Now Reading
Riri Anggraheni: Berjuang Mengikis Stigma Tentang Kesehatan Mental

Riri Anggraheni: Berjuang Mengikis Stigma Tentang Kesehatan Mental

Berawal dari kenangan masa kecil dan pengalaman hidup, Riri Anggraheni berusaha untuk terus membantu banyak orang yang mengalami masalah kesehatan mental.

Riri Anggraheni Eka Rimandasari adalah sosok aktivitis kesehatan mental serta founder komunitas Peduli ODGJ Indonesia yang berdiri sejak September 2020 lalu, yang fokus membantu ODGJ dan masalah kesehatan mental di Indonesia.

Walau dirinya sibuk bekerja sebagai Ecommerce & CRM Manager di salah satu retail management company sambil menyelesaikan pendidikan double master’s degree untuk prodi magister manajemen dan magister hukum, wanita 27 tahun ini tetap aktif menjalankan misi Peduli ODGJ dengan menggelar penggalangan donasi, edukasi melalui webinar dan Live IG, event dan visit Panti ODGJ, serta partnership dengan komunitas lain.

Yuk, kenalan dengan sosok Riri Anggraheni lewat wawancaranya bersama Mommies Daily di bawah ini!

BACA JUGA: Mengenal Si Energy Vampire yang Membuat Kita Lelah Secara Mental

Apa tiga sifat atau sikap yang kamu suka dari seorang Riri Anggraheni?

1. Bold person. Teman-teman yang kenal baik dengan saya sudah paham watak saya yang suka bebas dalam bersikap, dare to speak up, dan punya prinsip yang kuat. Saya tidak takut untuk mengungkapkan dan mempertahankan yang saya yakini dan secara data atau fakta benar, bahkan kepada orang yang lebih punya power.

2. Strategic thinker. Dalam setiap aspek hidup, baik karir maupun personal life, saya bukan tipikal yang menunggu untuk diberitahu apa yang harus dilakukan. Saya tipikal sudah memikirkan dan explore sedemikian rupa masalah dan solusi, next steps, trying to figure out the next big thing, dan pastinya berani mengambil risiko.

3. Empathy. Orang tua saya memiliki empati yang tinggi dalam keadaan apapun, akhirnya saya tumbuh dengan sifat empati dan mampu memahami perasaan orang lain serta mampu menempatkan diri.

Apa pengalaman masa kecil yang membentuk kamu memiliki 3 hal tersebut?

riri anggraheni

Saya terlahir dari keluarga sederhana berlatar belakang pendidik yang sangat mengutamakan pendidikan, detail, dan perfectionist dalam segala hal. Mama orang yang sangat disiplin, tidak mau terlalu memanjakan, dan telaten.

Jadi sejak kecil saya sudah dilatih untuk bisa mengatasi masalah sendiri dengan menganalisanya, bagaimana bersikap, dan berani mengambil tindakan. Itulah yang akhirnya membuat saya memiliki kemampuan problem solving, analisis yang kuat, dan strategic thinker.

Saat usia 6 tahun saya sudah ditunjuk jadi tutor oleh wali kelas dan saya dibully, tidak hanya oleh teman-teman tapi juga orang tua murid. Saat itu orang tua saya berusaha memupuk kepercayaan diri dan mengajarkan saya berani mengambil sikap serta menghadapi masalah tersebut lewat sikap dan juga secara verbal.

Dulu ketika ada orang yang membutuhkan bantuan, mama dan papa selalu mengajarkan untuk setidaknya menyisihkan sebagian rezeki kita untuk mereka dan membisikkan ke telinga saya, “Belajar yang rajin, ya, supaya kalau kamu sukses nanti, kamu bisa rangkul mereka dan jadi berkat buat banyak orang, nduk!”

Ada buku atau film favorit tertentu yang mengubah cara pandang kamu terhadap suatu hal?

Saya suka baca jenis bacaan thriller dan self-development. Kalau thriller saya paling suka koleksi karyanya Sidney Sheldon, Conan Doyle, dan Dan Brown.

Sedangkan untuk buku jenis self-development, yang jadi favorit saya sekarang adalah How To Respect Myself karya Yoon Hong-Gyun. Buat saya buku ini membuka perspektif tentang kehidupan dan mendorong diri agar bisa memutuskan beragam hal tanpa terpengaruh stigma atau opini orang.

BACA JUGA: Cara Menjaga Kesehatan Mental Anak di Masa Pandemi, Jangan Diremehkan!

Apa pesan dari orang tua yang menjadi pegangan hidup kamu?

