Now Reading
Hati-hati, Ini 4 Sebab Anak Menjauh dari Orang tua

Hati-hati, Ini 4 Sebab Anak Menjauh dari Orang tua

Dulu dekat banget, apa-apa maunya nempel, tapi sekarang malah anak menjauh dari kita. Cek 4 sebab anak menjauh dari orang tua, agar bisa segera diperbaiki.

Menurut Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S. Psi., Psikolog, wajar jika ada satu momen di masa pertumbuhan anak (biasanya dimulai di usia sekolah dasar), mereka menjaga jarak dari orang tua. Tapi, ada pula penyebab lain yang harus dihindari, agar jarak di antara anak dan orang tua dapat dimininamlkan.

Baca juga: Orang tua Jangan Terlalu Sering Mengatakan Kata Mungkin ke Anak

Apa penyebab anak mulai punya rahasia dan menjaga jarak?

“Biasanya ini terjadi karena hal-hal normal seperti dia mulai tahu bahwa ada hal-hal yang tidak perlu atau orang tuanya tidak boleh tahu, takut dimarahi atau dilarang, atau anak mulai menemukan pihak lain yang lebih enak diajak bicara atau lebih “nyambung”. Pihak yang dianggap lebih bisa menerima dirinya (biasanya ini teman yang ditemui secara nyata atau teman online) atau karena anak merasa orangtua kurang mendengarkan dan tidak bisa memahami mereka,” jelas Vera.

Kekeliruan pengasuhan apa saja yang bisa bikin anak menjauh dari orang tua?

Photo by Redd on Unsplash

• Hyper-parenting

Sebagai orang tua, Anda memang hanya menginginkan yang terbaik untuk anak, tetapi ketika antusiasme ini berlebihan, kita pun mulai menjadi hyper parenting yaitu pola pengasuhan yang terlalu terlibat, terlalu protektif, dan memanjakan sehingga membahayakan perkembangan sosial anak dan memengaruhi tingkat kepercayaan diri mereka. Selain berdampak negatif pada cara mereka belajar dan berkembang, hal itu justru dapat menjauhkan anak dari orang tua.

• Reaksi berlebihan terhadap kesalahan kecil

Memiliki aturan itu penting tetapi terlalu banyak aturan yang tidak masuk akal dapat menyebabkan keretakan dalam hubungan orang tua-anak. Reaksi berlebihan yang terus-menerus terhadap kesalahan kecil hanya akan menyebabkan anak mengabaikan Anda sepenuhnya.

• Minim menghabiskan waktu berkualitas

Menurut penelitian, kualitas waktu yang dihabiskan bersama seorang anak lebih efektif daripada kuantitasnya. Ikatan orang tua dengan anak sangat dalam ketika mereka secara aktif terlibat dalam kegiatan bersama. Menjadi terlalu hadir atau terlalu sibuk juga dapat menjauhkan anak-anak dari orang tua mereka.

• Mengajukan ancaman kosong

“Mama akan pergi dari rumah kalau kamu nggak bisa dikasih tahu!” Berhati-hatilah dengan ucapan. Kata-kata yang salah akan berdampak negatif pada perkembangan anak. Ingat, seorang anak mengharapkan cinta dan perlindungan dari Anda, dan mengancam untuk meninggalkannya hanya akan menanamkan rasa takut dan perlahan ia akan mulai tidak mempercayai orang tuanya jika terlalu sering menerima ancaman.

Tips melewati masa-masa rawan dengan aman

Selalu ada cinta

Mereka membutuhkan cinta, jadi tetaplah dekat dengan anak-anak. Mereka menginginkan dan membutuhkan Mommies terlibat dalam kehidupan mereka, bahkan jika mereka bertindak seolah-olah tidak butuh Anda. Terlibat tidak berarti terus-menerus memberi tahu mereka apa yang harus dilakukan. Inilah saatnya hubungan orang tua dan remaja menjadi kurang otoriter dan lebih egaliter. Jika Si Remaja merasa Mommies terus-menerus mendikte, protes, dan mengoreksi, mereka bakal sebal.

Bicara dari hati ke hati

Vera menyarankan agar orang tua perlu menjaga komunikasi dengan anak sejak dini. Biasakan menghabiskan waktu bersama untuk sekadar ngobrol santai tentang segala hal. Mommies juga perlu terus meng-update informasi terkini agar bisa dijadikan bahan obrolan seru bersama anak-anak.

Anak remaja masih perlu merasa bahwa mereka dicintai. Penelitian menunjukkan bahwa remaja mampu mengatasi gejolak di tahun-tahun sulit kehidupan mereka ketika orang tua meluangkan waktu untuk mendengarkan dan ngobrol. Ciptakan kesempatan untuk berkomunikasi, seperti waktu makan keluarga atau berkendara ke sekolah.

Terapkan batasan

Tidak ada remaja yang senang dibatasi, tetapi batasan membuat mereka tetap aman. Orang tua sebaiknya berhati-hati untuk menetapkan batas-batas yang masuk akal dan dengan cara nggak kentara. Ciptakan batasan yang alami dan realistis, dengar masukan mereka, sehingga anak-anak merasa aman namun tetap punya ruang yang dibutuhkan untuk mandiri. Orang tua wajib tegas dan konsisten dengan aturan dan batasan yang sudah disepakati. Itu semua demi kemananan dan kenyamanan anak.

Mommies perlu cermat mengamati suasana hati mereka, mengenal teman-temannya, dan memperhatikan bagaimana mereka belajar dan bersosialisasi di sekolah dan lingkungan. “Terapkan disiplin positif (bukan otoriter) sehingga hubungan orang tua dan anak bukan didasari rasa takut, yang mendorong anak menjauh dan berbohong,” saran Vera.

Lambat bicara dan cepat mendengar

Vera mengingatkan cenderung marah, mengkritik atau memborbardir dengan nasihat saat anak melakukan kesalahan malah bisa bikin anak takut dan menjauh, “Buat anak merasa didengarkan, diterima, dan dipahami. Tahan diri untuk segera memberikan nasihat saat anak sedang bercerita.”

Tertawa dan bersenang-senang

Anak butuh tertawa, jadi bersenang-senanglah bersama, sesering yang Anda bisa! Salah satu cara terbaik untuk mengembangkan hubungan antara orang tua dengan anak saat ia tumbuh adalah dengan menemukan kesamaan minat. Temukan aktivitas yang kalian sukai dan lakukan bersama. Ini memungkinkan Anda mengenal anak remaja dengan cara yang baru, dan sama pentingnya, memungkinkan anak remaja Anda mengenal Anda dengan sudut pandang baru dan berbeda.

Orang dewasa yang bisa dipercaya

Karena ada kalanya anak remaja merasa tidak nyaman cerita masalah tertentu kepada orang tua mereka, pastikan ada orang dewasa lain (anggota kelauarga Mommies atau suami) yang dapat dipercaya dan diandalkan oleh anak-anak sebagai tempat curhat.

Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top