banner-detik
PARENTING & KIDS

Alasan Orang Tua Perlu Menghindari Kata 'Mungkin' Saat Bicara Pada Anak

author

Katharina Menge11 Apr 2022

Alasan Orang Tua Perlu Menghindari Kata 'Mungkin' Saat Bicara Pada Anak

Selain kata ‘jangan’, ternyata orang tua juga perlu menghindari penggunaan kata ‘mungkin’ pada anak saat berbicara. Ini alasannya!

Dalam tumbuh kembangnya anak akan sering bertanya dan membuat permintaan kepada orang tua untuk melakukan sesuatu. Beberapa permintaan mungkin bisa Anda setujui dengan mudah dan ada juga yang bisa segera ditolak. Namun apa jadinya kalau permintaan anak cukup rumit untuk dijawab?

Contohnya ketika anak mengajak jalan-jalan di akhir pekan tapi jadwal kerja Anda tidak menentu. Karena tidak ingin langsung menolak dan membuat anak kecewa, Anda menjawab, “mungkin bisa tapi kalau mama tidak ada pekerjaan.” Tentu saja ada banyak contoh lainnya yang serupa.

Sering kali, orang tua menggunakan kata “mungkin” karena mereka ingin menghindari konsekuensi langsung dari mengatakan “tidak”. Lagi pula, memberi tahu anak bahwa akhir pekan Anda harus kerja dan kembali meninggalkan dia bisa menyebabkan kekecewaan dan berpotensi membuat anak cranky.

Orang tua lain mungkin hanya ingin menunda perasaan bersalah karena menolak permintaan anak. Sedangkan orang tua lain mungkin benar-benar tidak yakin tentang jawaban mereka dan membutuhkan waktu atau informasi yang jelas. Dalam semua keadaan ini, sangat rasional untuk berpikir bahwa menunda keputusan dengan memberikan jawaban tanpa komitmen dalam bentuk kata “mungkin” adalah langkah terbaik.

Walau bisa mengatasi segala permintaan anak dan rasa bersalah Anda, tetapi hal itu justru punya efek buruk pada anak. Anak yang terbiasa mendapat jawaban “mungkin,” “kita lihat nanti,” dan kalimat penundaan lainnya akan dihadapkan pada ketidakpastian.

Ketika mereka menunggu di tengah ketidakpastian tersebut, anak mengisinya dengan membayangkan berbagai hal. Baik dan buruknya hal yang dibayangkan anak pun tergantung pada pengalaman dan kondisi emosional mereka. Jika diberi jawaban menggantung dan sering kecewakan, anak akan menunggu hari dimana dia menerima berita buruk dan dikecewakan lagi.

Sedangkan pada anak yang optimis, mereka memupuk impian dan bayangan indah kegiatannya Anda, yang kemudian harus hancur saat mendapat penolakan.

BACA JUGA: Tips Co-parenting dari 8 Selebritis Ini Patut dicontoh!

Efek Sering Mengatakan “Mungkin” Pada Anak

Kebiasaan mengatakan “mungkin” yang diakhiri dengan “tidak” pada permintaan anak bisa memberi mereka serangkaian pengalaman tidak menyenangkan. Pada akhirnya kebiasaan tersebut bisa mengikis rasa percaya anak pada sosok orang tuanya.

Tak hanya itu, Kata “mungkin” dapat diartikan oleh anak bahwa batasan ini bisa “ditawar” atau dilanggar. Itu karena ketidakpastian membuat anak berpikir ia dapat mengambil keputusan sendiri. Contohnya ketika Anda bilang anak “mungkin boleh main gadget” maka mereka akan memilih untuk main gadget. Itu karena mereka berpikir ada 50 persen kemungkinan pilihannya benar. Lalu bagaimana ketika dimarahi? Toh, anak sudah sempat mencoba main gadget jadi tak masalah bagi mereka.

Tips Menjawab Permintaan Anak

Daripada memberi jawaban “mungkin” yang penuh ketidakpastian, Anda bisa mencoba tips berikut untuk menjawab aneka permintaan anak.

1. Tanggapi dari cara anak meminta

Saat anak meminta dengan sopan, puji dulu dia karena sudah menggunakan kata-kata yang baik dan santun. Ini akan mengirimkan sinyal padanya bahwa anda akan selalu mempertimbangkan permintaannya atau menghargai permintaannya jika dia menggunakan cara tersebut, meskipun Anda belum tentu mengabulkan permintaannya.

2. Dengarkan dengan seksama

Luangkan waktu untuk fokus memahami apa yang diminta anak. Tunjukkan bahwa Anda telah mendengar dan memahami apa yang dia minta, dengan begitu anak akan bisa menerima jawaban Anda. Ini juga membantu menunjukkan empati, meskipun Anda belum tentu mengabulkan permintaannya.

3. Ambil jeda dan putuskan

Minta jeda singkat pada anak untuk Anda memikirkan permintaannya, tetapi berikan waktu yang jelas kapan jawabannya akan diberikan. Hal ini memberikan pesan pada anak bahwa Anda memikirkan dan mempertimbangkan permintaannya. Coba tanya pada diri sendiri, apakah anak boleh diberikan izin? Jika tidak bisakah bernegosiasi dengan anak?

4. Berikan alasan

Ketika hendak menolak permintaan anak, pastikan untuk menjelaskan alasannya dulu. Ini akan membantu anak untuk lebih memahami keputusan Anda. Jangan lupa untuk berempati terhadap rasa kecewa anak. Katakan, “Iya mama/papa tahu kamu kecewa karena tidak dapat yang kamu mau saat ini… “ lalu dampingi anak melewati perasaan tidak nyamannya saat itu.

5. Lakukan negosiasi

Ketika anak sudah cukup besar, pasti anak-anak sudah mampu untuk bernegosiasi. Ketika permintaannya tidak bisa Anda penuhi, mereka akan mencoba berbagai skenario supaya bisa mendapatkan apa yang diinginkan, termasuk mengikuti kemauan Anda. Di sinilah Anda bisa melakukan negosiasi dan berkompromi dengan anak.

Artikel ini direview oleh Belinda Agustya,M.Psi., Psikolog

BACA JUGA: 7 Dosa Orang Tua Pada Anak yang Sering Dilakukan Tanpa Sadar

Cover: Freepik

Share Article

author

Katharina Menge

-


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan