Pembelajaran Jarak Jauh Sudah Setahun. Ini Pengalaman dan Harapan Para Mommies

Parenting & Kids

dewdew・31 Mar 2021

detail-thumb

Pembelajaran jarak jauh memberi orangtua banyak suka duka. Ini pengalaman dan harapan mommies yang mewakili jeritan hati kita semua.

Bulan Maret 2021 ini, genap sudah anak-anak (dan kita tentunya) menjalani PJJ alias Pembelajaran Jarak Jauh. Bagaimana mommies? Sudah ada berapa tanduk yang tumbuh di kepala? Kalau di rumah saya sudah memasuki Waktu Indonesia Bagian Terserah, deh, Ini Tugasnya Salah atau Benar, Yang Penting Dikerjain dan Dikumpulin, Ya, Nak? Yuk, yang rumahnya satu zona waktu sama saya tunjuk tangan. 

PJJ memang sebuah tantangan tersendiri, sih, buat orangtua selama masa pandemi. Tantangan bukan cuma buat fisik, tapi juga buat mental. Pasti ada waktu-waktu ketika pikiran dan energi sudah habis saat membantu anak-anak belajar di rumah. Saya ngobrol dengan beberapa teman seperjuangan, ini suka duka dan harapan mereka, yang sepertinya mewakili jeritan hati mommies semua. Ada yang sama?

Kemewahan 24 jam bersama anak

Kemewahan ini sebenarnya lebih banyak dirasakan sama orangtua yang tadinya bekerja 9 to 5 ke kantor. Kalau kata mommy Wita yang juga seorang karyawan swasta, bisa melihat tingkah laku anak dari bangun tidur sampai tidur lagi,  termasuk saat belajar, merupakan kebahagiaan tiada tara. “Dari situ kelihatan gaya belajar anak selama ini, yang sebelumnya saya cuma dengar dari guru, atau kalau pas mereka cerita.” Senada dengan Wita, Juli, ibu yang juga instruktur yoga ini merasa PJJ membuatnya jadi lebih dekat dengan gadis kecilnya dan mengenali langsung pola belajarnya. 

Baca juga: Rekomendasi Headphone Menggemaskan Buat Belajar di Rumah Saja

Pembelajaran secara mental untuk anak dan orangtua

Mommy Lia Hutomo yang seorang ibu rumah tangga merasa bahwa PJJ seperti pembelajaran baru secara mental. Benar-benar bisa menguras emosi pada suatu waktu. “Nggak semua orangtua memiliki waktu atau punya energi untuk jadi guru, sekaligus psikolog buat anak-anak.”  Tingkat stres orangtua dan anak sudah pasti meningkat, karena yang ngajarin dan diajarin jadi suka emosi sendiri. 

Terlatih mandiri saat belajar

Mommy Lia, Wita, Juli dan Christina, seorang ibu yang juga freelancer merasa bahwa anak-anak jadi terlatih kemandirian belajar, tanpa bimbingan guru sepenuhnya. Otomatis anak-anak belajar kontrol diri sendiri karena secara fisik nggak ada pengawasan dari guru, kan? Mereka bahkan  belajar living in a total digital world lebih cepat.

Mengenal teknologi terlalu cepat

Buat Lia, pengenalan teknologi pada anak di masa PJJ ini merupakan suatu hal yang baik. “Ini sebenarnya bagus untuk persiapan mereka di masa depan,” tambahnya. Lain Lia, lain pula mommy Christina. Buat dia pengenalan teknologi untuk anaknya yang baru duduk di kelas 1 SD adalah sebuah hal yang terlalu cepat. “Anak saya adalah tipe ngulik. Jadi mendapatkan laptop di usia segitu, membuat dia kebanyakan eksplor. Sebenarnya bagus, sih, tapi sekaligus saya jadi takut. Karena eksplorasi dia terkadang terlalu jauh. Semua-mua diklik. Sampai suatu waktu dia mengklik apa yang seharusnya dia nggak klik. Wah, kacau,” cerita Christina.  

Paparan gadget dan screen time yang lebih lama

Selain sisi positif, buat keempat mommies (tentunya buat sebagian besar mommies lain), sisi negatif PJJ ini salah satunya adalah paparan gadget dan screen time jadi terlalu lama dari biasanya. “Ini yang bikin saya khawatir, karena rasa keingintahuan anak yang seharusnya ia dapatkan melalui praktik pelajaran, sosialisasi dan aktivitas sekolah jadi pindah ke layar digital,” terang Christina. Lia pun menambahkan bahwa anak-anak jadi sangat minim sosialisasi dan aktivitas fisik. “Ini yang menurut saya membuat anak-anak gampang stres dan mudah menyerah.”

