Agar Efektif Berkomunikasi dengan Anak, Gunakan Tiga Bahasa Tubuh Ini

Tips efektif berkomunikasi dengan anak di segala usia ternyata bisa sangat terbantu dengan tiga bahasa tubuh ini.

Suka sebal nggak, kalau kita lagi ngomong sama seseorang, walau dijawab tapi matanya terpaku ke layar, atau sambil lewat? Seolah-olah kita dianggap angin lalu. Atau misalnya, ketika kita ditanya tapi yang bertanya sambil melotot? Mau bertanya, apa mau marah? Padahal bisa saja si penanya nggak ada maksud marah, emang gaya ngomongnya full ngotot saja. Yes, selain bahasa verbal, faktanya bahasa tubuh, atau komunikasi non verbal, memainkan peran besar dalam interaksi sosial kita sehari-hari.

Komunikasi verbal dengan anak juga termasuk, lho. Sebagai orang tua, apakah mommies memerhatikan bahasa tubuh yang digunakan saat berinteraksi dengan anak-anak? Tanpa disadari, mereka juga belajar dan memerhatikan bahasa tubuh kita.

Baca juga:

Contoh Komunikasi yang Efektif dan Tidak Efektif dengan Anak

Efektif Berkomunikasi dengan Anak - Mommies Daily

Photo by Jonathan Borba on Unsplash

Bahasa tubuh yang diingat anak

Sesungguhnya otak kita itu luar biasa, karena mampu membuat kita bertindak secara fisik untuk mengekspresikan aneka perasaan. Nah, terutama pada anak-anak dari segala usia, mereka mampu menerima isyarat non-verbal dengan cara yang kuat. Bahkan anak-anak yang dilahirkan tuli dan bertumbuh tanpa bimbingan orang dewasa saja, mampu mengembangkan bentuk bahasa isyarat mereka sendiri untuk mengomunikasikan pikiran dan perasaan satu sama lain.

Jadi ketika mommies tanpa sadar, nggak terlalu memerhatikan komunikasi non-verbal kita ke anak-anak, di saat bersamaan, anak-anak mempelajari bahasa tubuh kita. Nah, sebelum mereka mempelajari bahasa tubuh yang nggak enak dilihat, atau tidak pantas, berikut ini ada 3 bahasa tubuh yang efektif untuk berkomunikasi dengan anak, sekaligus bagus dipelajari oleh mereka.

Bahu selalu menghadap anak saat berbicara

Paling malas, kan, kalau ada orang yang ngomong sama kita, tapi kita dikasih punggung? Membelakangi orang yang kita ajak bicara memberi kesan bahwa kita itu sedang bosan dan nggak menghargai, lho. Itu juga yang kita ajarkan ke anak.

Cek lagi, deh, seberapa sering kita berbicara kepada anak-anak sambil sibuk melakukan hal lain, yang otomatis jadi membelakangi mereka. Luangkan waktu untuk menghentikan apa yang kita lakukan, ketika mengajak mereka bicara, hadapkan tubuh pada anak, dengan begitu otomatis kita memberi mereka rasa hormat dan perhatian yang layak mereka dapatkan.

Prioritaskan kontak fisik secara langsung

Kita pasti sudah paham betul bahwa skin to skin contact antara ibu dan bayi baru lahir sangat penting. Jangan berhenti ketika mereka sudah tumbuh besar. Sentuhan fisik sekadar mengelus pundak anak, membelai rambutnya, duduk dekat sambil baca buku bersama, pelukan sebelum tidur, juga tepukan di pundak ketika mereka sedih, terbukti membawa kehangatan di hati mereka. Sebuah studi baru-baru ini di Harvard telah menemukan bahwa orang-orang yang memiliki orang tua yang hangat dan penuh kasih sayang di masa kanak-kanak, hidupnya terasa lebih baik.

Fokus pada kontak mata

Dengan melakukan kontak mata saat bicara dengan anak-anak, secara tidak langsung kita memperdalam hubungan dengan anak. Di saat yang bersamaan pula, kontak mata kurang lebih membuka jalur komunikasi.

Dengan kontak mata mommies dapat menunjukkan pada anak, bahwa kita menghormati dan menghargai apa yang mereka katakan. Sekaligus mengajarkan mereka bahwa kontak mata merupakan keterampilan sosial yang penting.

Baca juga:

Kemampuan yang Kini Semakin Hilang di Kalangan Anak-anak: Komunikasi

10 Masalah Pola Asuh yang Sering Terjadi dan Solusinya

 


Post Comment