banner-detik
#MOMMIESWORKINGIT

Suara Para Anak dari Ibu Bekerja, Ternyata Penuh Rasa Bangga

author

Katharina Menge24 Jan 2022

Suara Para Anak dari Ibu Bekerja, Ternyata Penuh Rasa Bangga

Coba dengarkan curhatan para anak ibu bekerja yang sehari-hari harus rela perhatiannya terbagi dengan pekerjaan orang tua.

Satu hal utama yang harus pintar diatur oleh para ibu bekerja, baik di kantor atau usaha rumahan, adalah membagi waktu. Hal itu supaya keluarga, terutama anak-anak, terpenuhi kebutuhan, perhatian, dan kasih sayang dari sang ibu.

Kalau biasanya dibahas dari sisi para ibu bekerja, kali ini Mommies Daily ingin membahas dari sisi para anak yang ibunya merupakan ibu bekerja. Apa yang mereka lihat dan rasakan setiap hari kala melihat kesibukan sang ibu. Lalu apakah yang dilakukan ibu mereka yang bekerja itu memengaruhi sudut pandang mereka? Lalu apa saja pelajaran yang mereka ambil dari situ?

BACA JUGA: Ibu Bekerja Usia 35 Tahunan, Nggak Perlu Insecure Kalau Mau Pindah Kerja

Suara Hari Para Anak dari Ibu Bekerja

Ini kisah beberapa sosok anak yang ibunya aktif bekerja. Siap-siap dengarkan curahan hati mereka!

1. Kagum dengan konsistensi ibu bekerja

Kayla Nugroho, Pelajar (16 tahun)

ibu bekerja

Hal yang aku pelajari dari ibu aku yang bekerja adalah tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan hidup yang terkadang terasa sulit untuk dihadapi. Misalnya ketika mau meeting online tapi koneksi internetnya bermasalah. Saat itu juga ibu itu langsung mencari jalan keluarnya secepat mungkin. Biasanya yang beliau lakukan itu langsung ambil kunci mobil lalu pindah kerja dari kafe di Citos yang menyediakan fasilitas free wi-fi.

Selain itu, ibu juga selalu bangun pagi dan semangat berolahraga pagi-pagi. Ibu itu biasa punya rutinitas yang sama setiap hari. Bangun jam 6.30, lalu olahraga hingga jam 8 pagi, setelah itu dia mandi, dan baru mulai meeting pagi. Kecuali kalau ada meeting dadakan di bawah jam 8, semua rutinitas pagi ibu pasti sama.

Untuk urusan bersih-bersih rumah ibu biasa dibantu oleh ART PP. Namun, ibu juga turun tangan untuk mengurus rumah, seperti cuci baju dan merapikan rumah serta barang-barang yang letaknya suka tidak pada tempatnya.

Melihat aktivitas harian ibu di rumah dan semangatnya bekerja, sekarang ini aku jadi belajar untuk tidak mudah menyerah saat mengerjakan tugas sekolah yang terus datang, dan juga kesulitan dalam menjalani sekolah online selama 1,5 tahun kemarin.

2. Belajar jadi wanita tangguh dari ibu

Mondials, Karyawan Swasta (32 Tahun)

Ada banyak hal pelajaran hidup yang saya dapat dari sosok mami sebagai ibu bekerja. Pertama adalah kemandiriannya. Dari kecil saya diajarkan untuk bisa mandiri dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Mami sampai membuat jadwal yang ditempel di beberapa sudut rumah. Isinya itu kegiatan apa aja yang harus kami lakukan setelah pulang sekolah.

Semakin besar mami selalu ingatkan untuk tidak boleh bergantung sama siapa pun, terlebih dalam aspek materi. Semua kebutuhan saya sudah harus bisa dipenuhi sendiri. Walaupun nantinya saya menikah dan punya keluarga, sebisa mungkin saya harus tetap bisa bekerja atau berkarya memiliki penghasilan sendiri.

