Now Reading
Wajib Tahu, Fakta Lengkap Tentang Kesehatan Ibu dan Anak Kelahiran Prematur

Wajib Tahu, Fakta Lengkap Tentang Kesehatan Ibu dan Anak Kelahiran Prematur

Kelahiran prematur atau yang yang kurang dari 37 minggu memberikan pengaruh kepada ibu dan bayi. Berikut fakta lengkap tentang kelahiran prematur yang harus diketahui para orang tua. 

Semakin pendek masa kehamilan, maka makin besar risiko kesehatan yang dialami oleh sang ibu dan bayinya. Mungkin Mommies tidak asing lagi dengan istilah prematur atau preterm—ini merupakan kondisi di mana anak lahir di bawah minggu ke-37 atau lebih awal dari perkiraan tanggal. Bayi yang lahir secara prematur lebih rentan memiliki masalah kesehatan serius dan itu bisa berlangsung hingga jangka panjang.

Tidak hanya anak, kesehatan ibu juga bisa terdampak, baik dari segi fisik maupun mental. Oleh sebab itu, keduanya perlu mendapatkan perhatian lebih untuk menghindari hal-hal mengancam yang tidak diinginkan. Ini perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai tantangan dan penanganan kesehatan kelahiran prematur bagi Ibu dan Si Kecil.

BACA JUGA: Tanda-tanda Melahirkan yang Harus Diperhatikan Calon Ibu

Berikut fakta kesehatan ibu dan anak kelahiran prematur, berdasarkan keterangan Dr. dr. Rima Irwinda, Sp.OG(K), Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal dan Dr. dr. Putri Maharani TM, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Neonatologi, dalam acara Bicara Gizi yang mengangkat tema Tantangan dan Penanganan Kesehatan bagi Ibu dan Anak Kelahiran Prematur yang diselenggarakan Danone Specialized Nutrition Indonesia (Danone SN Indonesia).

1. Angka prematur di dunia

Menurut riset dari organisasi kesehatan dunia (WHO), 1 dari 10 anak lahir prematur. Setiap tahun diperkirakan 15 juta anak di seluruh dunia lahir sebelum waktunya (lebih dari 3 minggu sebelumnya). Dan lebih dari satu juta anak di berbagai negara meninggal akibat prematur setiap tahunnya.

2. Indonesia menempati peringkat kelima

Indonesia masuk ke dalam daftar negara yang 60% berkontribusi pada kelahiran prematur di dunia. Data dari 2010 menunjukkan bahwa negara kita ini menempati posisi kelima dengan 675.700 kelahiran preterm setiap tahunnya.

Sementara itu, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2019 menunjukkan bahwa 84% kematian pada anak yang baru lahir di Indonesia disebabkan oleh kelahiran prematur.

3. Tipe kelahiran prematur

Para obgyn biasanya menentukan apakah bayi preterm atau tidak dilihat dari usia kehamilan, yaitu kurang dari 37 minggu. “Jadi yang kami katakan cukup bulan itu lebih dari 37 minggu, sedangkan di bawahnya kita sebut preterm,” kata dr. Rima.

Preterm sendiri kemudian dibagi kembali sesuai dengan lamanya usia kehamilan. Late preterm terjadi pada kehamilan 34-36 minggu, moderately preterm 32-34 minggu, very preterm kurang dari 32 minggu, dan extremely preterm kurang dari 25 minggu.

“Semakin kecil usia melahirkan, kemungkinan untuk komplikasi akan semakin besar. Jadi untuk very preterm dan extremely preterm adalah yang paling rentan,” kata dr. Rima.

4. Gejala kelahiran preterm

Sebenarnya, gejalanya sama dengan ibu yang melahirkan cukup bulan, yaitu ada kontraksi, mules, dan sudah mulai ada pembukaan mulut rahim atau serviks yang ditandai dengan flek atau ketuban pecah. Namun, waktu timbulnya gejala tersebut yang berbeda. Pada kelahiran nonprematur, biasanya gejala tadi terjadi setelah kehamilan berusia 37 minggu.

5. Faktor risiko

Ada beberapa faktor yang menyebabkan ibu mengalami kelahiran preterm. Beberapa kondisi ini dapat dimodifikasi (dapat dicegah), sementara yang lainnya tidak.

