banner-detik
PARENTING & KIDS

4 Alasan Kenapa Kami Hanya Ingin Punya Satu Anak

author

Rahmasari Muhammad13 Jan 2023

4 Alasan Kenapa Kami Hanya Ingin Punya Satu Anak

Punya satu anak, sebuah keputusan yang pasti menimbulkan pro kontra. Namun, kami (saya dan suami) memiliki alasan yang kuat. Berikut alasan-alasannya. 

Keputusan kami walau dengan alasan yang masuk akal, pasti menimbulkan pro  dan kontra, terutama untuk budaya masyarakat Indonesia, di mana sebagian masyarakatnya masih percaya bahwa anak membawa rezeki serta berkah. Juga kepercayaan bahwa punya anak akan membahagiakan semua orang. Anak memang bisa mendatangkan kebahagiaan, tapi tidak dapat dipungkiri juga membawa kepada penyesalan  serta kebingungan berkepanjangan jika tidak diputuskan dengan pertimbangan matang sebelum memilikinya. 

Setiap orang dan pasangan berhak memutuskan yang terbaik untuk mereka, asal keputusannya dipikirkan matang-matang, dipertimbangkan dari semua aspek, dan tidak menyusahkan orang lain ya Mommies. Faktanya, banyak kasus di mana anak menjadi beban orang lain serta keluarga besar karena ketidakmampuan orangtuanya dalam memenuhi kebutuhan anak, baik secara finansial, psikologis serta emosional, seperti supply kasih sayang, perhatian dan pendampingan yang optimal. 

Sebelum menikah, saya dan pasangan berdiskusi tentang beberapa hal krusial, termasuk anak. Kami setuju bahwa memiliki anak adalah “bonus” dari sebuah pernikahan, tapi sejatinya alasan utama kami menikah adalah menemukan partner sejajar dan companionship yang sesuai untuk berbagi hidup sekaligus mengembangkan diri bersama.

Jika punya anak pun, kami memutuskan untuk punya sedikit anak saja. Saat ini, kami memiliki satu anak yang berusia 6 tahun. Dalam membuat keputusan ini, kami punya beberapa alasan tentunya. 

Inilah beberapa alasannya kenapa kami hanya ingin punya satu anak

1. Penduduk Indonesia & Dunia sudah terlalu banyak serta bumi semakin rusak

Mungkin mendengar alasan ini sebagian orang bilang ‘ya terserah sih apa hubungannya sama gue ya?’ tentu sangat berhubungan. Kita hidup di tanah yg sama, berbagi bahan makanan dan oksigen yang sama, juga berkompetisi memperebutkan lahan pekerjaan, jatah bangku sekolah, dan peluang-peluang lain yang sama atau setidaknya saling terkait. Jadi sudah tentu saling berhubungan erat. 

Di bidang kesehatan contohnya, apa akibatnya kalau penduduk terlalu banyak? Antre di klinik atau rumah sakit jadi lebih lama, atau di masa pandemic yang sempat terjadi ketersediaan fasilitas kesehatan termasuk bed rumah sakit terisi penuh. Karena apa? karena jumlah penduduk terlalu banyak dan tidak berbanding lurus dengan fasilitas kesehatan serta tenaga kesehatan yang tersedia. Contoh lain, untuk vaksin primer atau vaksin booster covid, kita juga harus menunggu dan antre lebih lama untuk mendapatkan jatah vaksin. 

Selain itu, isu perubahan iklim dan semakin rusaknya bumi juga menjadi perhatian serta pertimbangan kami. Semakin banyak penduduk dunia, tentunya akan semakin memerlukan banyak resource mulai dari sandang, pangan, papan. Pertambahan penduduk juga diindikasikan dapat meningkatkan jumlah kebutuhan energi, di mana sumber energi dari bahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara, dan gas alam) memicu terjadinya emisi gas rumah kaca penyebab pemanasan global sekaligus perubahan iklim. 

2. Masalah finansial

Seharusnya ini menjadi pertimbangan sebagian besar pasangan ya mommies. Harga semakin melambung tinggi, mulai dari bahan pangan, kesehatan, kebutuhan sehari-hari lain hingga pendidikan yang sangat terasa tentunya kecuali jika saya kaya 7 turunan (sayangnya belum hehe). Untuk kami, dana sekolah, kesehatan dan biaya-biaya lain yg tidak sedikit membuat kami memutuskan bahwa pada saat ini jalan terbaik adalah fokus pada anak yang sudah kami miliki agar dia memiliki peluang lebih baik dalam mendapatkan pendidikan, akses kesehatan, serta kehidupan yang layak dan sesuai untuknya.  

3. Ketersediaan waktu berkualitas untuk anak

Tentunya sebagai orangtua, banyak yang sudah sadar bahwa era anak-anak kita sangat berbeda dengan era kita. Tantangan serta exposure semakin luar biasa, dunia semakin terbuka, persaingan semakin sengit, nilai dan budaya pun banyak bergeser. 

Saya dan pasangan percaya bahwa pendidikan utama dan terbaik dimulai dari rumah, melalui role model yang dicontohkan orangtua, komunikasi sehat yang terjalin intens antara orangtua dan anak, dan pendampingan tanpa syarat. Kami harapkan, anak akan percaya dan yakin bahwa dia memiliki ruang nyaman, bisa berdiskusi, dapat berbicara dengan orangtuanya kapan pun dia perlu, hingga akhirnya memiliki kematangan emosi serta pikiran, mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan bijak tanpa merugikan dirinya maupun orang lain, juga bermanfaat dan berdampak baik untuk diri dan lingkungannya. 

Untuk itu, tentunya diperlukan waktu, tenaga, usaha, kesabaran yang tidak sedikit dan konsistensi. Kalau kita punya banyak anak, rasanya nggak akan mampu mendengarkan curhatan tiap anak dan mendampinginya dalam setiap fase kehidupannya dengan berbagai karakter anak yang tentunya berbeda. Jadi rasanya lebih masuk akal untuk punya sedikit anak, hingga tenaga dan kesabaran kami masih “fully charged” untuk mendampingi, mendukung, dan mendengarkannya dengan fokus. 

Baca juga: 7 Tips Membuat Anak Bahagia, Orang tua Pastikan Lakukan Hal Ini!

4. Kebahagiaan tidak ditentukan oleh kuantitas

Banyak juga yang bilang ke kami, bisa-bisa menyesal kalau punya anak hanya satu, atau anaknya kasihan, bisa kesepian dan komen-komen lainnya. Padahal, faktanya kita memang sebaiknya dapat hidup mandiri, mampu menghidupi dan mengurus diri serta mampu menyelesaikan masalah sendiri. Tidak jadi jaminan juga kalau hidup dengan adik atau kakak akan lebih bahagia atau memudahkan, banyak juga yang bermasalah dengan keluarga inti karena satu dan lain hal, yang pada akhirnya membawa beban lebih dan complicate the situation

Menambah anak pasti menambah kebahagiaan juga menurut kami belum tentu ya..karena menurut kami berdua, kebahagiaan ditentukan oleh rasa syukur dan cara kita memaknai apa yang kita miliki. Banyak belum tentu cukup, dan sedikit mungkin lebih dari cukup. Lebih baik fokus kepada kualitas, bukan pada kuantitas. 

Apapun keputusan mommies soal anak, pastikan keputusan itu dibuat dengan pertimbangan matang dan untuk kebaikan serta kebahagiaan diri serta pasangan ya, bukan untuk memuaskan society, keluarga atau orang lain.

Share Article

author

Rahmasari Muhammad

-


COMMENTS