
Sudah lama memupuk karir dari usia muda, ketika masuk ke pernikahan, tentu ada beban mental yang tersimpan di benak working mom (ibu maupun perempuan bekerja), apa saja, sih?
Tidak sedikit wanita karir yang menunda pernikahan karena merasa hidup sendiri tanpa pasangan sudah cukup, bahkan terasa lebih nyaman. Meski pernikahan merupakan tujuan mulia kita sebagai manusia, tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan cenderung akan menyimpan pemikirannya yang kemudian menjadi “beban mental” saat akhirnya memasuki sebuah pernikahan. Di jaman sekarang, tidak mudah untuk kita merasa bahwa, “Kan sudah menikah, nafkah jadi tanggung jawab suami, dong”. Percayalah, seorang wanita yang selama ini hidup memiliki penghasilan sendiri tidak akan semudah itu mengalihkan tanggung jawabnya ketika menyandang status istri. Namun, pernikahan sendiri akan “melahirkan” sebuah peran baru yang bisa saja berubah total dari peran seorang wanita saat masih single. Yuk, kita bahas, apa saja, sih, beban pikiran alias mental load yang umumnya dihadapi perempuan di awal pernikahan?
Tadinya dikenal sebagai individu, sekarang dikenal sebagai Nyonya/Ibu yang kemudian diikuti dengan nama suami. Seorang istri pun memiliki “tugas” baru, yakni melayani dan menghormati suami sebagai partner hidup. Tidak sampai di situ, karena bisa saja dalam waktu dekat, anggota keluarga akan langsung bertambah dengan kehadiran anak. Peran yang baru ini tentu butuh adaptasi. Ketika peran satu dan peran lainnya datang secara cepat dan bertubi-tubi, wajar bila perempuan merasa overwhelmed. Sehingga kemudian timbul pertanyaan besar di dalam benaknya, “Apakah bisa karir dan keluarga berjalan bersamaan?”
Membina keluarga artinya suami dan istri harus bisa menghargai haknya masing-masing. Hindari menyalahartikan konsep “melayani” suami, karena hal tersebut bukan lalu menjadi tanggung jawab istri saja. Melayani suami dilakukan karena istri menjadi pasangan satu-satunya dalam rumah tangga. Suami pun memiliki peran baru, yakni melindungi istri, menjaga kesejahteraan istri. Sementara, mengasihi dan melakukan peran baru dengan sepenuh hati adalah kewajiban kedua belah pihak. Tentu saja, obrolan seputar karir idealnya menjadi topik utama, bahkan sebelum Anda dan pasangan memutuskan untuk menikah.
Ketika seharian lelah bekerja, sesampainya di rumah, ada “tugas” yang tidak bisa ditunda, menyiapkan makan suami, belanja kebutuhan, bersih-bersih rumah, dan sebagainya. Belum lagi, ekspektasi sosial yang tidak pernah terucap namun terasa nyata, “Istri harus bisa ngurus rumah”, “Biasanya, yang sukses di karir, di rumah pasti ada apa-apa”, “Wah, suaminya kelihatan sehat, gemukan, istrinya ngurusnya bener, nih!”, “Wajar kok, kalau jadi istri, makin sulit merawat diri”, dan berbagai kalimat ajaib lainnya. Sehingga kemudian, rumah rapi, suami terurus, bukanlah sebuah hal yang dilakukan karena peran barunya ini, melainkan menjadi sebuah standar yang terus dikejar. Tidak heran bila pada akhirnya, kita sendiri terbebani.
Istri mengurus suami sama halnya dengan suami mengurus istri. Rumah tangga yang baik terlihat dari adanya kerjasama, baik suami maupun istri, keduanya sama-sama berusaha. Bukan suami saja yang seharusnya dibekali makanan sehat, terlihat terurus, dan bahkan bisa tetap menjalani hobinya. Melainkan, lifestyle yang sehat, hidup yang balance antara pekerjaan dan hiburan, harusnya menjadi kegiatan bersama dalam misi menjadi keluarga yang sehat, baik secara fisik maupun mental. Pernikahan dan membangun keluarga adalah usaha bersama, seperti kata Sal Priadi dalam lagunya, “Kita Usahakan Rumah Itu”.
