
Sebelum merencanakan program kehamilan, sebaiknya jalani tes kesehatan dulu. Banyak manfaat yang ditawarkan, selain jaga kesehatan Mommies dan calon bayi.
Hamil dan melahirkan memang bukan perkara mudah. Salut untuk Mommies yang sedang merencanakan kehamilan karena sudah siap untuk menjalani babak baru dalam hidupnya. Namun persiapan kehamilan bukan hanya dari kesiapan batin saja, yang juga penting adalah kesiapan fisik. Tak heran jika rangkaian tes kesehatan untuk program kehamilan sangat dianjurkan.
Apa itu program kehamilan? Program kehamilan adalah rangkaian Langkah untuk pasangan suami istri mencapai kehamilan. Biasa mencakup konsultasi, tes kesehatan, pemberian vitamin dan obat-obatan, hingga metode inseminasi buatan (jika diperlukan).
Kali ini kita tak akan masuk lebih dalam ke program kehamilan alias promil dulu, tapi yang ada sebelumnya alias tes kesehatan. Mengapa ini penting? Kondisi kesehatan yang baik sebelum kehamilan dapat berperan besar dalam kemampuan untuk hamil dan menjalani kehamilan serta proses persalinan yang sehat.
Menurut Dr. Roopa Shah, dokter keluarga dari SSM Health, Amerika, perempuan yang akan program hamil sebaiknya terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter.
“Dokter akan membahas riwayat kesehatan pribadi dan keluarga, serta bekerja sama dengan Mommies untuk membuat rencana yang diperlukan terkait kondisi kesehatan yang ada atau riwayat keluarga yang dapat mempersulit proses kehamilan,” jelasnya dalam situs resmi rumah sakit Ssmhealth.com.
Sebenarnya tidak ada perintah jelas akan berapa banyak daftar tes pra-kehamilan yang harus dilakukan untuk persiapan kehamilan. Namun, dokter mungkin merekomendasikan beberapa tes skrining berdasarkan usia, tujuan kehamilan, dan kondisi kesehatan.
BACA JUGA: Sulit Hamil Meski Semua Tes Normal? Ini Kelainan Rahim yang Baru Terlihat Lewat Histeroskopi
Berdasarkan hal tersebut, ada 7 tes kesehatan program kehamilan yang bisa dilakukan.

Mengetahui indeks massa tubuh (IMT) sangat penting dalam mempersiapkan program kehamilan. Itu sebabnya pemeriksaan berat badan dan tinggi badan harus dilakukan. Mommies juga mungkin pernah mendengar jika terlalu gemuk atau terlalu kurus akan susah hamil. Hal ini benar adanya, karena berpengaruh ke indeks massa tubuh itu.
Secara ilmu kedokteran, peluang hamil terbaik terjadi saat IMT berada di rentang 20–25. Wanita yang terlalu kurus (IMT kurang dari 20) atau kelebihan berat badan (IMT lebih dari 25) memiliki peluang kehamilan yang lebih rendah.
Bukan hanya saat mempersiapkan kehamilan, pemeriksaan berat tubuh juga sebaiknya dilakukan secara rutin saat kehamilan terjadi. Perempuan dengan IMT berlebih saat hamil bisa meningkatkan risiko kehamilan seperti diabetes gestasional dan preeklamsia.
Salah satu tes penting untuk kesehatan karena dengan tes darah Mommies bisa mendeteksi apakah ada gangguan genetik yang kemungkinan diturunkan ke anak. Tes ini juga sebaiknya dilakukan dengan pasangan, karena bisa saja salah satu dari kalian merupakan carrier atau pembawa gen.
Jika Mommies dan pasangan ternyata merupakan pembawa gen, kalian mungkin memilih untuk melakukan fertilisasi in vitro agar tes dapat dilakukan pada embrio.

Jika tes darah lebih menekankan pada gangguan genetik, tes tekanan darah diperlukan untuk mengetahui risiko saat hamil. Tekanan darah perlu diperiksa untuk mendeteksi dini hipertensi. Dokter akan menjelaskan jika kondisi tekanan darah tinggi yang bisa berkembang menjadi preeklampsia, komplikasi serius kehamilan yang berbahaya bagi ibu dan janin. Hal ini bisa menyebabkan bayi lahir prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), bahkan kematian pada ibu dan janin.
Setelah berhubungan dengan darah, tes yang juga harus dilakukan adalah melalui urine Mommies. Melalui tes ini bisa dicek apakah ada infeksi saluran kemih (ISK), masalah ginjal, atau risiko preeklampsia (protein dalam urine). Tes ini juga bisa mendukung tes darah dalam mendeteksi diabetes, loh. Kelebihan gula dalam urine bisa menjadi indikasi diabetes gestasional.

Pemeriksaan Sexually Transmitted Infection (STI) atau infeksi menular seksual sangat umum dilakukan, kok. Jadi, jangan khawatir Mommies. Infeksi yang tidak diobati dapat dikaitkan dengan hasil kehamilan yang buruk, termasuk kelahiran prematur, berat badan bayi yang rendah, infeksi, dan bahkan kematian janin.
Biasanya ini standar perawatan bagi dokter untuk memeriksa chlamydia, gonore, HIV, hepatitis, dan sifilis. Tak hanya perempuan, tes ini juga direkomendasikan agar diperiksakan ke suami juga.
Sebagai perempuan sebenarnya pemeriksaan pap smear sangat dianjurkan. Tes ini bisa mendeteksi dini perubahan sel serviks yang berpotensi jadi kanker serviks. Tentu saja jika ada risiko tersebut harus segera ditangani sebelum Mommies menjalani program kehamilan. Menangani kelainan saat hamil bisa berisiko menimbulkan nyeri, kram, atau perdarahan.
Di sisi lain, lewat tes pap smear dokter juga memastikan kalua area reproduksi Mommies benar-benar siap. Tes ini bisa memastikan area serviks dan vagina sehat sebelum kehamilan dimulai.

Nah, ini mungkin pemeriksaan yang tak disangka-sangka. Padahal ada banyak hubungan kesehatan gigi dengan kesuburan. Selama kehamilan, tubuh mengalami perubahan hormonal yang dapat menyebabkan peradangan gusi berlebihan, yang dikenal sebagai gingivitis kehamilan.
Menurut Mark K. Nguyen, DDS, seorang dokter gigi di OC Healthy Smiles di Costa Mesa, California, hal ini bisa berbahaya jika dibiarkan.
“Gingivitis kehamilan meningkatkan kerentanan terhadap bakteri yang menyebabkan penyakit gusi,” ujarnya, seperti dikutip dari Parents.
Bakteri tersebut dapat menyebabkan hasil negatif selama kehamilan. Nah, sebuah studi tahun 2021 di BMC Pregnancy and Childbirth menemukan bahwa penyakit gusi (periodontitis) meningkatkan risiko kelahiran prematur. Duh, jangan sampai, ya.
BACA JUGA: 50 Pertanyaan yang Perlu Didiskusikan Bersama Pasangan Sebelum Punya Anak
Ditulis oleh: Imelda Rahma
Cover: Pexels