Now Reading
Anjay, Kenapa Harus Diributkan? Sebuah Komentar Orangtua

Anjay, Kenapa Harus Diributkan? Sebuah Komentar Orangtua

Stop meributkan larangan bilang anjay. Padahal, artinya saja nggak ada di kamus. Seriusan? Gemes saya tuh.

Mendengar kehebohan kata anjay yang sedang viral, sebetulnya ya, biasa-biasa saja. Kerjaan influencer dan para pengejar konten saja. Tapi lalu menjadi semakin ramai ketika Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menerbitkan pernyataan berjudul ‘Hentikan Menggunakan Istilah Anjay’ pada 29 Agustus lalu. Argumennya, kata ‘anjay’ bisa mengandung unsur kekerasan dan berkonotasi merendahkan martabat seseorang. Pelakunya bahkan bisa dikenai sanksi hukum sesuai dengan Undang-Undang No. 35/2014 tentang perlindungan anak. “Ini serius apa prank ya? Nggak ada masalah lain yang lebih fundamental?” pikir saya.

Lalu keanehan lain, anjay dibahas dan didiskusikan dengan serius oleh para ahli bahasa, aktivis anak, sampai anggota dewan. Dibedah dari segi arti, tafsiran, dan bagaimana dampak psikologisnya. Serius banget. Padahal, artinya saja nggak ada di kamus. Seriusan? Gemes saya tuh.

Kalau mau ditelisik, siapa sih yang memulai kegaduhan soal anjay? Bukan mau nyalahin, sah-sah saja, namanya aspirasi, kampanye, naikin viral, begitulah dunia medsos sekarang. Hanya, menyayangkan, yang punya jabatan berwenang, seharusnya bisa lebih selektif dalam memilih isu. Masalah anak di negeri ini masih bejibun. Ruwet bak benang kusut.

Sebetulnya menarik juga, membahas kata-kata kasar, umpatan, makian atau apalah namanya. Jika mau melihat gambaran yang lebih luas, umpatan itu sangat banyak jumlahnya. Anjay hanya sedikit remahan saja. Katakanlah, edukasi tentang dampak kata makian pada anak dan bagaimana mendidik generasi muda kita agar tidak mudah mengumbar kata kasar. Tentu, para orangtua juga sangat ingin agar anak terdidik moralnya.

Kosakata Tabu

Harus diakui, kebiasaan bicara kasar ini tingkatnya sudah parah. Terutama untuk anak yang mulai beranjak remaja. Saking parahnya, anak-anak ini tidak bisa membedakan, mereka sedang bicara dengan siapa. Dengan guru dan orang dewasa, juga tanpa sadar kata-kata itu mereka pakai. Dalam bahasa verbal maupun tulisan, di media sosial yang mereka gunakan. Pertanyaannya, darimana mereka menyerap kosakata tersebut kalau bukan dari para orang dewasa di sekitarnya? adi, kalau mau dilacak, cek saja, apakah di rumah ada yang sering bicara kasar? Bagaimana teman-temannya? Apa saja tontonannya? Siapa saja Youtuber yang ditontonnya?  

Apakah umpatan itu berbahaya, merusak moral generasi muda, dan merendahkan martabat orang lain? Perlu ada kajian yang mendalam soal ini. Kesalahannya tidak semata terletak pada kata. Sebuah kata terkait erat dengan budaya yang hidup dalam masyarakat setempat. Ada kosakata tabu yang umum dianggap melanggar standar kepekaan yang terkait dengan nilai agama ataupun norma sosial. Sebuah umpatan umumnya bisa masuk ranah pidana, ketika itu mengandung diskriminasi dan pelecehan seksual. Kalau alasannya ini, jelas, anak kita perlu dipagari. Namun juga, tidak semua umpatan juga bernada negatif. Ada juga umpatan yang sebetulnya dimaksudkan sebagai joke, memberi efek katarsis, atau sebuah respons dari rasa sakit.

Makanya, selain kitanya juga perlu menjaga ‘mulut’ di depan anak, menurut saya pribadi, anak perlu terpapar dengan bahasa yang bagus, supaya ia kaya akan perbendaharaan kata dan tahu cara untuk mengekspresikan dengan tepat. Salah satunya, dengan membaca buku-buku sastrawi. Kalau kosakatanya sedikit, anak lebih gampang terjebak mengucapkan kata-kata tabu, apalagi kalau sedang tren.   

Mana yang Toksik?

Ada kisah yang menarik soal ini yang bisa dijadikan renungan. Di sekolah anak saya, SMP, sekolah menerapkan kebijakan yang disebut piket akhlak. Dalam satu hari, ada satu anak yang bertugas ‘patroli’ mencatat temannya yang berucap kata-kata kasar. Konsekuensinya, terkena tugas menyapu. Daftar kata-kata tabu yang bisa membuat anak tercatat, kata anak saya, semua kata kasar dalam bahasa Indonesia, sebutlah k*nt*l, g*blk, b**gs*t, k*mpr*t, binatang-binatang seperti anjing, monyet, babi, dan sebagainya. Lalu, semua kosakata kasar dalam bahasa Inggris, seperti, c*nt, fck, b*tch, sh*t, d*ckh*d, dan lainnya. Lama kelamaan, batasannya menjadi semakin luas dan tidak jelas. Misalnya, semua kata yang berkonotasi anjing, seperti anjay, anjir, anj, dianggap toksik. Ada beberapa binatang yang dianggap toksik abu-abu, seperti unta, cumi, sapi, yang sering juga dipakai sebagai kata makian.

Kemudian, bagaimana dengan mereka yang menggunakan bahasa asing selain bahasa Inggris? “Ya nggak ada yang tahu, kecuali kalau anaknya sendiri mengaku,” cerita anak saya.

Ia menambahkan, “Yang nyebelin, kalau semua kata dari benda-benda yang ada di sekitar kita, bisa dianggap toksik, kalau teman tersinggung. Aku pernah ngatain temen, ‘pangsit’, ‘panci gosong’ eh, disuruh nyapu. Aku jadi kehabisan kata-kata.”

Pengakuan yang mengingatkan saya pada polemik larangan Komnas PA. Semua memang kembali ke intensi. Kalau niatnya merendahkan orang atau membully, pakai bahasa senetral apa pun, juga rasa bahasanya akan tertangkap. Jangan sampai nanti kita tidak bisa ngomong apa-apa lagi, karena semua kata diblacklist, terancam pidana. 

Baca juga:

Tipe Orangtua Saat Menemani Anak SFH

Memotivasi Anak Selama Pandemi Tanpa Omelan

6 Pelajaran Tentang Menjadi Orangtua dari Reggy Lawalata

View Comments (0)

Leave a Reply

© 2020 MOMMIES DAILY ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll To Top