banner-detik
SEX & RELATIONSHIP

Kenali Jenis Cemburu yang Sehat dan Tak Sehat di Dalam Pernikahan

author

Fannya Gita Alamanda22 Dec 2022

Kenali Jenis Cemburu yang Sehat dan Tak Sehat di Dalam Pernikahan

Yuk, kenali mana jenis cemburu yang sehat dan tidak sehat di dalam dalam hubungan pernikahan! Jangan sampai bikin rumah tangga berantakan!

Pusing punya pasangan yang sering cemburu? Atau malah Anda yang begitu? Sebenarnya, selama takarannya pas, rasa cemburu itu baik buat Anda dan pasangan. Namun jika berlebihan, cemburu bisa mencekik hubungan dan menghancurkan pernikahan.

Banyaknya informasi mungkin membuat Anda terombang-ambing dan bingung, apakah cemburu itu sehat atau tidak sehat buat hubungan?

Meski begitu jangan jadikan adegan-adegan lebay di drama dan film romantis sebagai patokan, ya. Karena kecemburuan yang berlebihan bukanlah ekspresi cinta sejati, melainkan bentuk dari rasa tidak aman, bahkan berbahaya.

BACA JUGA: Tanda Sebelum Perselingkuhan yang Perlu Diwaspadai, Menurut Studi

Cemburu yang Tidak Sehat

Pasangan yang sangat pencemburu seringkali disebabkan karena dia merasa selalu kurang baik untuk pasangannya. Harga dirinya yang rendah membuat mereka menganggap orang lain sebagai ancaman.

Ujung-ujungnya ia akan mencoba mengendalikan pasangannya dengan mencegah mereka memiliki kehidupan sosial. Jelas dong, ini bukan resep yang bagus untuk membangun dan melindungi pernikahan Anda.

Pasangan yang cemburuan mungkin menyimpan harapan yang tidak realistis tentang pernikahan. Bisa jadi, mereka tumbuh dengan fantasinya sendiri tentang pernikahan, berpikir kehidupan pernikahan akan seperti yang mereka lihat di majalah, film, dan drakor. Ini artinya harapan mereka tentang hubungan yang sehat tidak didasarkan pada kenyataan. Mereka gagal paham bahwa adalah hal yang baik untuk pernikahan bila ia dan pasangannya juga tetap punya kehidupan sosial masing-masing.

Parahnya lagi, seorang pencemburu kerap berlaku posesif terhadap pasangannya dan mengabaikan hak pasangannya untuk tetap punya teman setelah menikah karena takut kebebasan akan memungkinkan pasangannya menemukan “seseorang yang lebih baik”.

Penyebab lain adalah suatu kejadian yang meninggalkan trauma dan tidak mendapatkan penanganan segera. Pasangan yang cemburu mungkin pernah memiliki masalah persaingan antarsaudara kandung di masa kanak-kanak yang belum terselesaikan hingga ia dewasa. Bisa juga pernah ada pengalaman buruk dalam hubungan sebelumnya, seperti pasangan berselingkuh atau sering berbohong. Trauma yang kemudian terus ia bawa ketika menjalin hubungan baru.

Pencemburu sering berpikir bahwa dengan tetap waspada (cemburu), mereka dapat mencegah situasi serupa terulang kembali tanpa menyadari tindakan irasional dan beracun itu justru menimbulkan dampak buruk dalam pernikahan mereka.

Persepsi Selingkuh

Cemburu yang Sehat

Kecemburuan memiliki berbagai tingkatan. Cemburu yang wajar adalah sarana untuk menjaga wilayah teritori Anda. Kecemburuan ini berasal dari perhatian dan komitmen yang tulus terhadap hubungan, seperti sesekali curiga, timbul rasa tidak nyaman saat pasangan Anda bersama teman lawan jenis tertentu terlalu lama dan sering.

Sebaliknya, kecemburuan kronis meliputi kebohongan, ancaman, mengasihani diri sendiri, perasaan kecil, rendah diri, dan tidak aman yang justru dianggap sebagai bentuk cinta.

  • Kecemburuan yang sehat akan melindungi sebuah pernikahan karena kecemburuan jenis ini menunjukkan:
  • Anda peduli dan berkomitmen terhadap hubungan atau pernikahan.
  • Kepedulian Anda terhadap pernikahan dengan melindunginya dari hal-hal buruk yang bisa menghancurkan komitmen Anda.
  • Anda dan pasangan menjalankan tanggung jawab terhadap satu sama lain melalui komunikasi yang sehat dan jujur.
  • Anda berdua memiliki komitmen untuk bersama-sama menghadapi dan mengatasi masalah-masalah yang berpotensi membahayakan pernikahan Anda sebelum menjadi lebih parah.

Well, sebenarnya kecemburuan yang sehat bisa Anda jadikan sebagai sinyal untuk menjauhkan kalian dari bahaya, lho.

Buat para suami, percayai naluri istri Anda. Jika dia mengatakan bahwa wanita tertentu berperilaku tidak pantas, terlalu akrab, agak posesif, atau terlalu mesra yang sering disamarkan dengan menggunakan alasan atas nama persahabatan, istri Anda mungkin benar.

Kebanyakan wanita memiliki radar dengan kualitas yang bagus, kewaspadaan bawaan terhadap komunikasi non-verbal, dan kemampuan menerjemahkan bahasa tubuh. Istri mungkin dapat melihat hal-hal ini dengan lebih jelas ketimbang pasangannya. Jadi, jangan mengkritik atau mengabaikan peringatannya.

Bagi para istri, percayai naluri dan warning dari suami Anda ketika ia mengendus potensi bahaya dari kawan-kawan pria Anda. Dia laki-laki. Dia tahu persis apa yang diinginkan sesama pria dari wanita, dan bagaimana mereka rela menggunakan segala cara untuk mendapatkan yang mereka mau.

Jadi, pertanyaan senilai satu juta dolarnya adalah apakah ini berarti kecemburuan dalam pernikahan itu buruk atau sehat?

Kecemburuan dalam pernikahan menjadi tidak sehat jika berlebihan, membuat Anda atau pasangan menjadi tidak nyaman karena merasa tidak dipercaya, dan selalu dicurigai. Hal itu kemudian menyebabkan Anda kehilangan kendali atas pikiran sehingga hobi membuat asumsi-asumsi liar yang kemudian menjurus kepada tindakan-tindakan tidak logis yang dapat merusak hubungan.

Kecemburuan dapat dianggap sehat dan normal ketika ‘digunakan’ dalam batas sewajarnya untuk menjaga komitmen dan pernikahan, tanpa membuat salah satu pihak kehilangan haknya untuk menjalani hidup yang normal.

Komunikasi yang baik dan kejujuran adalah dua kunci utama untuk mengendalikan kecemburuan agar tetap ada, tapi dengan porsi yang passss dan tujuan yang tepat yaitu melindungi cinta dan perkawinan Anda.

BACA JUGA: Bahaya untuk Kesehatan, Ini 6 Alasan Posisi Seks yang Dilarang dalam Islam

Cover: Freepik

Share Article

author

Fannya Gita Alamanda

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS