
Sebelum punya anak, diskusikan dan lakukan perencanaan matang baik secara fisik, mental, material dan aspek lainnya, demi keluarga yang sejahtera.
Seiring zaman berkembang, ada baiknya, setiap pasangan melakukan persiapan dan perencanaan secara menyeluruh sebelum memiliki anak. Mengapa? Karena memiliki anak bukan sebatas memenuhi keinginan berketurunan atau beregenerasi saja.
Memiliki anak adalah satu paket lengkap kebahagiaan berikut tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada manusia. Tak hanya dapat lucu-lucunya anak saja, tapi segala tantangannya juga. Sehingga, dalam menjalani peran sebagai orang tua, kita perlu membekali diri dengan persiapan secara holistik, mulai dari kesiapan fisik, mental, spiritual hingga finansial demi mencapai kesejahteraan keluarga.
Jangan sampai, ketika anak sudah hadir, kita mangkir dari tanggung jawab, tak siap mental untuk mengasuh, tak cukup dana untuk menafkahi, tak rela berbagi waktu, hingga membuat rumah tangga retak, lalu anak pula yang kena getahnya. Duh, jangan sampai ya, mommies!
Oleh karena itu, ambillah waktu sebanyak mungkin untuk berdiskusi dengan pasangan, sebelum punya anak. Bila perlu, lakukan sebelum menikah, agar saling memahami visi dan misi satu sama lain tentang anak.
Berikut ini daftar pertanyaan yang bisa dijadikan panduan diskusi buat pasangan sebelum punya anak. Bukan untuk bahan berdebat, melainkan untuk menjadi bahan perenungan dan perencanaan ke depan, demi mengetahui kesiapan masing-masing pasangan.
1. Mengapa kita ingin punya anak?
Apakah ini keinginan kedua belah pihak, atau ada tekanan lingkungan atau keluarga? Murnikan kembali tujuan ingin memiliki anak.
2. Apakah kita sudah siap punya anak?
Apakah tubuh benar-benar dalam kondisi sehat untuk memulai program hamil? Lalu secara keuangan, apakah dananya sudah direncanakan untuk periksa kehamilan dan persalinan? Lalu ketika anak lahir, siapkah orang tua bekerja sama dalam merawat dan mengasuh bayi?
3. Mau punya anak berapa?
Jangan sampai prinsip yang dipakai ”banyak anak banyak rezeki” alias unlimited. Kecuali kesejahteraan finansial, mental dan fisik mommies juga unlimited, hehehe. Di kehidupan yang serba tak pasti, mengikuti saran pemerintah “dua anak cukup” rasanya bijaksana.
4. Apakah kondisi mental saya prima untuk memiliki anak?
Adakah isu psikologis yang belum selesai di diri saya atau pasangan? Misalnya trauma pengasuhan pada masa kecil, memiliki masalah emosional, dan seterusnya.
5. Bagaimana latar belakang pengasuhan saya dan pasangan?
Apakah mommies dan daddies dibesarkan dengan gaya pengasuhan yang wajar dan normal, atau malah otoriter? Ada perceraian atau kematian orang tua yang berdampak pada diri saya atau pasangan setelah dewasa?
6. Apakah perlu berkonsultasi ke psikolog sebelum merencanakan punya anak?
Jika dipandang perlu, silakan berkonsultasi ke psikolog, untuk memastikan kesiapan mental sebelum memiliki anak.
7. Ingin mengasuh anak dengan pola asuh apa?
Misalnya, apabila dirasa dahulu kita diasuh secara otoriter atau permisif, kini kita tak mau menggunakan cara itu lagi, dan lebih memilih pola asuh otoritatif.
8. Siapkah mengalokasi waktu untuk membersamai anak?
Waktu pribadi dan sosial tentu akan terdampak setelah memiliki anak. Sebab, kita perlu hadir penuh untuk menstimulasi dan mendampingi anak yang bermanfaat bagi tumbuh kembangnya.
9. Apakah kondisi keuangan kita cukup stabil untuk punya anak saat ini?
Apabila belum cukup stabil, apakah ingin menunda kehamilan, atau tetap menjalankan program kehamilan dengan penyesuaian biaya?
10. Apakah perlu memeriksakan diri ke dokter sebelum merencanakan kehamilan?
Pada umumnya, ini disesuaikan dengan usia pernikahan. Namun apabila sejak awal memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter pun, boleh saja.
Baca juga: MD Ask the Expert: Kontrasepsi dari Sisi Kedokteran dan Agama
11. Berapa estimasi biaya persalinan?
Ini bermanfaat untuk menyiapkan anggaran pemeriksaan kehamilan hingga persalinan. Ini termasuk juga mendiskusikan metode persalinan yang ingin ditempuh.
12. Apakah kita sepakat untuk mengimunisasi dan perawatan kesehatan anak?
Apabila ada perbedaan pendapat perihal imunisasi anak, maka ini waktunya didiskusikan bersama pasangan.
13. Bagaimana jika anak memiliki kebutuhan khusus?
Ini mencakup persiapan mental dan finansial apabila ternyata Tuhan mempercayakan kita dengan anak berkebutuhan khusus.
14. Apakah kita sudah menyiapkan tunjangan kesehatan untuk anak dan keluarga?
Setidaknya menyiapkan BPJS Kesehatan, atau asuransi kesehatan lain jika memungkinkan.
15. Bagaimana dengan tabungan pendidikan anak?
Agar tidak kaget dengan persiapan keuangan kelak tiba waktu anak untuk bersekolah.
