4 Mitos Varian Baru Covid-19, Ini Faktanya

Self

Sisca Christina・15 Feb 2021

detail-thumb

Belakangan santer beredar informasi tentang varian baru Covid-19 yang muncul dari seluruh dunia. Cek faktanya berikut ini.

Sepanjang Covid-19 masih merebak, kita harus siap terpapar dengan berita-berita mengejutkan tentang perkembangan si virus satu ini. Salah satunya tentang varian baru Covid-19 yang beberapa bulan terakhir dikabarkan muncul di seluruh dunia: pertama di Inggris, kemudian Afrika Selatan, Brasil, dan sekarang ada di Amerika Serikat.

Buat masyarakat awam, berita semacam ini bisa bikin resah. Baru aja muncul secercah harapan dengan dimulainya program vaksin, yang diharapkan bisa melandaikan kurva kasus positif, eh, malah ada kabar seperti ini.

Bahkan, para ahli penyakit menular mengingatkan bahwa enam hingga 14 minggu ke depan bisa jadi periode paling kelam dari pandemi jika kita lengah. Nah, lho?!

Sebelum panik, lebih baik kita coba pahami dulu kondisi yang sebenarnya. Inilah empat mitos umum tentang jenis baru Covid-19 berikut penjelasannya, seperti dilansir dari Huffington Post.

4 Mitos Varian Baru Covid-19

Mitos 1: Jenis-jenis baru Covid-19 mengejutkan para ahli kesehatan

Ledakan isu sehubungan dengan jenis baru Covid-19 ini seolah-olah membuatnya muncul secara tak terduga. Padahal, menurut para ahli, situasi seperti ini bukanlah hal baru. Bahkan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) menjelaskan bahwa: “Virus terus berubah melalui mutasi, dan varian baru virus diprediksi muncul seiring waktu.”

Sejak awal pandemi, mereka sudah mengantisipasi kemungkinan berkembangnya dan menyebarnya varian baru SARS-CoV-2. Kabar baiknya, menurut Priya Soni, spesialis penyakit menular anak di Los Angeles, Cedars-Sinai Medical Center, Covid-19 tampak bermutasi lebih lambat daripada virus lain, seperti flu musiman.

Kabar lain menyatakan bahwa beberapa varian baru ini telah menyebar luas. Faktanya, varian tersebut sudah ada sebelum para ahli kesehatan benar-benar menyadarinya. Salah satunya disebabkan karena pengurutan genom virus belum cukup terjadi. Contohnya di Inggris: meski varian baru di Inggris terdeteksi pada November lalu, namun sebagian besar virus yang beredar sekarang adalah varian tersebut, yaitu mencapai 60%. Menurut Soni, "fakta ini menjelaskan bahwa varian tersebut sudah ada lebih lama sebelum ditemukan."

CDC juga mencatat bahwa beberapa varian, seperti jenis yang ditemukan di Afrika Selatan, muncul beberapa bulan sebelum gencar diberitakan.

Mitos 2: Varian Covid-19 lebih berbahaya

Saat ini, tidak ada yang tahu apakah varian baru lebih mungkin menyebabkan penyakit parah atau kematian.

Varian baru bisa saja lebih mudah menular, tapi, bukan berarti varian itu sendiri yang menyebabkan kematian. Menurut CDC, “varian baru yang menyebar lebih mudah dan cepat daripada varian lain, dapat meningkatkan jumlah kasus Covid-19, sehingga jumlah rawat inap dan kemungkinan kematian juga bisa meningkat.

“Secara umum, cara varian berevolusi dari waktu ke waktu menjadikan varian tersebut lebih menular, tapi tidak terlalu mematikan,” kata Eric Vail, direktur program patologi molekuler di Cedars-Sinai.

Mitos 3: Vaksin yang beredar saat ini tidak ampuh melawan varian baru Covid-19

Pada titik ini, vaksin Pfizer dan Moderna yang saat ini digunakan di Amerika terlihat ampuh melawan varian Covid-19 yang sudah diketahui, sampai level tertentu.

Memang, Moderna dan Pfizer sendiri sama-sama mengatakan vaksin mereka kurang ampuh melawan jenis Covid-19 yang beredar di Afrika Selatan. Namun, tidak berarti vaksin tersebut tidak bekerja dengan baik. Kedua produsen tersebut sedang mengerjakan booster yang mereka harap akan lebih efektif dalam memerangi varian Covid-19.

Serupa dengan itu, data baru tentang vaksin Covid-19 sekali pakai Johnson & Johnson, yang akan tersedia dalam beberapa minggu mendatang, menunjukkan bahwa vaksin tersebut tidak terlalu efektif untuk varian Afrika Selatan. Tapi sekali lagi, itu tidak berarti itu tidak berfungsi sama sekali.

Diharapkan, para produsen obat dapat dengan cepat menyesuaikan dan beradaptasi dengan varian baru yang muncul, terutama karena vaksin mRNA lebih dapat diprogram. Sementara Vail tetap menganjurkan agar masyarakat tetap mendapatkan vaksin kapanpun tersedia, jangan menunggu!

Baca juga: Kupas Tuntas Vaksin Covid-19 Sinovac yang Dipakai di Indonesia

Mitos # 4: Varian-varian ini, maupun yang akan datang tidak dapat dicegah

Meskipun varian Covid-19 yang baru menyebar dengan cepat, bukan berarti tidak bisa dicegah. CDC mengingatkan bahwa varian Inggris dapat menjadi varian yang dominan di Amerika pada bulan Maret. Walau kedengarannya mengejutkan, tetapi menerapkasn protokol kesehatan selama ini terbukti membantu memerangi jenis virus asli, dan membantu mencegah penyebaran varian.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Diketahui, negara maju seperti Inggris sudah melaporkan puluhan ribu varian ke bank genom dunia. Sementara, karena keterbatasan kemampuan, Indonesia melalui Lembaga Biologi Molekuler Eijkman baru melaporkan kurang dari 150-an varian virus Covid-19, seperti dikutip dari Kompas.

Dengan adanya varian baru, penerapan protokol kesehatan harus lebih ketat. Bila memungkinkan, perlindungan harus ganda. Sambil menunggu dapat giliran vaksin, ingat selalu untuk terapkan 5M + 3T berikut ya, mommies:

  • Memakai masker dengan benar
  • Mencuci tangan pakai sabun
  • Menjaga jarak minimal 1,5 meter
  • Membatasi mobilitas
  • Menghindari kerumunan atau keramaian
  • Tes
  • Tracing (pelacakan atau penelusuran)
  • Treatment (terapi, pengobatan, karantina dan isolasi mandiri)
  • Baca juga:

    Mulai Melanggar Protokol Kesehatan? Hati-Hati Pandemic Fatigue!

    Berbagai Macam Tes Covid-19, Mana yang Paling Akurat?