Pastinya orang tua sudah banyak memberikan nasihat tapi yang paling saya tanamkan dan menjadi pesan favorit dari mereka adalah, “Jadilah berkat bagi banyak orang jangan hanya sukses untuk diri sendiri dan libatkan Tuhan dalam setiap langkahmu.

Hal ini saya terapkan baik ketika bergabung organisasi sosial, dalam pekerjaan maupun saat membangun komunitas Peduli ODGJ Indonesia. Saya ingin bisa jadi berkat bagi banyak orang.

Apa alasan yang membuat kamu mendirikan organisasi Peduli ODGJ Indonesia?

Ketika saya masih SD, ada tetangga saya yang memiliki gangguan jiwa dan dipasung oleh keluarganya. Bukan takut atau ikut mengolok-olok seperti anak-anak lain, saya justru merasa empati karena dia tidak mendapat kepedulian dan kasih sayang, justru malah diolok-olok orang lain dan keluarganya malu sampai memasungnya.

Sejak saat itu saya bertekad untuk menjadi ahli kesehatan jiwa atau educator kesehatan. Dengan berbagai pertimbangan, alih-alih mengambil kedokteran, akhirnya saya mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat (public health) untuk pendidikan S1. Setidaknya saya pikir bisa menjadi penyuluh promosi kesehatan (promkes) dan punya yayasan sendiri.

Di masa kecil ada beberapa pengalaman traumatis yang membuat saya down dan mengganggu pola tidur serta fisik, secara berulang menghantui hingga saya dewasa. Akhirnya puncaknya di tahun 2020, saya memutuskan untuk ke psikiater dan saat itulah saya didiagnosa post-traumatic stress disorder (PTSD).

Pada September 2020 saya mengajak rekan saya, yang punya masalah serupa, untuk tidak hanya berkungkung dengan masalah sendiri tapi harus bergerak melakukan sesuatu. Sebab kalau kita hanya berfokus pada masalah diri sendiri dan meratap mungkin hanya jadi lingkaran setan yang tidak berpangkal. Namun ketika melakukan aksi, maka kita akan merangkul banyak orang, tidak merasa punya masalah sendiri lagi, dan bisa jadi berkat buat banyak orang.

Akhirnya saya dan teman membuat proyek sosial. Awalnya memang project donasi tapi karena kami berpikir ini untuk long-term akhirnya saya ajak buat komunitas. Dari situlah kami mulai membangun komunitas Peduli ODGJ. Kami sepakat pakai hastag #CureStigma dan #ShareKindness dengan visi ingin mengikis stigma terhadap ODGJ, mental illness, diskriminasi serta sekaligus menebarkan kebaikan.

Tantangannya tentu saja beragam, mulai dari bertanggung jawab memegang puluhan volunteer dengan berbagai latar belakang, sementara tim koordinator hanya tiga orang. Menggalang donasi dan mencari donatur juga tidak mudah karena sudah banyak yayasan atau komunitas yang menggalang dana. Masalah juga datang dari perbedaan opini dan cara kerja di teamwork dan banyak lainnya.

Namun saya anggap itu sebagai tantangan untuk berkembang. Dengan berangkat dari komunitas, saya berharap bisa mendirikan yayasan untuk membantu ODGJ, mengikis stigma kesehatan mental, semakin mengedukasi tentang kesehatan jiwa serta berkolaborasi dengan anak muda lainnya untuk membantu masalah mental illness.

Jika Riri memiliki anak, hal apa yang ingin kamu hindari sebagai seorang ibu?

Saya sadar banget pola asuh orang tua itu punya dampak besar pada psikis, pola pikir dan perkembangan anak. Saat jadi seorang ibu, hal yang ingin saya hindari adalah mengabaikan kebutuhan emosional anak dan terlalu fokus pada prestasi mereka.

Saya juga tidak akan menuntut anak untuk selalu berhasil. It’s okay to fail! Saya percaya setiap anak dibekali bakat dan potensi yang berbeda-beda. Mungkin di bidang akademis tidak terlalu menonjol, tetapi ketika dewasa, anak berhasil karena punya leadership skills dan soft skills lainnya.

Terakhir saya juga akan menghindari membuat anak merasa bersalah. Maksudnya saat emosi orang tua sering mengucapkan kalimat yang membuat anak merasa bersalah dan itu bisa mempengaruhi psikis mereka.

Saya tahu jadi orang tua itu tidak mudah. Saya juga suka gabung webinar, podcast, dan baca-baca buku parenting supaya jadi bekal di masa depan. Semoga banyak orang tua yang juga mau belajar tentang hal ini. Zaman juga sudah semakin berkembang dan memudahkan untuk mendapatkan banyak informasi.

BACA JUGA: Nutrisi yang Baik untuk Kesehatan Mental Anak

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top