
Konten viral “pacar 1 jam” yang melibatkan siswi di bawah umur memicu kekhawatiran orang tua. Lakukan ini untuk melindungi anak dari pelecehan seksual!
Baru-baru ini, ada content creator asal Tasikmalaya yang viral bernama Shandy Logay (SL). Pengikutnya di TikTok sudah mencapai 1,5 juta orang. Ia sering membuat konten interaksi sosial, seperti tantangan ringan dengan imbalan uang. Meski begitu, salah satu kontennya yang melibatkan anak di bawah umur menuai kontroversi dan menjadi pembahasan netizen di X dan Instagram.

Buat Mommies dan Daddies yang belum tahu, begini penjelasannya. Pemantik viralnya ada pada sebuah video yang ia unggah, di mana ia mengajak seorang siswi SMA untuk berkencan selama satu jam dengan iming-iming imbalan uang. Siswi tersebut diajak ke dalam mobil, jalan-jalan, dan jajan. Nah, video inilah yang membuatnya dikecam publik karena tidak pantas dan berpotensi mengarah ke praktik child grooming.
Terkait umur SL sendiri sebenarnya belum jelas, tetapi sudah pasti sosok content creator tersebut adalah pria dewasa. Makanya, nggak heran kalau ia dikritik pedas oleh netizen.
BACA JUGA: Remaja Sering Minder? Kenali Tanda Self-Esteem Rendah pada Remaja dan Cara Membantunya
Usai video itu viral, SL sempat membuat klarifikasi bahwa ia sudah mengenal siswi SMA tersebut jauh sebelum video itu ramai. Berdasarkan yang ia tulis, siswi SMA itu sudah setuju dengan konsep video yang akan dibuat.
Walau sudah membuat klarifikasi, masalahnya ternyata lebih dari itu. Para korban SL bermunculan dan speak up melalui akun Instagram @tasikundercover. Bukan hanya soal child grooming, ternyata SL sudah sering melakukan pelecehan seksual. Per hari ini (28/1), sudah ada 20 episode atau postingan yang di dalamnya berisi pengakuan korban yang tidak sedikit. Korbannya merupakan perempuan-perempuan muda, bahkan hingga remaja berumur 16-17an.
Mommies dan Daddies pasti khawatir bagaimana kelanjutan kasus ini, kan? Untungnya, kasus video konten “Pacar 1 Jam” yang viral tersebut sudah ditangani pihak kepolisian. Pada Selasa malam (27/1), SL ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan di Mapolres Tasikmalaya Kota.
Penyidik menyimpulkan ada tindakan pidana dalam konten yang melibatkan pelajar perempuan di bawah umur tersebut. Ia dijerat pasal terkait eksploitasi anak dan kontennya dinilai melanggar UU Perlindungan Anak.
Sebagai orang tua, yang diinginkan pasti keselamatan anaknya, baik perempuan maupun laki-laki. Meski sudah berupaya menjaga keamanan mereka, tetap ada kekhawatiran yang menyelimuti. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, mengingat anak-anak kerap menjadi target kejahatan yang dilakukan secara halus dan bertahap. Salah satunya adalah child grooming.
Dikutip dari National Children’s Alliance, seorang profesor psikologi dan peneliti tindakan grooming, Elizabeth L. Jeglic, Ph.D., mendefinisikan child grooming sebagai “proses manipulatif yang dilakukan pelaku untuk mempermudah terjadinya kontak seksual dengan anak di bawah umur, sekaligus menghindari terdeteksi dan terungkapnya tindakan tersebut”.
Dengan membekali anak dan remaja pemahaman tentang batasan interaksi yang aman—baik secara langsung maupun melalui internet—serta menciptakan ruang komunikasi yang terbuka dan jujur tanpa rasa malu atau stigma, akan membantu melindungi mereka lebih baik.
Edukasi tentang orang asing, seperti menolak ajakan orang yang tidak dikenal, menolak tawaran yang tidak jelas, dan sebagainya bisa membantu mencegah child grooming. Edukasi lainnya pun dibutuhkan.

Melansir laman Child Safety, berikut beberapa tips tentang hal-hal yang bisa Mommies dan Daddies ajarkan kepada anak untuk mencegah grooming:
Anak dan remaja perlu dibekali kemampuan untuk membedakan kondisi yang aman dan berisiko, termasuk mengenali sinyal awal bahaya serta respons tubuh saat muncul rasa takut atau tidak nyaman, seperti jantung berdebar dan telapak tangan berkeringat.
Anak juga perlu dilatih untuk bersikap aman di ruang digital dengan menyaring interaksi, memblokir orang asing, dan rutin mengecek pengaturan privasi akun. Oleh karena itu, orang tua pun perlu mengawasi media sosial anak untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.
Penting bagi anak untuk tahu langkah yang harus diambil dan pihak yang dapat dihubungi ketika menghadapi situasi yang membuat tidak nyaman, termasuk akses ke layanan bantuan bila diperlukan. Mommies dan Daddies perlu membangun ruang komunikasi yang aman untuk anak.
Anak perlu didorong agar tegas menolak ajakan yang berbahaya atau bernuansa seksual.
Tindakan melaporkan, memblokir, dan mengadukan akun atau seseorang yang mencurigakan harus dipahami sebagai bagian dari perlindungan diri.
Tak kalah penting, Mommies dan Daddies juga perlu mengedukasi anak tentang batas tubuh, hubungan yang sehat, dan persetujuan menjadi fondasi penting dalam menjaga keselamatan diri.
BACA JUGA: 7 Tips Bantu Anak Remaja Susah Bergaul, Orang Tua Harus Tahu
Terakhir, anak harus merasa aman dan terlindungi ketika mengungkapkan apa yang mereka alami. Oleh karena itu, komunikasi yang terbuka dan tanpa stigma dapat membantu melindungi anak secara lebih efektif. Dengan komunikasi, anak akan merasa didukung dan tidak menyalahkan diri sendiri.
Penulis: Retno Raminne Nurhaliza Pitoyo
Cover: jcomp/Freepik