Mengapa Kita Perlu Ajarkan Anak Berani Mengemukakan Pendapatnya? Ini Kata Psikolog

Parenting & Kids

Sisca Christina・23 Jan 2023

detail-thumb

Salah satu cara agar anak berani mengemukakan pendapatnya yaitu dengan nggak menganggapnya membantah saat berbeda pendapat.  

Kebanyakan orang tua menginginkan punya anak penurut. Gampang melakukan sesuatu yang diminta. Sekilas, memang enak, ya. Meringankan banyak urusan, nggak harus berbantah-bantahan, meminimalisir “tarik urat” sehari-hari. Tapi tunggu dulu, gimana kalau anak jadi “iya-an” dan kemudian nggak mampu mengeluarkan pendapatnya?

Menurut Alia Mufida, M.Psi, Psikolog, Psikolog Klinis Anak dan Remaja, berani mengemukakan pendapat merupakan salah satu soft skill yang menjadi bagian dari perilaku asertif. Artinya, anak mampu untuk mengeluarkan isi hati dan pikirannya kepada orang lain. Ada sebagian anak yang memiliki sifat dasar mampu untuk mengemukakan pendapat, ada yang tidak. Namun, kemampuan tersebut bisa dilatihkan.

Mengajarkan anak untuk berani mengemukakan pendapatnya itu penting. Namun, mengajarkan anak kapan saat yang tepat, kepada siapa dan bagaimana caranya mengemukakan pendapat, itu nggak kalah penting.

Enam Cara untuk Melatih Anak Berani Mengemukakan Pendapatnya

“Melatih anak untuk berani mengemukakan pendapat tentunya dimulai dari rumah,” jelas Mba Fida. Beberapa cara ini bisa orang tua lakukan untuk membangun keterampilan anak mengemukakan pendapat.

1. Tidak menganggap anak membantah atau membangkang saat berbeda pendapat

Ini, nih, yang sulit. Sadar atau tidak, terkadang orang tua mudah untuk bereaksi saat anak berbeda pendapat dengan kita. Apalagi ketika anak talk back, seringkali kita menganggap mereka membangkang. Padahal, ini adalah dasar dari anak mau mengkritisi sesuatu. Orang tua perlu berhenti menganggap anak yang talk back sebagai anak yang membangkang. Namun di saat yang bersamaan, orang tua juga perlu mengajari anak bagaimana cara menyampaikan pendapat dengan sopan, penuh hormat, menghargai orang lain dan menggunakan kata-kata yang baik.

2. Banyak berdiskusi dengan anak

Diskusi memberi anak ruang untuk berpikir dan berpendapat. Ini baik untuk merangsang daya nalarnya. Pilihah topik yang sesuai usia anak. Untuk anak yang lebih kecil, mommies bisa bertanya, misalnya: “Menurutmu mengapa tadi siang kakak marah sama kamu?” Untuk anak remaja, mommies bisa berdiskusi tentang hal yang lebih berat, misalnya: “Menurutmu, merokok itu baik untuk kesehatan atau nggak?”. Di setiap diskusi, stimulasi anak untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya.

3. Melatih anak membuat keputusan

Caranya yaitu dengan menyodorkan beberapa pilihan. Beri tahu anak bahwa setiap pilihan bisa mengandung konsekuensi, plus minus, bahkan risikonya masing-masing. Dengan begitu, anak belajar menimbang mana yang paling baik untuk ia pilih. Setelah ia memutuskan sesuatu, hargailah. Jangan mengarahkan anak untuk mengganti keputusannya sesuai dengan keinginan kita.

4. Beri ruang kepada anak untuk belajar dari kesalahan

Bisa saja keputusan yang ia ambil ternyata nggak tepat. Kemudian ia jadi sedih atau kecewa. Hati-hati, dengan kalimat “Kan sudah mama bilang..” yang bakal sukses membuatnya semakin menyesal. Beri tahu anak bahwa berbuat salah adalah bagian dari proses belajar. Namun, tetap ingatkan lebih berhati-hati dan teliti agar tak mengulangi kesalahan yang sama. Ingat, poin yang mau dipetik oleh anak yaitu dia sudah berani mencoba.

5. Mendengarkan dan menanggapi dengan penuh perhatian

Kalau sudah memberi ruang untuk anak berpendapat, lantas orang tua wajib mendengar dan merespon. Bukan harus selalu setuju juga. Namun, dengan berikan perhatian penuh dan memberi tanggapan, anak akan merasa dihargai dan semakin berani mengemukakan pendapatnya.

6. Jangan cepat membantu anak memutuskan sesuatu

Orang tua juga perlu menahan diri untuk tidak buru-buru memutuskan sesuatu buat anak. Ini bisa menutup kemauannya untuk berpendapat. Sebaliknya, penting buat orang tua untuk men-challenge anak untuk dengan mengulang-ulang pertanyaan yang pada akhirnya bisa membuat anak tergerak untuk membuat keputusan sendiri.

Baca juga: Orang Tua, Didik Anak Perempuan Agar Berani Bersuara, Bukan Untuk Jadi Sempurna

Mengapa Penting?

“Banyak sekali manfaat yang anak peroleh ketika mereka terbiasa mengemukakan pendapatnya,” jelas Mbak Fida.

  1. Anak jadi berani mengutarakan pendapat baik di sekolah, tempat les, dan pada akhirnya di organisasi yang lebih besar seperti perusahaan atau komunitas masyarakat nantinya saat dewasa.
  2. Anak tumbuh menjadi pribadi yang kritis.
  3. Mengasah daya berpikir anak karena sering berdiskusi dengan orang tua.
  4. Membangun anak memiliki kepribadian yang teguh, dan belajar mempertahankan prinsip.
  5. Anak belajar menghargai pendapat orang lain, dan menghargai setiap perbedaan yang muncul dalam diskusi.

Baca juga: Kenapa Anak Harus Diajari Menghargai Perbedaan Sejak Dini

Stop Lakukan Ini Saat Anak Mengemukakan Pendapatnya

Ada beberapa hal yang terkadang spontan dilakukan orang tua, namun bisa membuat anak mengurungkan niatnya untuk berpendapat. Tiga hal ini jangan dilakukan, ya, mommies.

  1. Menertawakan pendapat anak.
  2. Membuat keputusan saklek tanpa melibatkan anak.
  3. Meragukan atau menganggap pendapatnya tidak masuk akal sehingga kerap mematahkan pendapat anak.

Mengajarkan anak untuk berani mengemukakan pendapatnya sekilas kelihatan simpel, padahal praktiknya nggak mudah. Tapi, past bisa!

Baca juga: Infografik: 7 Keterampilan Sosial yang Dibutuhkan Anak