16. Mau sekolahkan anak di mana kelak?
Tak ada waktu yang terlalu panjang buat mempersiapkan rencana sekolah anak. Ini penting untuk kemudian menyiapkan tipe sekolah yang paling sesuai untuk anak serta biaya pendidikannya.
17. Setelah cuti melahirkan selesai, siapa yang menjaga anak saat dan pasangan kita kerja?
Apakah diasuh oleh pengasuh, atau dibantu oleh keluarga, atau dititipkan di daycare?
18. Apakah kita punya sistem pendukung yang sehat?
Misalnya, orang tua, kakak, adik, asisten rumah tangga untuk membantu kita melaksanakan tugas dan tanggung jawab kita agar berjalan optimal?
19. Apakah kita mau terus belajar dan bertumbuh di dalam perjalanan menjadi orang tua?
Artinya mau ikut kelas parenting, kelas stimulasi anak, membaca buku sejak anak bayi hingga remaja. Sebab untuk menangani anak bertumbuh di setiap fasenya, kita pun perlu bertumbuh.
20. Bagaimana prinsip kita soal screen time untuk anak?
Misalnya, tidak memberikan screen time kepada anak di bawah usia 2 tahun, tidak hak memiliki gawai hingga usia tertentu, dan seterusnya.
21. Bagaimana pembagian tugas rumah tangga?
Perlu menentukan tugas dan tanggung jawab masing-masing pasangan di dalam rumah tangga.
22. Bagaimana pembagian tugas pengasuhan anak?
Misalnya ibu membuatkan makanan anak, memandikan, kemudian ayah membacakan cerita sebelum tidur; dan bergantian sesuai kebutuhan.
23. Bagaimana kita mengajarkan anak tentang agama atau spiritualitas?
Apakah orang tua siap berkomitmen untuk mengajarkan anak nilai-nilai spiritualitas untuk pertumbuhan rohaninya?
24. Lingkungan seperti apa yang kita inginkan untuk anak tumbuh?
Apakah perlu berpisah rumah dengan orang tua, apakah perlu pindah ke rumah apabila saat ini tinggal di apartemen?
25. Apakah mommies akan tetap bekerja setelah punya anak?
Ini penting untuk menentukan siapa yang mengasuh anak saat mommies bekerja.
26. Apakah kita memiliki mindset yang “tidak apa-apa jika suami menjadi bapak rumah tangga?”
27. Bagaimana cara menjaga kualitas hubungan setelah punya anak?
28. Bagaimana mengatur hubungan seksual pasca punya anak?
29. Apakah kita memiliki dana darurat?
30. Apakah kita siap menyesuaikan gaya hidup setelah punya anak?
31. Bagaimana cara kita mengatur skala prioritas terkait keuangan keluarga?
32. Apa yang kita lakukan jika mengalami konfik, baik terkait anak atau tidak, siapkah kita dengan cara-cara bermediasi yang sehat?
33. Bagaimana cara kita mengelola pendapatan masing-masing untuk kebutuhan keluarga dan pribadi?
34. Apakah kita saling bersepakat untuk mengizinkan satu sama lain untuk me time dan social time pasca menjadi orang tua?
35. Apakah kita saling bersepakat untuk terus mendukung satu sama lain bertumbuh baik secara individu, karir, dan hal lainnya pasca menjadi orang tua?
35. Apa yang akan kita lakukan apabila mengalami parenting burnout?
36. Siapkah kita memberi dukungan mental atau dukungan lainnya kepada pasangan di saat pasangan stres atau kelelahan?
37. Bagaimana menjaga boundaries pengasuhan anak dengan keluarga besar apabila anak dibantu asuh oleh keluarga saat kita bekerja?
38. Sudahkah mommies siap mengASIhi saat bayi lahir, dan siapkah daddies mendukung mommies mengASIhi?
39. Apa nilai yang hendak kita tanamkan kepada anak?
40. Siapkah kita mendukung anak di setiap fase tumbuh kembangnya?
41. Bagaimana cara kita belajar mengelola ekspektasi kita terhadap anak kelak?
42. Siapkah untuk menghadapi perbedaan pendapat setelah menjadi orang tua?
43. Siapkah begadang untuk mengasuh bayi di awal kelahirannya?
44. Bersedia belajar ganti popok, kecipratan gumoh bayi, gendong bayi kapanpun bayi membutuhkan rasa aman?
45. Siap menerapkan pola hidup sehat demi panjang umur untuk membersamai keluarga?
46. Siap belajar memahami skala prioritas antara kepentingan keluarga dan kepentingan pribadi?
47. Di usia pernikahan keberapa dianggap perlu untuk program kehamilan lanjutan seperti inseminasi buatan atau IVF?
48. Apakah memiliki dana yang cukup untuk program kehamilan tersebut?
49. Siap dengan anak jenis kelamin apapun, dan tidak ngotot untuk punya anak dengan jenis kelamin tertentu?
50. Last, but not least, mau memberi nama anak seperti apa?
Sebagai catatan, lakukan diskusi dengan santai, dan tak perlu dibahas, sekaligus ya, mommies. Bisa secara bertahap atau setidaknya diskusikan yang dianggap paling prioritas terlebih dahulu. Tak perlu kaget jika menemukan perbedaan pendapat. Di sinilah momennya untuk belajar saling menghargai dan bersepakat.
Baca juga: 5 Penyebab Masalah Keuangan Bisa Mengganggu Hubungan, Jangan Diremehkan!