Saat karir sedang menanjak, tentu akan muncul juga yang namanya tanggung jawab dan tuntutan. Jam kerja bertambah, harus pulang lebih malam, harus standby di akhir pekan, tidak bisa menolak dinas luar kota, dan sebagainya ini tentu saja menjadi sebuah tantangan besar. Negosiasi perlu terjadi dengan pasangan, dengan tim, maupun dengan atasan. Tidak sedikit, lho, perempuan yang memiliki keinginan hati untuk tetap produktif tapi secara bersamaan mendambakan kehadiran buah hati. Akibatnya, ketika ia stres, kehamilannya pun terganggu.
Sejatinya, perempuan tidak harus menghadapi pilihan, antara mengejar karir atau mengutamakan keluarga. Perempuan yang mengejar karir adalah perempuan yang mengutamakan keluarga. Ia membekali anaknya dengan pandangan, bahwa seorang wanita harus bisa mandiri dan bekerja keras. Di sisi lain, mendukung karir istri adalah salah satu cara yang bisa ayah atau suami lakukan agar anak memiliki pandangan bahwa kedua orangtuanya saling percaya dan saling bangga satu sama lain.
Baca juga: Perusahaan Ramah Ibu Bekerja Seharusnya Memiliki 7 Hal Ini
Mulai dari merasa nggak bisa memenuhi kewajiban istri—yang seringkali sangat abu-abu, kewajiban yang mana yang belum terpenuhi—, padahal sehari-hari terus mengusahakan semua aspek berjalan lancar, bahkan usahanya setengah mati. Sayangnya, hal ini tidak akan pernah hilang. Ketika nanti anak kita hadir mengisi kehidupan, kita akan terus merasa bersalah terhadap lebih banyak hal. Tidak bisa menemani anak seharian, melewati momen-momen penting anak di usia dini, tidak bisa hadir di pentas anak, tidak bisa standby saat anak sakit, tidak bisa membantu anak belajar dan mengerjakan PR, dan masih banyak lagi.
Caranya, andalkan support system dengan caramu sendiri. Bila dirasa sulit untuk menjalani semua sendiri, maka pekerjakanlah orang yang bisa membantumu mengurangi beban pikiran. Siap menjadi ibu bekerja, artinya kita pun harus siap menghadapi risiko-risiko yang berdatangan sepanjang perkembangan anak. Dan ingat, menjadi ibu bekerja tidak akan pernah mengurangi peranmu sebagai ibu.
Hal ini sangat masuk akal alias ini memang realita. Ketika resign tidak bisa menjadi pilihan, karena penghasilan suami belum bisa sepenuhnya menjadi pegangan bulanan, maka, masing-masing masih harus berusaha dengan cara bekerja, sama-sama banting tulang demi mengisi pundi-pundi kehidupan.
Ketika suami istri sudah menjadi satu, maka berlaku yang namanya rejeki keluarga. Artinya, bukan semata-mata berpegangan pada gaji salah satu pihak saja, tetapi kita juga harus menjalani hidup dengan penuh keyakinan. Semua hal bisa menjadi beban bila kita hanya menganggapnya demikian. Namun, kalau kita punya keyakinan, maka Yang Maha Kuasa-lah yang akan memastikan semuanya. Bila kita terpaksa harus resign dari pekerjaan demi mental yang lebih terjaga, jangan lalu merasa hidup jadi merana. Single income bukan artinya pintu rejeki menjadi terbatas hanya lewat satu pintu. Kesempatan untuk Mommies tetap bisa mengisi pundi-pundi kehidupan akan selalu datang.
Semangat, ya!
Image by Freepik