Now Reading
Saat Janin Alami Hidrop Fetalis, Apakah Itu?

Saat Janin Alami Hidrop Fetalis, Apakah Itu?

RachelKaloh
bakteri baik

Hidrop fetalis, kondisi ini dapat mengancam nyawa bayi ketika lahir.

Di beberapa negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia terdapat kasus hydrops fetalis (hidrop fetalis) yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara di Eropa maupun Amerika. Dilansir Alodokter.com, hal ini disebabkan tingginya frekuensi kasus thalasemia alfa, yaitu salah satu penyakit yang memengaruhi kemunculan hydrops fetalis. Lebih jelasnya, simak di sini!

Apa itu Hidrop Fetalis?

Hydrop Fetalis (Hidrop Fetalis) merupakan kondisi di mana terdapat pembengkakan parah pada dua atau lebih bagian tubuh janin dalam kandungan atau pada bayi yang baru lahir, misalnya pada organ paru dan jantung. Tentu kondisi ini sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawa bayi. 

Jenis berdasarkan penyebabnya

Ada dua jenis hydrops fetalis, yaitu Immune Hydrops Fetalis (IHF) dan Non-Immune Hydrops Fetalis (NIHF) dengan penyebab yang berbeda.

Immune Hydrops Fetalis (IHF) 

Atau Hidrop Fetalis Imun, terjadi akibat ketidakcocokan rhesus antara ibu dengan bayi yang ada di kandungannya, misalnya rhesus si ibu negatif, namun rhesus bayinya positif. Ketidaksesuaian ini membuat sistem kekebalan tubuh ibu menganggap bahwa sel darah bayi adalah beda asing yang perlu dihancurkan. Kebayang, kan, seperti nggak singkron jadinya? Bahkan, pada kasus yang parah, dapat terjadi penimbunan cairan yang parah pada tubuh bayi yang mengganggu fungsi organnya, yang disebut hydrops fetalis.

Hydrop fetalis imun ini dapat dicegah melalui deteksi dini saat ibu hamil menjalani pemeriksaan kehamilan. Jika terdapat ketidakcocokan rhesus darah ibu dengan bayi, maka ibu akan diberikan Rh immunoglobulin. 

Non-Immune Hydrops Fetalis (NIHF)

Atau Hydrops Fetalis Non-Imun, merupakan jenis hydrops fetalis paling umum, yang mencakup sekitar 90% kasus. Kondisi ini disebabkan oleh adanya penyakit tertentu yang mengganggu kemampuan tubuh bayi untuk mengontrol kadar cairan tubuhnya. Penyakit yang dapat menyebabkan hydrops fetalis non imun ini adalah kelainan darah seperti anemia parah dan thalassemia, kelainan kromosom, cacat bawaan lahir misalnya penyakit jantung bawaan, kelainan genetik seperti sindrom Turner, saat ibu mengalami toksoplasma kongenital, sifilis, gangguan matabolik, infeksi atau tumor. 

Cara mendeteksi Hydrop Fetalis

Deteksi dapat dilakukan dengan cara:

  1. Pemeriksaan ultrasonography (USG). Biasanya ditandai dengan adanya akumulasi cairan abnormal pada janin, pembesaran pada beberapa organ bayi, dan penebalan plasenta lebih dari 4 cm pada trimester kedua atau lebih dari 6 cm pada trimester ketiga. Tanda tersebut biasanya diikuti dengan gerakan bayi yang kurang aktif. Tentu, bayi dengan hydrops fetalis ini memiliki risiko lebih tinggi untuk terlahir prematur, bahkan risiko kematian, karena kondisi penyerta lainnya, seperti kelainan jantung bawaan, cacat bawaan, dan pembengkakan paru yang membuat bayi sulit bernapas.
  2. Pengambilan darah tali pusat yang dilakukan dengan cara menusukkan jarum ke rahim ibu hingga menembus tali pusat untuk mengetahui kemungkinan penyebabnya.
  3. Amniosentesis yaitu pengambilan sampel cairan amnion (air ketuban) yang dilakukan dengan menusukkan jarum ke arah rahim ibu hingga menembus selaput ketuban. Kemudian akan dilakukan analisis pada cairan tersebut untuk melihat kemungkinan adanya hidrops fetalis.
  4. Ekokardiografi yaitu pemeriksaan bagian dalam jantung, karena biasanya bayi yang mengalami hidrops fetalis juga memiliki struktur jantung yang tidak normal. 

Bila bayi lahir dalam keadaan Hidrop Fetalis

Penanganannya tidak selalu dapat dilakukan ketika janin masih berada di dalam kandungan. Pada sebagian kasus, dokter dapat memberikan transfusi darah kepada janin untuk meningkatkan peluangnya bertahan hidup setelah lahir. Ibunya pun harus dirujuk ke rumah sakit yang memang memiliki fasilitas lengkap untuk bayi baru lahir. 

Cara lain adalah melahirkan bayi lebih cepat, baik dengan merangsang persalinan melalui prosedur induksi atau dengan operasi caesar. Setelah bayi lahir, penanganan dapat dilakukan dengan cara: 

  • Penyedotan cairan berlebih dari tubuh bayi dengan menggunakan jarum.
  • Pemberian obat diuretik untuk mengeluarkan cairan berlebih melalui urin.
  • Pemberian oksigen atau pemasangan alat bantu pernapasan (ventilator) untuk membantu bayi
  •  bernapas.
  • Transfusi darah yang sesuai dengan golongan darah bayi pada hydrop fetalis imun.
  • Operasi untuk memperbaiki kelainan bawaan pada bayi atau untuk mengangkat tumor.

Cara Mencegah

Memang, tidak semua kasus hydrops fetalis dapat dicegah. Namun, untuk Hydrops Fetalis Imun, dapat dicegah dengan cara mengetahui golongan darah rhesus pasangan Mommies, pastikan Anda berdua memiliki rhesus yang sama, bahkan ketika masih merencanakan kehamilan. 

Baca juga:
12 Penyakit Kulit pada Bayi dan Anak
Berbagai Macam Vaksin Bayi dan Efek Setelahnya

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top