Dapat dimodifikasi:

  • Konsumsi obat-obatan, rokok dan alkohol
  • Jarak kehamilan pendek (kurang dari 18 bulan)
  • Anemia
  • Infeksi saluran kemih
  • Infeksi genital
  • Penyakit periodontal
  • Kekurangan nutrisi
  • Stres

Tidak dapat dimodifikasi:

  • Usia (kurang dari 20 tahun dan lebih dari 40 tahun)
  • Ras
  • Riwayat kelahiran preterm
  • Status sosial ekonomi rendah
  • Kelainan pada uterus atau serviks
  • Overdistensi uterus (cairan ketuban berlebihan, kehamilan multipel)

BACA JUGA: Untuk Pasangan yang Sedang Menanti Kelahiran Bayi Untuk Pertama Kali

6. Efek samping yang bisa muncul pada bayi preterm

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, persalinan di bawah 37 minggu dapat membahayakan kesehatan anak, baik jangka pendek dan jangka panjang. Berikut di antaranya:

Efek jangka pendek (beberapa waktu setelah kelahiran):

  • Gangguan pernapasan
  • Masalah minum (necrotizing enterocolitis)
  • Pendarahan intraventrikular (pendarahan di kepala)
  • Aliran darah jantung abnormal
  • Sepsis atau risiko infeksi

Dr. Rima mengatakan, bayi yang lahir prematur biasanya akan ditempatkan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) untuk menghindari risiko tersebut. Banyak bayi yang tidak bisa bertahan dalam kondisi ini dan akhirnya meninggal dunia. Sementara itu, bayi yang sudah sehat, bisa langsung dibawa pulang oleh orang tuanya. Namun, dr. Rima mengingatkan, meskipun anak prematur berhasil keluar dari NICU, masih ada efek samping yang menghantui mereka di masa mendatang.

Efek jangka panjang:

  • Masalah pernapasan yang terbawa hingga dewasa
  • Cerebral palsy
  • Perkembangan terhambat
  • Gangguan penglihatan dan pendengaran
  • Gangguan belajar
  • Risiko gagal jantung
  • Risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan kanker lebih tinggi
  • Alergi

7. Dampak kelahiran prematur pada ibu

Efek kelahiran prematur juga bisa dirasakan oleh sang ibu. Mereka biasanya mengalami hal berikut:

  • Kecemasan
  • Postpartum depression
  • Posttraumatic stress
  • Masalah bonding dengan bayinya

Peran keluarga sangat dibutuhkan ibu yang mengalami kelahiran preterm. Sebaiknya kita menenangkan mereka karena sang ibu kerap merasa tertekan dan merasa bersalah karena bayinya harus lahir lebih dulu dibanding jadwal. Mereka juga bisa stres saat  mengetahui anaknya harus berdiam di NICU dan menggunakan banyak alat tambahan di tubuhnya.

Tidak hanya dari kesehatan mental, risiko kematian ibu dengan kelahiran prematur, juga lebih tinggi dibandingkan mereka yang melakukan persalinan cukup bulan. Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang mengalami kelahiran preterm kemungkinan besar akan mengalami masalah kardiovaskular, diabetes, kanker, dan sebagainya.

8. Menangani bayi prematur

Dr. Putri mengatakan, merawat bayi prematur bukan hanya untuk meningkatkan angka harapan hidup saja, tetapi juga memastikan agar mereka memiliki kualitas hidup yang baik sampai dewasa. Oleh sebab itu,  penanganannya sudah harus mulai dilakukan sejak dini.

“Penanganan di awal kelahiran sangat menentukan masa depan bayi,” ungkap dr. Putri.

Berikut yang bisa Mommies lakukan:

  • Pilih pusat kesehatan yang sesuai dengan kondisi janin yang akan dilahirkan. Misalkan, Mommies sudah mengetahui bahwa anak kemungkinan akan membutuhkan NICU, maka pilih tempat bersalin yang memang memiliki fasilitas tersebut.
  • Melakukan screening pada bayi prematur (termasuk pemeriksaan mata, pendengaran, tekanan darah, dan sebagainya). Konsultasikan kepada dokter anak membutuhkan screening apa saja.
  • Pastikan rumah sakit yang dipilih mampu memberikan pelayanan yang optimal
  • Masalah atau gangguan kesehatan yang dialami bayi prematur di awal kehidupan harus dirawat dengan baik. Ini menurunkan risiko efek jangka panjang yang akan dialami anak.
  • Rutin kontrol sangat penting untuk dilakukan. Pantau apakah anak sudah tumbuh sesuai kurva pertumbuhan dan apakah perkembangan yang dicapai sudah sesuai usianya.

