Menemukan Nyawa untuk Penulisan Personal Statement dan Study Objective dalam Pengajuan Beasiswa 

#MommiesWorkingIt

Mommies Daily・10 Apr 2023

detail-thumb

Menjadikan peran ibu sebagai motivasi dalam mengambil beasiswa kuliah, simak tips pengajuan beasiswa dan pengalaman mengambil S3 dari ibu hebat ini.

Ditulis oleh: Gita Putri

Saat pertama kali membuka situs beasiswa, tarik napas dulu. Baca semua persyaratan dalam keadaan rileks tanpa tekanan, baru kemudian mencatat apa saja yang perlu kita lengkapi. Bagian terberat dalam mempersiapkan pengajuan beasiswa adalah menjawab pertanyaan besar mengapa kita hendak berkuliah lagi. Tentu saja, semua bisa menjawab “karena ingin S2/S3 komunikasi/hukum/ekonomi dan sebagainya”, tapi kita semua tahu bukan inilah jawaban yang dicari penyeleksi beasiswa dari seorang calon kandidat.

Penyeleksi beasiswa, entah LPDP, Australia Award Scholarship (AAS), Chevening atau Fulbright serta banyak beasiswa lainnya, ingin mengetahui apakah si calon kandidat adalah figur yang tepat dan layak untuk mereka dukung mendapatkan pendidikan lebih tinggi sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh lembaga pemberi beasiswa tersebut. Biasanya, calon kandidat harus menuliskan study objective dan personal statement. Dalam tulisan ini saya mencoba membagi pengalaman sebagai penerima beasiswa Fulbright dan AAS serta menjadi pewawancara kandidat Fulbright untuk penulisan dua hal tersebut.

pengajuan beasiswa

Foto: Wisuda S2 School of Law University of Washington tahun 2016 / Gita Putri

BACA JUGA: 9 Cara Menerapkan Kesetaraan di Tempat Kerja dan Menjadi Teladan

Kenali Study Objective dan Personal Statement

Nah, mari berkenalan dengan Study Objective (SO) dan Personal Statement (PS). Bila penyeleksi ingin mengetahui mengapa kita memilih beasiswa tersebut serta rencana kita ke depan, maka ia akan membaca Study  Objective. Sementara apabila penyeleksi ingin mengetahui profil kandidat serta apa yang telah ia capai di masa lalu, maka Personal Statement-lah yang akan ditelisik.

Sekilas memang mirip-mirip karena materinya beririsan. Ilustrasi singkat SO bisa jadi seperti ini: Saya ingin mempelajari mengenai bagaimana sebaiknya proses pembuatan hukum menjadi lebih partisipatif, terutama bagi kelompok rentan seperti teman-teman penyandang disabilitas sebagai penerima manfaat terbesar. Sebagai contoh, dalam penayangan pembahasan berbagai rancangan undang-undang di DPR yang mendapat sorotan publik seperti KUHP dan Omnibus Cipta Kerja, jarang dilengkapi dengan kehadiran juru bahasa. Ketidakhadiran ini kemungkinan karena belum hadirnya pemahaman bahwa aspek partisipatif, terutama dari elemen publik yang kerap terpinggirkan seperti kelompok disabilitas, belum menjadi arus utama dalam pembuatan kebijakan. Secara lebih spesifik saya ingin mempelajari tentang bagaimana mengintegrasikan pengalaman kelompok disabilitas sebagai arus utama dalam penyusunan tata laksana pelibatan publik di DPR dan DPRD. Kebijakan pengarusutamaan ini contohnya di negara bagian Washington dengan SOP untuk Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) saat pembahasan rencana regulasi, dst, dst.”

Sementara untuk PS, elaborasinya lebih pada profil kita serta rekam jejak aktivitas. Misalnya seperti ini. Sebagai alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia, saya melihat materi perkuliahan menyangkut disabilitas masih kurang tersampaikan saat  kuliah dulu. Hal ini berlanjut ketika saya menjadi staf peneliti di Lembaga X yang masih kekurangan materi disabilitas tersebut. Saat menjadi mahasiswa, saya melihat ada penyandang disabilitas yang menjadi korban ketidak-adilan seperti kasus (masukkan kasus yang berhubungan), saya kerap bertanya apa yang saya bisa lakukan untuk mengubah situasi tersebut. Maka ketika saya menjabat sebagai staf BEM FHUI, saya mendorong kegiatan bertema disabilitas yang hingga kini masih berjalan 7 tahun setelah program tersebut pertama kali diluncurkan. Di waktu senggang, saya mengalokasikan waktu saya seminggu sekali menjadi relawan untuk mendampingi kelompok disabilitas mental melakukan olahraga rutin mereka di Taman Panglima Polim Jakarta ”.