Mami juga sosok yang tangguh dan sabar. Tidak hanya jadi ibu rumah tangga, mami juga ibu bekerja yang punya karir bagus di dunia pariwisata, khususnya perusahaan maskapai, sampai akhirnya pensiun. Kehidupan mami sempat diuji, mami dan papi memutuskan untuk berpisah tapi tidak bercerai.

Mami harus menjadi ibu rumah tangga mengurus tiga anak, di sisi lain tanggung jawab pekerjaan juga menanti. The struggle is real. Setiap hari saya melihat mami bangun subuh mempersiapkan anak-anak sekolah, bekerja, dan sampai rumah masih bisa mengecek tugas sekolah anak-anaknya. Bertahun-tahun melihat hal itu saya cukup sedih tapi di sisi lain bangga karena punya mami yang sangat tangguh, tidak pernah mengeluh, bahkan menangis.

Walau udah berpisah, hubungan sama papi masih baik. Di tahun 2008 papi sakit, dan mami adalah salah satu orang yang sibuk setiap hari mengurus papi. Juggling antara mengurus papi sakit, mengurus anak-anak, dan bekerja. Well, its not easy sampai akhirnya papi menyerah dan kembali ke pelukan Tuhan. Mami selalu sabar, menerima, dan tetap bersyukur dengan semua apa yang terjadi di hidupnya. She’s strong and a hell patient woman!

Tentu aja jalan kehidupan mami yang seperti itu sangat berpengaruh buat saya. Saya jadi belajar untuk bisa lebih sabar menghadapi hidup, tetap bersyukur apapun kejadian yang di dunia ini, dan jangan mudah menyerah!

3. Ibu bekerja sosok yang berdedikasi

Mentari Desriani, Mahasiswa (20 tahun)

Saya belajar banyak dari ibu. Beliau sosok yang tangguh dan pekerja keras. Sia selalu melakukan upaya apapun untuk membahagiakan anaknya. Hal terpenting yang saya pelajari dari dia adalah apapun pekerjaan itu yang pertama harus kita lakukan adalah mencintai pekerjaan tersebut.

Ibu seorang guru Bahasa Indonesia di salah satu SD Negeri di Prabumulih, Palembang. Tidak hanya seorang guru, beliau juga diberi tanggung jawab sebagai wali kelas. Ibu punya jadwal yang padat setiap hari. Dari pagi dia mengajar, lalu pulang ke rumah jam tiga sore untuk istirahat sebentar. Sorenya beliau kembali mengajar anak-anak mengaji di PAUD dekat rumah sampai sebelum maghrib.

Ibu itu selalu tulus mengajar dengan sepenuh hati. Bahkan dulu karena ibu terlalu dekat dengan murid-muridnya, saya sering iri sama mereka karena sering dapat perhatian lebih. Namun, semakin kesini saya semakin paham bahwa itu adalah pekerjaan beliau. Dari situ saya belajar kalau sebuah pekerjaan itu harus dilakukan sepenuh hati, kita tidak pelit menularan ilmu, harus selalu teliti, dan cekatan membagi waktu.

Sekarang saya mengenyam pendidikan di salah satu universitas di Palembang dan mengambil jurusan Matematika FMIPA. Meski tidak berniat menjadi guru, tetapi sifat ibu yang suka mengayomi anak-anak mengular ke saya. Saya juga sering diminta mengajar anak-anak di PAUD dekat rumah. Kemampuan mengajar itu saya pelajari sendiri dengan melihat sosok ibu.

Saya juga belajar dari ibu cara bagi waktu antara kapan ngurus rumah da kapan bekerja, lalu bagaimana caranya supaya anak dan suami tidak terlantar karena pekerjaan, contohnya dengan membuat list kegiatan sehari-hari. Ibu itu bangun jam 3 atau 4 pagi untuk mempersiapkan sarapan dan setelah itu baru pergi bekerja.

BACA JUGA: Untuk Ibu Bekerja yang Bekerja Karena Sebuah Keharusan

4. Perempuan bisa bekerja jadi apa saja

Petrus Agung, Karyawan Swasta (23 tahun)

Mama saya bekerja sebagai penjahit. Sejak kecil, bahkan sampai sekarang, beliau masih aktif menerima jahitan dari langganan atau tetangga sekitar rumah. Sewaktu kecil, mama menjahit untuk membantu mencukupi keuangan keluarga kami. Kalau boleh jujur, double income yang dihasilkan oleh mama punya peran bagi dana pendidikan saya dan kakak-kakak hingga akhirnya lulus kuliah.

