Hari Anak: Sebuah Pesan (Pertanyaan) untuk Orang Dewasa

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Sudahkah kita menjadi individu yang mampu memberi contoh teladan pada anak-anak kita? Tak hanya menyuruh dan meminta namun juga menjadi contoh bagi mereka?

Hari Anak Sedunia - Mommies Daily

Akhir-akhir ini, ketika membaca berita aktual, tak banyak kabar gembira yang menyejukkan. Malahan, ada banyak hal yang membuat prihatin. Mudahnya membenci orang hanya karena beda pilihan politik, mudahnya memanipulasi uang negara untuk kepentingan memperkaya diri. Pernah terpikir, bagaimana reaksi anak-anak ketika membaca berita di koran atau online?

Menyoroti hari anak internasional yang jatuh pada tanggal 20 November, banyak pihak amat berharap pada perbaikan sistem pendidikan. Banyak yang berharap muluk pada Menteri Pendidikan kita yang baru, seolah masa depan generasi muda hanya ada di tangannya seorang. Saya justru tertarik untuk mengulik komitmen kita, orang dewasa, yang akan segera menjadi generasi masa lalu, digantikan oleh anak-anak kita nanti.

Baca juga:

Sebelum Mengajarkan Anak, Sudahkah Kita Mengajar Diri Sendiri?

Seberapa siap menjadi orangtua yang menjalankan otoritas?

Sewaktu kecil, saya dididik dengan cara yang otoriter oleh orangtua yang menegakkan aturan dengan bentakan. Setelah punya anak, saya tidak ingin menjadi orangtua otoriter. Namun, saya juga tidak ingin menjadi orangtua yang terlalu membebaskan. Sebab, anak yang terlalu dibebaskan, akibatnya bisa runyam. Tentang bagaimana tarik ulur menanamkan ketaaatan pada anak, saya mendapatkan jawabannya dalam workshop parenting Habit of Obedience, yang dibawakan oleh Ellen Kristie. Menurut Ellen, ada satu kesamaan karakter yang dimiliki orang-orang besar, seperti tokoh agama, negarawan, dan pahlawan, mereka sama-sama hidup dalam ketaatan.

Ketaatan kepada tiga hal:

1. Hati nurani.
2. Hukum (baik itu hukum negara, hukum alam, maupun hukum kesehatan).
3. Taat kepada petunjuk dari yang Ilahi (divine direction).

Maka, jika ingin mendidik anak menjadi orang hebat, orangtua perlu melatihkan ketaatan kepada tiga hal tersebut. Ellen mengatakan, sebagai orangtua, “Ketika kita memberikan perintah kepada anak, dan dia menurut, yang sedang dia turuti itu sebenarnya siapa? Apakah kita? Bukan, melainkan Otoritas yang menitipkan anak kepada kita. Kita hanya kepanjangan tangan. Anak taat kepada kita karena kita perpanjangan tangan dari Otoritas, yang lebih besar dari kita,” jelas Ellen.

Ellen mencermati, anak-anak sangat cerdas dalam mengenali orang dewasa mana yang perlu ditaati dan mana yang tidak. “Anak bisa melihat, apakah kita siap jadi otoritas. Kalau kita tidak bisa menjadi otoritas atas diri anak, jangan heran jika kita akan kehilangan respek dari anak.” Karena itu, jika ingin menerapkan otoritas pada anak, sudahkah kita menjadi individu yang mampu memberi contoh teladan pada anak-anak kita?

Mewariskan bumi yang lebih lestari

Mempertahankan gaya hidup seperti sekarang mungkin terasa nyaman bagi kita, tetapi tidak bagi anak-anak kita nanti. Menggunakan mobil pribadi kemana-mana, meninggalkan sampah plastik, menggunakan produk yang menyerap konsumsi listrik tinggi, adalah beberapa gaya hidup sekarang yang akan mempercepat perubahan iklim. Jika ingin meninggalkan warisan berharga bagi anak-anak kita, tidak ada yang lebih berharga selain menjadikan planet ini tetap nyaman untuk mereka. Pertanyaannya, maukah kita berubah demi mereka?

Peduli kesehatan mental

Salah satu yang menjadi fokus Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah gangguan kesehatan mental di kalangan anak di bawah usia 18 tahun. Jumlahnya meningkat pesat dalam kurun 30 tahun terakhir, dan depresi adalah salah satu penyebabnya. WHO memperkirakan, pada 2016, sebanyak 62.000 remaja meninggal akibat melukai diri sendiri. Bunuh diri sekarang menjadi penyebab terbesar ketiga kematian pada remaja berusia 15-19 tahun. Selain menjadi tugas negara, kesejahteraan mental anak dan remaja ini perlu mendapat perhatian dari para orangtua. Kenyataan pahit ini bisa menjadi refleksi buat para orangtua, pernahkah kita membebankan ambisi kita pada anak?

Baca juga:

Kenali Tanda-tanda Anak Ingin Bunuh Diri

Melek literasi

Di zaman sekarang, kita sudah hidup di era post-truth. Semakin sulit membedakan antara berita hoaks dan berita yang bisa dipercaya. Lewat media sosial, derasnya informasi terjadi tanpa sempat kita saring. Bayangkan situasinya, akan seperti apa, pada masa anak-anak kita besar nanti. Kita perlu menyiapkan anak-anak menjadi generasi yang tidak gampang dimanipulasi oleh informasi yang tidak benar. Salah satunya dengan kemampuan literasi. Bukan hanya agar anak melek dengan dunia digital, tetapi yang lebih penting adalah mengembangkan kemampuan berpikir kritis anak sebagai bekal utama mereka. Jika kita ingin anak-anak punya kemampuan literasi yang baik, sudahkah kita juga menjadi pembaca buku yang baik?

Baca juga:

Cara Belajar Membaca yang Seru


Post Comment