Now Reading
Update COVID-19: Gejala Baru Long COVID Hingga 2 Varian Corona Berpotensi Jadi Satu

Update COVID-19: Gejala Baru Long COVID Hingga 2 Varian Corona Berpotensi Jadi Satu

Mitos varian baru Covid-19

Awal Maret 2021 nanti, nyaris setahun pandemi Corona jadi bagian yang tidak bisa terlepaskan dari keseharian masyarakat Indonesia. Apa saja berita update COVID-19?

Update Covid-19 #1: 90 Relawan Dibayar Rp 1,7 Juta Sehari, untuk Dipaparkan Virus COVID-19

Di Inggris hal ini dilakukan dengan alasan medis, yaitu uji klinis vaksin COVID-19. Seorang relawan akan sengaja dipaparkan virus SARS-COV-2. Ada 90 relawan sehat yang sebelumnya akan divaksin dulu, kemudian sengaja dipaparkan virus. Setelah itu mereka akan diamati selama 14 hari di ruang isolasi. Selanjutnya akan didata ada berapa yang jatuh sakit. 

Keamanan para relawan tetap menjadi prioritas utama, karena itulah para peneliti hanya menggunakan varial awal dari SARS-COV-2. Setelah program ini selesai, para relawan tak hanya mendapatkan kompensasi sekitar 1,7 juta sehari, tapi juga mendapat pemantauan kesehatan selama setahun.

Hmmm, kalau program sejenis dilakukan di Indonesia, apa mommies tertarik mendaftar?

Update Covid-19 #2: Pasien “Long COVID” Punya Gejala Baru – Rambut Rontok

Mommies tentu sudah familiar, ya, dengan istilah “Long COVID”, yaitu sejumlah gejala yang masih dirasakan para pasien COVID yang sudah negatif. Misalnya seperti dialami teman saya. Sudah 3 bulan dia negatif, namun indera pengecap untuk rasa asin belum berfungsi sempurna.

Apa yang dialami teman saya berbanding lurus dengan keterangan yang dilansir Times of India, National Institute for Health and Care Excellence (NICE), gejala long COVID umumnya terjadi selama 12 minggu. Namun menurut sejumlah penelitian lain, gejala ini bisa disebut sebagai long COVID jika sudah terjadi selama minimal 8 minggu.

Kini berdasarkan penelitian dari The Lancet, seperempat dari pasien COVID-19 yang sudah dinyatakan sembuh mengaku mengalami masalah rambut rontok, meski sudah dinyatakan sembuh dari COVID-19.

Hal ini juga terjadi di Wuhan, China. Dari 1.655 pasien COVID-19 yang diteliti, 357 di antaranya mengaku mengalami kerontokan rambut selama 6 bulan, setelah dipulangkan dari RS dan mayoritas gejala ini dialami oleh perempuan.

Gejala “Long COVID” tak hanya rambut rontok. Penelitian yang sama di Wuhan menyatakan, penyintas COVID-19 juga merasakan lelah berlebih, sulit tidur, cemas hingga depresi. 

Update Covid-19 #3: Efek COVID-19: Hilang Penciuman Berpotensi Bertahan Hingga 5 Bulan!

Mengutip Health Day, peneliti dr Nicolas Dupre, yang juga Direktur Klinik penyakit Neuromuskuler dan Neurogenetik di Laval University di Quebec, kehilangan kemampuan mencium cukup umum terjadi pada penyakit menular tapi pada COVID-19 efeknya jauh lebih penting.

dr Nicolas menjelaskan, pada virus lain, bau dan rasa biasanya kembali setelah sinus bersih. Tetapi pada COVID-19, virus mungkin menembus area kecil di otak yang disebut olfactory bulb, bagian ini penting untuk pengenalan penciuman.

Ia juga mengatakan, bahkan saat kemampuan itu kembali, kemampuan penciuman seseorang akan berbeda, sebelum virus menyerang. Meski ada risiko pada sebagian orang efek hilang sekian persen penciuman ini menjadi permanen, hal ini belum pasti, alias harus ada penelitian lanjutan. 

Nicolas dan timnya mengumpulkan data dari 800 petugas kesehatan yang terinfeksi virus COVID-19. Mereka diwajibkan mengisi survei online dan rangkaian tes di rumah, untuk kepentingan evaluasi indera perasa dan penciuman setelah sekitar lima bulan terpapar COVID-19.

Hasilnya, 580 orang kehilangan indra penciuman selama awal penyakit. Berdasarkan kelompok ini, sebanyak 297 peserta atau 51 persen mengaku masih belum mendapatkan kembali indera penciumannya lima bulan kemudian.

Dan sebanyak 134 peserta, secara konsisten kehilangan penciuman saat dievaluasi dengan tes di rumah. Sebanyak 527 peserta kehilangan indera perasa selama awal sakit.

Dari kelompok ini sebanyak 200 orang atau 38 persen, mengatakan mereka masih belum mendapatkan kembali indra perasa mereka lima bulan kemudian.

Sementara itu, sisa sekitar 73 orang atau 9 persen, terus-menerus melaporkan kehilangan indra perasa saat dievaluasi dengan tes di rumah.

Baca juga: Cara Membuang Sampah Masker Agar Tidak Menularkan Covid-19

Sejumlah Gejala Baru Ketika Seseorang Terpapar COVID-19

Merasa lelah dan lesu

Para ahli Inggris mengamati banyak pasien COVID-19 melaporkan bahwa mereka merasa lemah yang menyiksa. Hal ini merupakan tanda awak infeksi.

Pusing dan lemas

Sebetulnya dalam banyak kasus, gejala neurologis infeksi juga mempunyai gejala seperti pusing, kelelahan, dan mual. Namun semenjak merebaknya COVID-19, gejala semacam ini jadi membingungkan, apakah disebabkan COVID-19, atau hal lainnya.

Nyeri otot dan badan

Penyebab utama nyeri otot dan nyeri tubuh adalah mialgia, disebabkan virus yang menyerang serat otot dan lapisan jaringan yang penting. Infeksi yang meluas juga dapat menyebabkan nyeri sendi, kelemahan, dan nyeri tubuh.

2 Varian Corona Berpotensi Bergabung Jadi Satu

Kini giliran Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  menyuarakan hasil penelitiannya. Yaitu ada kemungkinan gabungan dua varian virus Corona menjadi satu dan membentuk mutasi baru. Berbeda dengan mutasi lainnya, jika dua varian baru bergabung atau rekombinasi, maka dikhawatirkan efektivitas vaksin berkurang.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain LIPI Wien Kusharyoto, “”Varian baru yang terbentuk mungkin saja menyebabkan efektivitas vaksin menjadi berkurang.” 

Gambaran lengkapnya seperti ini:

Rekombinasi terjadi ketika dua varian SARS-CoV-2 yang berbeda menginfeksi seseorang sehingga kedua varian tersebut saling menukar beberapa gennya. Ini akan menyebabkan mutasi bergabung membentuk varian baru.

Hal ini harus terus dipantau perkembangannya, untuk mendeteksi jika ada perubahan yang terjadi pada struktur virus. 

Sumber-sumber artikel:

Detik Heatlh

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top