Perhatikan bahwa untuk PS yang perlu kita jawab adalah peran kepemimpinan serta kontribusi pada sekitar dan pengalaman di masa lalu membentuk diri kita sekarang. Untuk PS yang saya susun untuk Fulbright, saya menyebutkan konteks Indonesia dalam transisi demokrasi yang membutuhkan individu dengan pengetahuan dalam penyusunan peraturan perundang-undangan.

Sementara untuk SO, kita perlu secara spesifik menyebutkan materi apa yang ingin diperdalam, hubungannya dengan perjalanan akademik kita di masa lalu dan kontribusi ilmu yang akan kita perdalam dengan rencana masa depan.

Singkatnya PS adalah kita di masa lalu dan SO adalah kita di masa depan. Contoh lain SO dalam aplikasi Phd ke Australia Award adalah bagaimana penelitian S3 yang akan saya tempuh di bidang regulasi akan mengisi kekosongan keilmuan akan hal tersebut untuk bangunan pengetahuan secara keseluruhan.

Satu aspek lain yang terkadang luput adalah membaca dokumen-dokumen yang berhubungan dengan beasiswa itu sendiri. Misalnya, beasiswa Australia Awards tiap tahun memiliki satu set dokumen tentang fokus beasiswa yang akan diberikan akan di bidang ilmu apa saja. Pengetahuan akan hal-hal ini akan lebih membantu kita dalam mencari jurusan di kampus serta untuk memoles dan menyesuaikan materi PS dan SO kelak.

Reviewer aplikasi beasiswa ingin melihat seberapa nyambung apa yang tertulis dalam PS versus SO. Atau seseorang yang ingin menjadi doktor pendidikan namun berlatar belakang praktisi keuangan dengan topik penelitian minat baca anak di provinsi-provinsi termiskin di Indonesia? Reviewer yang sama juga perlu menilai apakah seseorang dengan latar belakang dan pendidikan di bidang psikologi bisa dipertanggungjawabkan secara akademik apabila ia ingin menempuh pendidikan magister kesehatan masyarakat. Dalam PS dan SO harus tercerminkan langkah-langkah yang sudah dan akan kita lakukan untuk mencapai perubahan tersebut.

Apa hubungan semua itu dengan peran saya sebagai ibu?

Ketika menyusun PS dan SO, saya menggunakan identitas pribadi saya sebagai ibu untuk dalam kerangka motivasi. Saya membayangkan Indonesia seperti apa yang kelak saya inginkan untuk anak-anak saya kelak. Tentu saya tidak menuliskan hal tersebut, tapi mendudukkan anak-anak (baca: generasi berikutnya) sebagai penerima manfaat terbesar dari pencapaian keilmuan formal seperti menyuntikkan nafas dalam tulisan PS dan SO saya tersebut.

Apakah target tersebut terlalu muluk? Menurut saya, untuk beasiswa, penyelenggara beasiswa memang mencari individu yang mau dan berani menuliskan mimpinya (baca: mimpi tentang perubahan) dalam aplikasi. Sebagai pengaju beasiswa, kita juga perlu menampilkan persona diri yang tepat; yaitu sebagai seorang individu matang yang  mau keluar dari zona nyaman dan bersedia serta mampu tinggal jauh dari kampung halaman untuk belajar lagi. Tambahkan itu semua dengan mereka yang terkasih sebagai motivator utama, maka penyeleksi beasiswa akan membaca Personal Statement dan Study Objective yang bukan saja dengan rekam jejak dan tujuan yang jelas tapi memiliki nyawa.

Jangan lupa bahwa aplikasi beasiswa kita harus memiliki energi positif untuk perubahan, bukan hanya untuk diri pribadi tapi juga untuk masa depan secara luas. Tidak perlu jauh-jauh untuk bangsa, negara ataupun agama karena sebetulnya cukup membayangkan orang-orang terdekat saja. Siapa lagi yang paling bisa memotivasi untuk masa depan kalau bukan mereka yang paling kita kasihi?

BACA JUGA: Ini Alasan Budaya Cuti Diganggu Kerjaan Harus Dihentikan 

Cover: Photo by Emily Ranquist on Pexels