Pembelajaran Jarak Jauh membuat loss learning yang signifikan

Ketidakmerataaan sistem dan kualitas pendidikan di Indonesia sepertinya terlalu jomplang memang. Hal ini sebenarnya dimaklumi, karena banyak sekolah yang memiliki beragam keterbatasan, terutama di sekolah negeri. “Anak saya yang pertama belajar di sekolah swasta, yang menurut saya mumpuni. Kayak sekolah offline aja, deh, dari jam 7.30-13.00. Bedanya, kali ini full depan laptop. Nggak ngerepotin buat saya yang juga harus work from home,” cerita Wita.

“Sayangnya ini nggak berlaku buat adiknya yang di sekolah negeri, karena orangtua benar-benar semacam ‘diserahin’ gitu aja anaknya buat belajar,” keluh Wita. Keterbatasan macam kuota, ketidaksiapan tenaga pengajar terhadap dunia teknologi, hingga ketidakmampuan keluarga pelajar terhadap kepemilikan gadget merupakan beberapa alasan sekolah hanya bisa memberikan pertanyaan melalui form tanpa bimbingan yang in-depth. “Terasa sekali anak hanya belajar menjawab pertanyaan tanpa mengerti konteksnya. Saya khawatir anak saya jadi kehilangan banyak hal, terutama skill comprehension-nya. Seadanya banget, padahal ini usia emas buat anak belajar, kan? Kalau masih kayak gini, sepertinya tahun ajaran baru saya berpikir ulang untuk memasukkannya ke sekolah yang sistem pengajaran online-nya lebih mumpuni,” tutup Wita.

Antara berharap dan tak terlalu berharap

Sebagian mommies merasa bahwa sekolah sudah melakukan hal yang terbaik di dalam banyak keterbatasan. Seperti yang dipaparkan mommies Christina dan Wita, “Teachers are doing it well. Sisanya dalam kondisi pandemi seperti ini, tugas orangtua di rumah yang harus kejar. Ya, mau nggak mau, kan? Iya bikin stres, tapi mau diapain? SeIndonesia begini semua. Hahaha...”

Sementara Lia dan Juli berharap sekolah bisa lebih kreatif dalam memberikan konten ajaran. “Mengajar digital itu bukan hanya mengajar teks lalu dibacakan secara online. Tapi metodenya juga harus menarik secara digital, misal pasang video singkat yang relate dengan tema sesuai subjek ajaran,” harap Lia. “Guru harus kreatif dan punya mindset kalau kreatif tidak melulu harus ribet.” Juli berharap tugas yang diberikan juga lebih masuk akal dalam segi kuantitas. “Jangan langsung dikasih dalam waktu yang terlalu berdekatan aja kali, ya, karena dalam 1 minggu bisa dikasih banyak tugas. Orangtuanya ini, lho, yang juga kesulitan waktu dalam mengajarkan mereka di rumah.”

Baca juga: 8 Kesalahan Orangtua Dalam Mendidik Anak Sehingga Toxic Masculinity Merajalela

Siap tatap muka dengan syarat

Termasuk saya, sebagian mommies merasa siap untuk melepas anak-anak kembali belajar di sekolah, tentunya dengan berbagai syarat. Bukan, bukan karena sudah stres mengajarkan anak di rumah, tapi lebih kepada poin bahwa anak mengalami loss learning yang signifikan. Harus juga diingat, anak-anak tanpa sadar juga mengalami stres, bahkan bagi anak teman saya menjurus ke depresi. Ini yang harus dihindari. 

Syarat utama tatap muka di sekolah tentu proses protokol kesehatan yang ketat dan mumpuni, terbatas periodenya, dan nggak penuh di sekolah. Selain itu Lia juga menambahkan, bahwa ke sekolah nggak harus demi anak mendapatkan pengajaran materi silabus yang resmi, tapi justru didasari kepentingan sosialisasi dan praktik-praktik tertentu. Kalau bisa, banyakkin outdoor-nya juga. 

Bagaimana mommies? Keempat mommies di atas sudah mewakili jeritan batin belum? Terlalu banyak memang yang kita alami sebagai orangtua saat mendampingi anak-anak belajar di rumah saja. Terlepas dari tingkat stres yang memuncak dan tanduk di kepala yang udah muncul dari depan hingga belakang, pembelajaran jarak jauh sedikit banyak memberi kita pelajaran sebagai orangtua. Semoga kita segera sampai di momen kita bisa menertawakan hal ini saat mengingatnya, ya. Alias buruan ini pandemi segera berakhir.