh kondisi,” lanjutnya.
Karena itu, Dr. Zein mengingatkan agar peristiwa ini tidak dibaca semata-mata sebagai gangguan kesehatan mental individu. Cara pandang seperti itu berisiko menutup mata dari akar persoalan yang lebih besar, yakni ketimpangan sosial dan beban sistemik yang membuat kebutuhan dasar anak terasa mustahil untuk dipenuhi.
Dengan kata lain, ini bukan hanya soal kesehatan mental seorang anak, melainkan refleksi dari kondisi sosial yang menempatkan anak pada beban yang seharusnya tidak ia tanggung sejak dini.

Dalam kehidupan sehari-hari, anak memahami dunia dari cara lingkungan di sekitarnya merespons kebutuhan dasar mereka. Tidak seperti orang dewasa, anak belum memiliki jarak emosional maupun kerangka berpikir untuk menilai situasi secara struktural. Apa yang terjadi di sekitarnya kerap diterjemahkan secara personal.
“Ketika kebutuhan dasar seperti buku dan alat tulis tidak terpenuhi, si anak belum mampu berpikir, ‘Ini salah sistem’. Yang muncul justru, ‘Aku yang merepotkan’, atau ‘Aku beban’. Ada dorongan untuk menyalahkan diri sendiri, dan sama sekali belum muncul kesadaran sistemik pada anak,” ujar Dr. Zein Permana, M.Si., Akademisi Psikolog dan Founder Sintesa Wellness Center.
Menurut Dr. Zein, kemiskinan kronis dan akses pendidikan yang timpang menciptakan pengalaman hidup yang penuh pesan-pesan sunyi namun menyakitkan bagi anak. Pesan bahwa keinginannya terlalu mahal, bahwa ia harus menahan diri, dan bahwa hidup memang terasa lebih berat baginya—bahkan sejak usia yang sangat muda.
Penting untuk digarisbawahi, kondisi ini bukanlah kegagalan anak, maupun semata-mata kegagalan orang tua. Ini adalah tekanan sistemik yang dialami seluruh keluarga, ketika kebutuhan dasar belum bisa dipenuhi secara layak dan berkelanjutan.
Dengan usia yang masih sangat belia, anak belum mampu memahami bahwa ada kegagalan sistem yang membentuk realitas hidupnya. Dalam situasi seperti ini, rasa tidak berdaya tumbuh perlahan, dan kegagalan yang seharusnya bersifat struktural justru diinternalisasi sebagai kesalahan diri.
“Ini bukan soal logika, tetapi soal emosi yang terbentuk terlalu dini,” jelas Dr. Zein.

Dr. Zein menjelaskan bahwa ada dua risiko besar ketika masyarakat terus memandang kasus seperti ini semata-mata sebagai persoalan kesehatan mental individu.
“Pertama, kita tanpa sadar menyalahkan korban,” katanya, “kedua, solusi yang ditawarkan jadi keliru.”
Dalam narasi semacam itu, anak dianggap “tidak kuat”, keluarga dinilai “kurang peka”, sementara sistem yang gagal menyediakan perlindungan dan akses dasar justru luput dari tanggung jawab. Di saat yang sama, fokus solusi pun bergeser ke arah yang tidak tepat sasaran.
Kita menjadi sibuk membicarakan konseling dan ketahanan mental, tetapi lupa memastikan bahwa anak-anak memiliki akses pendidikan yang layak, lingkungan yang aman, dan kehidupan yang manusiawi sejak awal.
“Padahal kesehatan mental tidak bisa dipisahkan dari keadilan sosial. Jika akar masalahnya struktural, tapi solusinya individual, maka tragedi serupa akan terus berulang,” jelas Dr. Zein.
Cara kita membicarakan kasus ini, termasuk di ruang publik dan media sosial, juga ikut membentuk stigma. Tanpa disadari, narasi yang menyederhanakan persoalan dapat memperpanjang luka dan mengaburkan akar masalah yang sesungguhnya.
Di tengah keterbatasan sistem, masyarakat kerap bergerak lebih cepat untuk saling membantu. Namun, menurut Dr. Zein, peran ini perlu dijalankan dengan arah yang tepat.
“Masyarakat perlu hadir sebagai penyangga kemanusiaan, bukan pengganti negara. Artinya, kita boleh dan perlu membantu melalui solidaritas, empati, dan dukungan nyata, tetapi tetap bersuara kritis agar negara tidak cuci tangan,” jelasnya.
Berkomunikasi, membantu, dan saling mendukung memang menjadi kebutuhan mendesak di tingkat komunitas. Namun, upaya ini perlu berjalan beriringan dengan kesadaran bahwa bantuan warga tidak boleh menjadi solusi permanen atas kegagalan sistem.
Dr. Zein menekankan pentingnya membangun jejaring kepedulian di sekitar kita, memastikan anak-anak tidak merasa sendirian, sembari terus mengingatkan bahwa tanggung jawab utama tetap berada pada negara dan institusi yang seharusnya melindungi mereka.
“Jangan sampai empati publik justru menjadi alasan negara untuk absen lebih lama. Dukungan sosial harus berjalan beriringan dengan tuntutan keadilan struktural,” tutupnya.
BACA JUGA: 13 Hal Penting yang Wajib Diajarkan di Sekolah sebagai Bekal Anak di Masa Depan
Ditulis oleh: Retno Raminne Nurhaliza Pitoyo
Cover: Ron Lach/Pexels