Now Reading
Dini Ardi Wardini: Kita Tidak Sempurna, Being Vulnerable is Okay.

Dini Ardi Wardini: Kita Tidak Sempurna, Being Vulnerable is Okay.

Dhevita Wulandari
dini ardi wardini

Dari teknik lingkungan ke dunia kecantikan, Dini Ardi Wardini buktikan bisa berhasil jika kita stay in love dan bersungguh-sungguh dalam lakukan pekerjaan.

Kuliah jurusan teknik lingkungan dan akhirnya sukses sebagai ibu bekerja di salah satu perusahaan kecantikan terbesar di Indonesia, Dini Ardi Wardini ceritakan sempat mengalami pergumulan hingga akhirnya memutuskan mengejar dan bersungguh-sungguh dalam passion-nya.

Seperti apa perjalanannya hingga bisa ada di titik seperti sekarang? Berikut hasil ngobrol-ngobrol Mommies Daily dengan Dini Ardi Wardini.

Bagaimana awalnya bisa terjun ke dalam dunia bisnis dan kecantikan?

Sebenarnya ketika lulus kuliah, saya nggak ada kepikiran mau masuk ke dunia beauty. Karena saya kuliah jurusan teknik lingkungan di ITB (Institut Teknologi Bandung). Jadi waktu lulus itu saya lebih mencari passion-nya di mana. Selama kuliah, saya pikir passion saya yang sebenarnya lebih ke development product, bukan ke beauty-nya.

Pada saat kuliah, saya sempat mengenal Wardah di sebuah toko brand hijab yang dulunya lebih ke toko buku. Saat itu saya merasa, “Unik ya konsepnya dan halal”. Namun dulu menurut saya, penampilan product packaging-nya harus di-improve. Jadi ya sudah, sekadar lewat saja.

Dulu saya lihat ada iklan lowongan pekerjaan di koran. Ada iklan perusahaan, waktu dulu namanya masih PT Pusaka Tradisi Ibu dan ada logo Wardah. Nah, seketika saya langsung recall karena saya pernah lihat brand ini waktu saya masih mahasiswa tingkat 3.

Entah kenapa kemudian ada semacam ketertarikan, padahal perusahaan itu – Wardah – masih kecil dan belum sebesar sekarang. Akhirnya, pada saat yang bersamaan saya dipanggil Wardah, padahal saya juga sudah lolos 9 tahap di oil and gas. Saya juga sempat berpikir apakah kalau di Wardah ada karir dan sebagainya, sedangkan ketika itu oil and gas sedang naik dan banyak diminati karena gajinya yang selangit.

Tapi ketika saya datang ke kantornya, ada satu hal yang membuat saya jadi muncul idealisme dan nasionalisme. Rasanya waktu itu saya ingin membangun perusahaan ini. Sehingga akhirnya saya merelakan oil and gas. Saya ambil ambil resiko tersebut dengan kesungguhan bahwa saya akan all out di Wardah.

BACA JUGA: 7 Perusahaan Indonesia yang Menerapkan Kesetaraan Gender

Foto: Dok. Dini Ardi Wardini

​​Dengan besarnya tanggung jawab Bu Dini sebagai VP of Product Innovation and Development di PT Paragon Technology and Innovation yang menggarap beauty brand ternama di Indonesia seperti Wardah, Emina, Make Over, Kahf, dan Instaperfect, apa tantangan paling besar dalam menjadi seorang working mom?

Seringkali banyak orang bertanya mengenai balance, seperti bagaimana cara saya untuk menyeimbangkan dan mengatur waktu. Kuncinya adalah, kita sebagai perempuan perlu embrace bahwa kita tidak sempurna, being vulnerable is okay.

Kemudian, being sourceful. Kita harus tahu apa yang penting dan yang harus kita kerjakan. Kebetulan ibu saya juga wanita bekerja, beliau adalah seorang guru. Meski ibu saya guru, tapi ibu saya juga punya usaha. 

Jadi karena saya melihat sosok ibu saya yang seorang guru, tapi ketika pulang ke rumah masih tetap sibuk terus, seperti harus ada sesuatu yang harus dikerjakan. Namun meski begitu, saya tetap merasa ibu saya ada untuk saya.

Sebagai perempuan kita juga harus “find your strength”. Kekuatan kita ada di bagian mana dan tidak harus disamakan dengan orang lain. Harus ingat juga untuk “find your balance” , artinya balance setiap orang bisa berbeda-beda dengan orang lain. Dan tidak harus merasa bersalah. 

Saya cerita sedikit, saya punya dua anak, anak pertama laki-laki dan anak kedua perempuan. Anak saya yang pertama itu punya ataksia, di mana lubang telinganya tertutup. Walaupun pendengarnya tidak setajam yang normal, tapi anak saya tetap bisa dengar, dibantu juga dengan alat bantu dengar. 

Memang kondisi ini challenging karena ada masa-masa di mana saya sibuk sekali, misalnya ketika perusahaan sedang bertumbuh dan banyak kegiatan di dalam dan luar negeri. Sehingga di sinilah pentingnya find your balance dan adanya support system, misalnya keluarga, seperti suami, orangtua, kakak, adik, ipar, dan lain-lain. Saya juga bersyukur sekali rumahnya sangat berdekatan, jadi bisa menitipkan anak dengan percaya dan tenang ketika saya sibuk bekerja.

