
Baru menikah? Jangan sampai salah mengatur keuangan. Ini kesalahan finansial yang wajib dihindari pasutri baru. Kalian wajib tahu!
Mommies, menikah itu bukan cuma soal cinta, foto prewedding yang estetik buat Instagram, dan resepsi yang wow. Di balik semua momen manis itu, ada satu hal yang sering bikin pasangan baru menikah gelagapan: mengatur keuangan bersama.
Banyak pasutri baru masih fokus ke sisi “fun” dari pernikahan, seperti quality time, traveling, hingga bikin rencana punya anak berapa tanpa benar-benar siap menghadapi realitas finansial setelah sah jadi suami istri. Padahal, urusan uang adalah salah satu sumber stres paling umum dalam pernikahan.
Pasangan baru menikah kerap kali melakukan kesalahan finansial tanpa disadari. Bukan karena tidak peduli, tapi karena memang belum terbiasa mengelola uang bersama. Saat dua individu dengan latar belakang, kebiasaan, dan pola pikir berbeda menyatukan hidup, keuangan pun ikut “menyatu” lengkap dengan tantangannya.
Membicarakan masalah finansial memang tidak selalu nyaman, apalagi di awal pernikahan. Namun justru di fase inilah pasutri baru perlu membangun fondasi keuangan yang sehat agar perjalanan rumah tangga ke depan lebih stabil.
BACA JUGA: 13 Tanda Kamu Siap Punya Anak: secara Emosional dan Finansial

Saat dua kehidupan digabungkan, otomatis dua kebiasaan, dua cara berpikir, dan dua latar belakang finansial juga ikut menyatu. Ngobrol soal uang memang bukan topik obrolan paling romantis, tapi justru bisa jadi salah satu investasi terbaik untuk masa depan pernikahan dan untuk menghindari masalah yang lebih besar di kemudian hari.
Kesalahan finansial pada pasangan baru menikah sebenarnya sangat umum. Menurut Anthony Ihz, seorang personal finance expert, ada beberapa alasan utama kenapa hal ini sering terjadi.
Anthony Ihz menekankan pentingnya membicarakan uang sebelum dan sesudah menikah. Diskusi ini membantu pasangan memahami tujuan, nilai, dan pola pikir masing-masing soal uang.
Ia juga menganjurkan agar pasangan baru menikah duduk bersama dan membahas rencana-rencana mereka. Mulai dari jumlah anak hingga memilih tipe rumah. Bicarakan juga kondisi finansial, seperti utang, tabungan, dan sumber penghasilan. Tanpa komunikasi ini, kesalahan mengatur keuangan hampir tak terhindarkan.
Disiplin finansial adalah kemampuan untuk konsisten menjalani kebiasaan keuangan yang sehat dan menghindari pengeluaran impulsif. Membuat anggaran saja tidak cukup jika tidak dijalankan dengan komitmen.
Setelah menikah, penting bagi pasangan untuk saling memahami tingkat disiplin finansial masing-masing. Jika satu pihak sangat hemat sementara yang lain boros, kondisi ini bisa menjadi risiko besar bagi keuangan rumah tangga.
Perbedaan kebiasaan menabung dan belanja sering jadi sumber konflik. Misalnya, satu pasangan rutin menyisihkan 10% penghasilan setiap bulan, sementara pasangannya sama sekali tidak menabung. Tanpa kesepakatan bersama, sulit membangun kerja tim dalam keuangan.
Saat dua individu memulai kehidupan pernikahan, banyak yang masih menyepelekan kompleksitas pengelolaan keuangan bersama. Mengutip penjelasan Denise Arand, personal finance expert dan financial educator di Five Rings Financial LLC, Colorado, berikut kesalahan finansial yang sering dilakukan pasangan baru menikah dan harus dihindari.
Cinta tidak bisa menyelesaikan semua masalah, termasuk utang. Banyak pasangan baru menyadari pasangannya punya utang besar setelah menikah. Padahal, sebelum menikah sebaiknya dibahas soal utang, tabungan, pinjaman, hingga komitmen finansial lain secara terbuka.
Menyembunyikan belanja atau memanipulasi pengeluaran bisa terlihat sepele, tapi berisiko besar. Kejujuran soal kondisi finansial, tujuan, dan prioritas sangat penting agar pasangan bisa mengambil keputusan bersama tanpa konflik berkepanjangan.
Banyak pasangan terjebak ingin pesta pernikahan “wah”, lalu membayarnya dengan kartu kredit atau pinjaman. Padahal, memulai rumah tangga dengan utang justru membebani masa depan. Pernikahan indah tak harus serba maha, yang penting sesuai kemampuan dan sah.
Tanpa anggaran, pengeluaran bisa tak terkendali. Anggaran membantu pasangan memantau pemasukan, pengeluaran, dan tujuan finansial bersama agar tidak terjebak utang.
Hidup penuh kejutan. Tanpa dana darurat, pengeluaran tak terduga bisa langsung mengguncang stabilitas keuangan rumah tangga. Idealnya, dana darurat mencakup 3–6 bulan pengeluaran rutin.
Utang seperti KPR, cicilan kendaraan, kartu kredit, atau student loan perlu strategi pelunasan yang jelas. Tanpa rencana, bunga bisa menumpuk dan memberatkan keuangan keluarga.

Banyak pasutri baru menunda investasi karena merasa waktu masih sangat panjang. Padahal, memulai investasi lebih awal bakal memberi keuntungan efek compounding yang besar untuk masa depan.
Setelah menikah, dokumen hukum seperti asuransi, rekening pensiun, dan surat wasiat perlu diperbarui. Kesalahan ini bisa berdampak serius jika terjadi hal yang tak diinginkan.
Siapa yang menangani tagihan-tagihan? Siapa yang bertugas mengatur anggaran? Tanpa pembagian peran yang jelas, potensi konflik akan semakin besar.
Menabung tanpa tujuan sering bikin cepat menyerah. Dengan membuat target bersama misalnya beli rumah atau dana pendidikan anak, pasanganbaru meniikah jadi lebih termotivasi dan sejalan.
Financial advisor bisa membantu pasutri baru memahami kondisi finansial secara objektif dan memberi solusi jangka panjang. Sebaliknya, jika gengsi minta bantuan bantuan profesional justru bisa memperbesar kesalahan finansial yang sebenarnya harus dihindari.
Setiap pasangan punya kondisi dan ritme finansial masing-masing. Terlalu sering membandingkan kondisi keuangan keluarga sendiri dengan orang lain hanya akan memicu stres dan rasa tidak cukup.
Membangun rumah tangga yang sehat secara finansial bukan soal siapa yang penghasilannya paling besar, tapi soal kerja tim, komunikasi, dan komitmen bersama. Dengan menghindari kesalahan finansial sejak awal, pasangan baru menikah bisa melangkah lebih tenang menuju masa depan. Tanpa dihantui perasaan deg-degan setiap kali mau ngecek saldo rekening.
BACA JUGA: Tanda-Tanda Financial Abuse Alias Pelecehan Finansial di Dalam Rumah Tangga
Cover: Freepik