9. Prinsip developmental care

Salah satu upaya untuk meminimalkan dampak negatif selama perawatan bayi prematur adalah menjaga agar berat badan lahir rendah (BBLR) berada dalam kondisi yang optimal untuk tumbuh dan berkembang. Ini bisa dilakukan dengan menerapkan developmental care.

BACA JUGA: SIDS atau Sindrom Kematian Mendadak pada Bayi: Fakta dan Cara Meminimalkan Risikonya

Prinsip developmental care meliputi keterlibatan keluarga, meminimalkan stres, dan mengoptimalkan pemberian ASI, sebagai nutrisi yang terbaik bagi bayi. Pemantauan berkala, perawatan, dan penanganan khusus menjadi faktor penting bagi tumbuh kembang anak kelahiran prematur. Faktor kenyamanan dapat menurunkan metabolisme tubuh yang pada akhirnya dapat meningkatkan saturasi oksigen.

“Anak lahir prematur yang mendapatkan intervensi kenyamanan yang kondusif dapat memaksimalkan energi yang dimiliki untuk mendukung tumbuh kembangnya sehingga lebih cepat dalam mencapai kondisi kesehatan yang optimal,” pungkas dr. Putri.

orangtua anak berkebutuhan khusus

Menjadi orang tua—terutama untuk pertama kalinya—bukanlah hal mudah. Muncul banyak kekhawatiran dan ketakutan akan kehidupan baru ini. Hasil survei Studi Kebidanan Politeknik menunjukkan bahwa ada 42,9% ibu hamil di trimester 3 yang mengalami kecemasan ringan hingga berat. Ini terjadi karena mereka khawatir dengan kesejahteraan diri dan janin, proses persalinan, kehidupan setelah bersalin dan berganti peran menjadi seorang ibu.

Ya, terjadi perubahan fisik dan mental yang membuat orang tua baru terkadang kewalahan. Belum lagi, karena baru pertama kali menghadapi dunia ini, terkadang kita clueless dengan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jika tidak hati-hati, kita juga bisa terjebak pada mitos dan informasi yang tidak benar terkait mengurus anak dan keluarga.

Untuk membantu para orang tua, Mommies Daily akan menyelenggarakan Mommies Daily Power Hour Volume 2 pada 21-23 Januari 2022. Mengusung tema “New Parents Learning Days”, rangkaian event selama tiga hari ini diharapkan bisa menjadi tempat bagi para orang tua untuk recharge energinya dalam bentuk skill dan ilmu baru, serta waktu me-time untuk menyenangkan diri sendiri. Mommies Daily Power Hour Volume 2 ini hadir untuk memberikan suntikan tenaga agar kita bisa menjadi lebih baik lagi sebagai orang tua maupun sebagai individu.

Acara ini didedikasikan untuk para calon orang tua maupun orang tua baru yang masih banyak membutuhkan informasi maupun pengetahuan menjalani peran sebagai orang tua. Bahwa persiapan menjadi orang tua sebaiknya dimulai dari sebelum masa kehamilan,baik itu kesiapan secara fisik, emosi, mental hingga kesiapan finansial. 

Dalam acara ini, nantinya Mommies dan Daddies bisa mengikuti berbagai sesi webinar dan workshop menarik bersama dengan para ahli di bidangnya, mulai dari Annisa Steviani (Certified Financial Planner, Jiemi Ardian (Psikiater), dan masih banyak lagi. Mommies Daily Power Hour Volume 2 akan membahas tentang pernikahan dan hubungan dengan pasangan, mempersiapkan kehamilan, kehidupan setelah persalinan, hingga bagaimana re-parenting dan berdamai dengan inner child agar bisa menjadi orang tua yang sehat lahir batin.

Seru banget kan, Mommies? Jangan sampai ketinggalan untuk mengikuti acara Mommies Daily Power Vol 2, ya! Agar bisa terus terupdate dengan informasi terbaru seputar acara ini, pantengin terus media sosial Mommies Daily!

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top