Saya juga di-support dengan asisten rumah tangga yang bisa diandalkan, karena Alhamdulillah asisten rumah tangga saya pada awet dan sudah lama bekerja dengan saya. Saya juga memperlakukan asisten rumah tangga seperti keluarga dan saya ajak mereka untuk bertumbuh, misalnya dengan baca buku. Sehingga anak saya yang kecil bisa belajar baca juga bersama asisten rumah tangga ketika saya sedang tidak di rumah. Namun ketika asisten rumah tangga membantu mengajarkan anak, saya pastikan dia sudah memiliki kualitas yang sesuai.

Nah, maksud saya di sini seperti peran kita sebagai orangtua bisa didistribusikan atau dibantu dengan support system ketika ibu sedang bekerja di luar rumah.

Foto: Instagram Dini Ardi Wardini

Bagaimanapun kondisinya, saya tetap bersyukur karena mungkin di luar sana masih banyak orangtua yang struggling untuk mengatur waktu antara pekerjaan, anak, dan keluarga. Sehingga penting sekali ada balance, di mana ada waktu kita sebagai orangtua bisa one on one dengan anak.

Saya sebagai orangtua juga terus belajar dalam kedekatan dengan anak. Bukan hanya bertanya soal “Sudah kerjakan PR atau belum?” atau “Sudah makan belum?”. Itu sebenarnya pertanyaan yang anak nggak pingin dengar. Jadi saya belajar, bagaimana untuk bisa menjadi orangtua yang lebih baik.

Kita juga harus recall masa kecil kita terlebih dulu. Cara yang diterapkan orangtua pada kita, belum tentu bisa kita terapkan sepenuhnya pada anak kita. Misalnya di masa lalu kita punya trauma yang terbawa hingga besar di alam bawah sadar. Di sinilah kita harus memutus rantai trauma tersebut. Jadi ketika kita melakukan parenting ke anak, kita tidak repeat atau mengulang hal yang kurang baik ke anak kita.

Mindful dan being in the moment dengan anak itu juga penting banget. Karena pasti nggak tahan untuk melihat handphone dan menjawab pekerjaan di WhatsApp.

Adakah tips ala Bu Dini yang biasanya berhasil untuk mengatasi burnout, baik karena pekerjaan maupun karena rutinitas keseharian?

Pada saat sudah merasa burnout, kita memang harus berhenti dulu. Berhentinya lebih ke arah reflection sejenak dan being in the moment with ourself. Kemudian lihat dan sambungkan lagi ke higher purpose, kita mengerjakan ini semua untuk apa. 

Jadi pada saat kita connect dengan self dan higher purpose-nya apa, kita jadi bisa mengatur dan memilah prioritas. Mana yang bisa ditunda, mana yang bisa didelegasikan.

Kalau sedang kelelahan juga kita butuh energi untuk ditambah. Semua orang punya source of energy yang berbeda, seperti halnya orang introver dan ekstrover yang punya cara masing-masing untuk menambah energinya.

Kalau saya, biasanya jalan kaki keluar rumah untuk reflecting, bisa sendiri atau dengan orang lain. Lalu, ada teman yang bisa diajak ngobrol, tapi bukan dengan topik di luar burnout yang saya rasakan, lebih ke ada orang yang bisa diajak bertukar pikiran. Kemudian, keluar rumah untuk exploring. Bisa ke mall atau ke taman, yang penting ke luar dan bisa refresh

BACA JUGA: 9 Alasan Punya Atasan Perempuan Itu Lebih Menyenangkan, Termasuk Lebih Berempati

Pesan dan dukungan dari Bu Dini untuk para Mommies yang ingin mewujudkan mimpi dan menjadi perempuan yang lebih berdaya?

Pertama, percayalah bahwa setiap manusia itu diberi potensi dan perannya masing-masing. Sadar atau tidak sadar, kita saat ini adalah bagian dari takdir yang dikasih kesempatan oleh Yang Di Atas, dengan peran yang berbeda-beda, lingkupnya juga berbeda-beda. 

Kalau saya melihatnya seperti amanah, berarti saya ditakdirkan seperti ini merupakan amanah dari Allah. Sehingga kita harus menjadi be the best version of ourself.

Jika nantinya peranan kita berubah, coba untuk menerima peran tersebut dengan lapang dada dan staying in love in it, walaupun pasti ada up and down.

Harus percaya kalau ini jalannya dari Allah dan berdoa. Percaya bahwa Allah tidak diam dan nantinya akan diberi kelapangan atau kemudahan. 

Being vulnerable is okay, karena setiap orang tidak sempurna. Ada orang yang merasa dia tidak mahir di bidang tertentu, ya tetap belajar aja sambil menerima bahwa kita juga butuh orang lain, boleh minta bantuan. Dan yang paling penting kita dan support system saling bertumbuh dan mendukung.

BACA JUGA: 6 Fitur Linkedin yang Bisa Dimanfaatkan Ibu Bekerja

Foto: Dok. Dini Ardi Wardini

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top