Namun, setelah ketiga anaknya besar dan bekerja semua, mama menjahit lebih karena dia ingin memiliki aktivitas, ditambah hasil jahitannya bisa memberikan dia pendapatan sendiri sehingga dia tidak merasa terlalu mengandalkan anak-anaknya untuk masalah finansial.

Dulu, mama selalu bekerja dari pagi sampai malam. Namun mama tidak pernah lupa mempersiapkan kebutuhan keluarga, mulai dari makanan, pakaian, hingga semua keperluan saya dan kakak-kakak. Mungkin itu adalah satu keuntungan beliau bekerja di rumah. Sekarang pun setiap kali saya dan kakak-kakak berangkat kerja, dia selalu menanyakan apa kami mau bawa bekal makanan ke kantor dan tak segan mempersiapkannya.

Dari sosok mama saya belajar bahwa wanita itu bisa melakukan banyak hal dan itu sangat luar biasa. Hal itu membuat saya melihat perempuan lainnya di luar sana dengan pandangan serupa. Mereka bisa menjadi apapun yang mereka inginkan. Apakah mau jadi ibu rumah tangga full time, wanita karier, pengusaha, atau berkarya di bidang lainnya. Semua itu tidak akan mengurangi nilai mereka sebagai seorang ibu atau istri di rumah.

5. Ibu jadi tulang punggung

Andiasti Ajani, Karyawan Swasta (30 tahun)

ibu bekerja

Ibu saya kerja di perusahaan minyak dari tahun 1996 sampai pensiun tahun 2020 lalu. Karena ibu kerja, saya jadi terbiasa tidak ada ibu di rumah. Saya tidak merasa cranky, tidak mencari dia, bahkan saat sakit yang saya cari justru mbak ART. Mengingat bokap juga kerja, saya sama adik-adik secara otomatis jadi anak mbak.

Karena itulah saya merasa tumbuh tanpa hubungan emosional dengan kedua orang tua. Sampai pernah ada masanya saya berpikir, jika ayah atau ibu meninggal kira-kira saya akan menangis tidak, ya? Namun di tahun 2020 kemarin, tiba-tiba hubungan saya dan ibu jadi berbalik 180 derajat. Kita jadi makin dekat dan sering mengobrol karena pandemi. Mengingat saya di rumah karena WFH dan jadi sering berdua ibu.

Dari obrolan-obrolan yang terjadi itu akhirnya saya tahu kalau selama ini ibu bisa dibilang tulang punggung keluarga. Bapak punya bisnis tapi ibarat jalanan, bisnisnya banyak lubangnya. Jadi, ibu yang tutupin. Lalu semenjak saya tahu fakta itu, saya jadi berpikir, mungkin sebenarnya ibu juga sedih saat harus meninggalkan anaknya sama mbak di rumah sampai tidak punya ikatan emosional dengan kami. Mungkin dia juga sedih kalo melihat saya dan adik-adik lebih loyal ke teman-teman daripada ke dia, tetapi di sisi lain dia juga mungkin paham kenapa anak-anaknya seperti itu.

Itulah yang membuat saya salut banget dengan para ibu bekerja. Karena saya bermikir apa yang dialami oleh ibu, mungkin bisa jadi mereka alami juga. Di sisi lain mereka sedih harus meninggalkan anak-anaknya ke mbak. Tapi di sisi lain mereka mungkin nggak punya pilihan karena harus support suami juga secara finansial. Dari situ saya belajar nantinya untuk bisa lebih membagi waktu ketika jadi ibu bekerja nanti. Supaya anak-anak saya tetap bisa dekat dan memiliki ikatan emosional dengan saya.

BACA JUGA: Pesan Awal Tahun Untuk Ibu Bekerja

Cover: Pexels

Share Article

author

Katharina Menge

-


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan