Tips Menghadapi Anak Ngeyel Selain Sabar

Parenting & Kids

Sisca Christina・02 Dec 2022

detail-thumb

Saat menghadapi anak yang lagi ngeyel, perlu strategi dan seni agar nggak menjadi power struggle. Coba praktikkan tips berikut.

Sebetulnya, anak yang suka ngeyel itu nggak lain adalah anak-anak yang punya kemauan keras, a.k.a strong willed child. Namun, terkadang kalau tanduk orang tua sudah keluar karena merasa hopeless ketika anak mulai sangat sulit diarahkan, kita keceplosan untuk menyebut mereka keras kepala, atau suka ngeyel.

Menghadapi anak yang suka ngeyel itu memang menantang. Nggak jarang, menstimulasi orang tua buat sering-sering mengurut dada. Pegel hati, bund! Tapiiii, itu biasanya terjadi karena kita nggak tahu cara yang tepat untuk menghadapi mereka.

Sadar atau tidak, kita sering menghadapi anak pakai template. Entah itu template yang sama dengan orang tua kita saat mengasuh kita dulu, atau template yang sama saat kita mengasuh sang adik yang tipe penurut, dan maksa menerapkannya pada sang kakak yang strong willed.

Tips menghadapi anak ngeyel

Sabar itu perlu, tapi belum cukup kalau nggak disertai cara berkomunikasi yang tepat dengan usia dan kepribadian anak. Nah, kalau memang anak mommies dirasa punya sifat strong willed, coba lakukan tips berikut, siapa tahu membantu membuat komunikasi dengan anak jadi lebih baik.

1. Ubah istilah dulu, dari ngeyel ke strong willed

Sebelum melabel anak ngeyel, yuk, ubah dulu istilahnya. Kita lagi menghadapi anak strong willed, bukan ngeyelan. Mengapa ini penting? Sebab ngeyel punya konotasi negatif. Nggak mau dibilangin, sulit diatur, membangkang, dan seterusnya. Kalau kita keburu ngecap anak dengan istilah negatif, orang tua jadi lebih mudah merasa kesal, frustrasi, sulit menerima sifat anak, dan lupa untuk melihat sisi positif anak. Sebaliknya, kalau kita mau ubah mindset bahwa sifat strong willed itu juga bisa berarti positif, kita jadi mampu buat mengarahkan anak menemukan kebaikan dari sifatnya.

2. Jangan buru-buru membantah perkataan anak

Anak yang berkemauan kuat punya seribu jawaban atas bantahan orang tua. Mereka siap beradu argumen. Jadi, tutup peluang itu. Sebaliknya, dengarkan cerita mereka terlebih dahulu, bangun percakapan alih-alih pertengkaran. Ketika kita menunjukkan sikap siap untuk mendengarkan mereka, itu memperbesar kemungkinan mereka bersedia mendengarkan apa yang kita katakan juga. Sebenarnya simpel (kalau kita lagi waras, hahaha!).

3. Bangun hubungan, hindari memaksa

Tanpa disadari, kita sering memaksa anak untuk mengerjakan sesuatu saklek sesuai jadwal. Memang sih, tujuannya agar disiplin. Namun, jika hubungan dengan anak masih berasaskan “anak wajib mematuhi segala apa yang orang tua tetapkan”, anak sulit merasakan hubungan yang hangat dengan orang tua. Mereka akan lebih mudah untuk memberontak saat merasa dipaksa melakukan yang mereka belum mau lakukan. Saat ingin meminta anak untuk berhenti nonton dan mengerjakan PR, cobalah menonton bersamanya sejenak, dan ikut nikmati apa yang ia tonton. Setelah itu, tawarkan apakah ia ingin mengerjakan PR sambil duduk bareng sambil mama lanjut kerja?

4. Tawarkan pilihan, bukan langsung memutuskan

Makna dari ngeyelnya anak bisa berarti bahwa mereka ingin melakukan sesuatu atas dasar keputusan mereka, bukan orang lain. Jadi, berikan mereka peluang untuk membuat keputusan dengan cara memberi pilihan. Mau mengerjakan PR jam 7 atau jam 8 malam? Mau makan siang pasta atau nasi goreng? Mau liburan ke pantai atau gunung? Batasi di dua pilihan agar anak tak bingung. Asah kemampuannya untuk jadi decision maker. Di balik kengeyelannya, biasanya ada jiwa pemimpin. Keren, kan?

Baca juga: 7 Kesalahan Orang Tua dalam Mengasuh Strong Willed Child

5. Ingat untuk berempati

Rupanya, pernah menjadi anak nggak membuat kita lebih mudah untuk mengerti sudut pandang anak. Kita lebih sering mengedepankan wewenang kita sebagai orang tua untuk meminta anak serta merta patuh. Saat anak nggak setuju, cobalah untuk memahami alasan di balik penolakan mereka. Jangan-jangan mereka menolak karena merasa nggak nyaman, takut, nggak suka? Sebaliknya, saat momimes terpaksa menolak permintaan mereka untuk berenang saat sedang sakit, tunjukkan empati saat mereka kecewa, dan katakan Anda bersedia untuk mengganti di hari lain jika sudah sehat. Pasti mereka nggak ngeyel lagi, melainkan balik berempati pada Anda.

6. Gunakan seni bernegosiasi

Larangan dan penolakan yang straight to the point bisa memunculkan tanduk si anak berkemauan keras seketika. Kesalnya di mereka, sama banget dengan kesalnya kita saat mereka menolak kita. Jadi, kalau mau melarang, susun dulu kalimat yang strategis. Ganti kalimat: “Pokoknya nggak boleh nonton YouTube hari ini!” dengan “Adik kemarin sudah dapat ekstra waktu screen time, lho. Kalau nonton lagi mata adik bisa lelah. Gimana kalau nontonnya besok saja?” Lebih panjang memang, namun dipercaya lebih ampuh menghindari terjadinya perbantahan.

7. Tetapkan aturan dan konsekuensi secara konsisten

Pendapat atau kemauan anak, walaupun keras, belum tentu selalu benar. Jadi, tetapkan batasan dan ekspektasi Anda pada anak. Tetap ajari anak untuk mematuhi aturan. Libatkan mereka dalam diskusi penetapan konsekuensi, dan jelaskan mengapa itu penting. Penerapan aturan dan konsekuensi juga bisa berfungsi sebagai kontrol untuk anak berkemauan keras.

Setelah ini dipraktikkan, semoga mommies lebih bisa menghadapi anak saat ngeyel. Yuk, bisa, yuk, tegas tanpa ngegas.

Sumber: 1